Jateng

Perjalanan Gereja Kecil Santa Maria: Keanggunan dan Sejarah dalam Batu di Jantung Jakarta Pusat

Theo Adi Pratama | 31 Januari 2024, 16:00 WIB
Perjalanan Gereja Kecil Santa Maria: Keanggunan dan Sejarah dalam Batu di Jantung Jakarta Pusat

AKURAT.CO Sejarah, Gereja Kecil Santa Maria, yang berdiri megah di Kompleks Biara Ursulin dan Sekolah Santa Maria, Jalan Juanda Nomor 29, Jakarta Pusat, adalah sebuah peninggalan bersejarah yang tetap kokoh hingga saat ini.

Dibangun pada tahun 1875, bangunan ini menjadi salah satu simbol keindahan dan keagungan dalam kompleks tersebut.

Baca Juga: Perjalanan Gedung De Majestic Bandung: Menyelusuri Jejak Sejarah dan Kesenian Kota Kembang

Restorasi yang Membangkitkan Keindahan

Interior kapel awalnya dirancang dalam gaya neo gotik yang penuh ornamen di dinding dan langit-langit.

Namun, seiring berjalannya waktu, kapel mengalami perubahan.

Pada suatu masa, interior yang semula begitu ramai dengan ornamen dibongkar dan disederhanakan.

Meskipun begitu, keindahan kapel tetap tidak berkurang.

Berkat upaya restorasi yang dilakukan oleh biro arsitek ternama, Hulswit Fermont, keelokan bangunan ini tetap terjaga.

Bahkan, kaca patri jendela, terutama yang berada di atas altar, berhasil dipertahankan, menambah daya tarik dan keaslian kapel.

Namun, bagi Suster Lucia Anggraini OSU, pengelola Museum Santa Maria di kompleks tersebut, keindahan kapel tidak hanya terletak pada arsitektur dan ornamennya.

Ada keindahan lain yang lebih mendalam, yaitu suara orgel pipa gereja.

"Sekian tahun lalu saya masih mendengar suara orgel pipa tersebut mengiringi koor biarawati di sini," ungkap Suster Lucia.

Baca Juga: Perjalanan Istana Maimun Medan: Jejak Sejarah yang Hidup dalam Sebuah Kebudayaan

Kebangkitan Perempuan dalam Sejarah Kapel Santa Maria

Kisah Gereja Kecil Santa Maria melibatkan perjuangan para suster dari Ursulin, yang tiba di Batavia pada 7 Februari 1856.

Tujuh suster Ursulin tersebut mendapatkan lahan dari Monseigneur Vrancken, Vikaris Apostolik Vikariat Batavia.

Pada 1 Agustus 1856, Suster Ursula Meertens, pemimpin komunitas, membuka pendaftaran murid baru.

"Para siswa tinggal di asrama karena orang tua mereka bekerja di perkebunan di luar kota. Tahun 1881, Sekolah Pendidikan Guru dibuka. Tahun 1896, asrama dihuni 108 siswa," tulis Windoro Adi.

Dengan berkembangnya jumlah murid, para suster memutuskan untuk memperluas area, termasuk membeli lahan untuk mendirikan Kapel Santa Maria.

Pembelian lahan terus berlanjut hingga 1896.

Kompleks Biara Ursulin dan Sekolah Santa Maria membentang dari Jalan Noordwijk sampai Jalan Batoe Toelis.

Baca Juga: Peristiwa Sejarah: Sejumlah Momen Penting yang Diperingati pada Tanggal 30 Januari Setiap Tahunnya, Hari Primata Indonesia dan Peringatan Lainnya

Keberlanjutan Sejarah dan Pendidikan

Seiring waktu, Biara Ursulin di Jalan Juanda 29 mengalami perluasan dengan membeli sejumlah rumah dan tanah.

Pada tahun 1859, Suster Andre van Gemert OSU membeli satu hotel beserta halaman luasnya seharga 35.000 gulden, yang kemudian dijadikan biara, asrama, dan sekolah putri bernama SMA Santa Ursula.

Pada tahun 2017, Sekolah Santa Maria mampu menampung 1.668 murid mulai dari tingkat TK hingga SMP dan SMK.

Kedua biara, yang besar di Jalan Juanda dan kecil di Jalan Pos 2, tetap berperan dalam melanjutkan tradisi pendidikan dan kemanusiaan.

Santa Maria masih memegang teguh komitmen untuk memajukan pendidikan perempuan.

Gereja Kecil Santa Maria tetap menjadi saksi bisu perkembangan sejarah dan pendidikan kaum perempuan di Indonesia.

Dalam keanggunannya, kapel ini mengabadikan jejak perjuangan, keberlanjutan, dan makna yang mendalam bagi masyarakat Jakarta Pusat.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.