Jateng

Perjalanan Klenteng Caow Eng Bio: Jejak Sejarah Konghucu yang Megah di Pulau Bali

Theo Adi Pratama | 7 Februari 2024, 12:00 WIB
Perjalanan Klenteng Caow Eng Bio: Jejak Sejarah Konghucu yang Megah di Pulau Bali

AKURAT.CO Sejarah, Pulau Bali, sebuah destinasi wisata yang mempesona dengan budaya yang kaya, tidak hanya menawarkan pesona alam yang memikat, tetapi juga menyimpan warisan bersejarah yang tak ternilai.

Salah satunya adalah Klenteng Caow Eng Bio, sebuah tempat ibadah bagi umat Konghucu yang berusia ratusan tahun.

Terletak di Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, klenteng ini menjadi titik penting dalam jejak keberadaan agama Konghucu di Bali.

Baca Juga: Mengenal Sejarah Cagar Budaya Klenteng Coklat: Kesejukan Spiritual di Tengah Hingar-Bingar Surabaya

Dibangun pada tahun 1548, Klenteng Caow Eng Bio merupakan salah satu klenteng tertua di seluruh Bali, bahkan menduduki peringkat kelima tertua di Indonesia.

Namanya sendiri, Caow Eng Bio, telah melekat sejak pembangunannya.

Sebagai satu-satunya klenteng di Indonesia yang memuja Dewi Laut Shui Wei Shen Niang, klenteng ini memiliki nilai sejarah yang luar biasa.

Baca Juga: Perjalanan Klenteng Sin Tek Bio: Jejak Sejarah Tertua di Jantung Pasar Baru, Jakarta

Menurut Dewan Pertimbangan Klenteng Caow Eng Bio, Nyoman Suarsana Ardika, klenteng ini awalnya hanya berupa tempat sembahyang kecil bagi para pelaut dari Pulau Hainan yang singgah di Teluk Tanjung Benoa.

Dengan tujuan berlindung dari badai, para pelaut ini mempersembahkan doa mereka di klenteng ini sebelum kembali ke China.

Seiring waktu, klenteng mengalami berbagai perubahan dan pemugaran.

Baca Juga: Perjalanan Klenteng Poncowinatan Yogyakarta: Keindahan Arsitektur, Sejarah, dan Kegiatan Keagamaan

Pada abad ke-19, Raja Badung Ida Cokorda Pemecutan ke-10 menghibahkan tanah tempat klenteng berdiri, yang kemudian dibangun prasasti di depannya.

Prasasti ini mencatat puluhan marga yang merupakan dermawan yang turut mendirikan klenteng ini.

Tak hanya prasasti, klenteng ini juga mempertahankan artefak bersejarah lainnya, seperti lonceng berusia 200 tahun dan altar persembahyangan utama yang asli didatangkan dari Desa Dong Chiao, Hainan.

Baca Juga: Sejarah Masjid Darussalam Temanggung: Kesejukan Spiritual dan Kebesaran Arsitektur

Keberadaan klenteng ini juga menjadi titik penting bagi wisatawan Taiwan atau China yang turut merasa terhubung dengan sejarah leluhur mereka.

Meskipun telah mengalami perubahan zaman, pengurus klenteng tetap gigih dalam upaya melestarikan tradisi persembahyangan dan persaudaraan.

Dengan prinsip kelestarian yang kuat, klenteng Caow Eng Bio tetap menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang agama Konghucu di Bali, serta menjadi destinasi spiritual yang memberi inspirasi bagi setiap pengunjung yang datang.

Melalui klenteng ini, kita dapat merenung tentang nilai-nilai keberagaman dan keberanian dalam mempertahankan warisan budaya, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan Pulau Bali.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.