Jateng

Sejarah Masjid Tua Jerrae Allakuang: Cagar Budaya Berusia 414 Tahun di Sulawesi Selatan

Theo Adi Pratama | 3 Februari 2024, 11:00 WIB
Sejarah Masjid Tua Jerrae Allakuang: Cagar Budaya Berusia 414 Tahun di Sulawesi Selatan

AKURAT.CO Sejarah, Masjid Tua Jerrae Allakuang, yang terletak di Desa Allakuang, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, bukan hanya sebuah tempat ibadah tetapi juga cagar budaya berusia 414 tahun yang menjadi bagian integral dari sejarah penyebaran Islam di wilayah Sidrap.

Dengan lokasinya yang satu kompleks dengan makam Syekh Bojo, tokoh penyebar Islam di Sidrap, masjid ini menjadi titik penting dalam jejak Islam di Sulawesi Selatan.

Baca Juga: Masjid Kauman Semarang: Menyimpan Sejarah Tertua Kota Semarang dan Saksi Kemerdekaan

Sejarah dan Pembangunan Masjid

Masjid Tua Jerrae Allakuang, dibangun pada abad ke-17, tepatnya pada tahun 1609 Masehi.

Inisiasi pembangunan masjid ini berasal dari tiga tokoh utama, yaitu Addatuang Sidenreng La Poatiroi, Nene Mallomo, dan Syekh Bojo.

Pembangunan masjid ini dilakukan satu tahun setelah Datu Sidenreng, La Poatiroi, masuk Islam.

Menurut Sub Koordinator Cagar Budaya dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidrap, Bakhtiar Said, masjid ini memiliki peran penting dalam sejarah Islam di Sulawesi Selatan.

Dengan dibangunnya masjid ini, masyarakat Sidrap memiliki tempat untuk melaksanakan ibadah dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.

Peran Tokoh-Tokoh dalam Pembangunan

Pembangunan Masjid Tua Jerrae Allakuang diinisiasi oleh Addatuang Sidenreng La Patiroi dan dibantu oleh Nene' Mallomo dan Syekh Bojo.

Nene' Mallomo, yang pada saat itu juga berstatus sebagai penasihat kerajaan Sidenreng, merupakan seorang tokoh intelektual, ahli pikir, ahli hukum, dan tata pemerintahan.

Sementara Syekh Bojo, atau Syekh Abdul Rahman, merupakan seorang ulama dari Arab yang turut serta dalam penyebaran agama Islam di Kerajaan Sidenreng.

Baca Juga: Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Masjid Agung Puro Pakualaman, Perpaduan Sejarah dan Keindahan Arsitektur

Asal Usul Nama "Jerrae" pada Masjid

Terdapat beberapa versi mengenai asal usul penamaan "Jerrae" pada masjid ini.

Menurut Bakhtiar Said, kata "jara'e" dalam bahasa Bugis lama berarti kuburan lama.

Hal ini dikaitkan dengan lokasi masjid yang berada di antara makam-makam, dan pemilihan nama ini diyakini didasarkan pada lokasi pendirian masjid yang berada di kompleks makam.

Imam Masjid Tua Jerrae, Indar, memberikan versi lain, bahwa "Jerrae" berasal dari nama sebuah kerajaan kecil di masa lalu.

Menurut kisah yang dihimpun, masjid ini berdiri di tanah milik keturunan kerajaan kecil tersebut.

Peran Masjid Sebagai Pusat Peradaban Islam

Masjid Tua Jerrae Allakuang bukan hanya menjadi tempat ibadah bagi masyarakat Sidrap, tetapi juga berfungsi sebagai pusat peradaban Islam pada masa awal Islam dikenal di sana.

Menurut Indar, masjid ini menjadi satu-satunya masjid di Sidrap pada zamannya, menjadikannya pusat pembelajaran Islam yang ramai didatangi orang dari berbagai daerah.

Baca Juga: Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Masjid Pathok Negara Babadan, Sebuah Warisan Sejarah dan Kehidupan Beragama di Kauman Babadan

Kontinuitas Sejarah dan Kehadiran Modern

Meskipun telah berusia ratusan tahun, Masjid Tua Jerrae Allakuang tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan dan terus ramai dengan jamaah.

Masjid ini dianggap sakral oleh sebagian besar jemaahnya, dan keberadaannya terus dijaga sebagai bagian dari sejarah dan warisan budaya Islam di Sulawesi Selatan.

Dengan statusnya sebagai cagar budaya dan sebagai salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan, Masjid Tua Jerrae Allakuang tetap menjadi saksi hidup perkembangan Islam di wilayah Sidrap.

Keunikan arsitektur dan nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya menjadikan masjid ini sebagai warisan berharga, tidak hanya bagi masyarakat Sidrap tetapi juga bagi seluruh Indonesia.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.