Jateng

Perkembangan Gereja Kepanjen Surabaya: Perjalanan Sejarah dan Keindahan Arsitektur Sebuah Bangunan Ibadah

Theo Adi Pratama | 2 Januari 2024, 09:00 WIB
Perkembangan Gereja Kepanjen Surabaya: Perjalanan Sejarah dan Keindahan Arsitektur Sebuah Bangunan Ibadah

AKURAT.CO Sejarah, Gereja Kepanjen, atau lebih dikenal sebagai Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa), adalah salah satu peninggalan bersejarah di Surabaya.

Dibangun pada masa penjajahan, gereja ini tidak hanya memiliki keindahan arsitektur yang memukau tetapi juga menjadi simbol keberagaman budaya dan agama di Indonesia.

Mari kita telusuri lebih jauh mengenai sejarah dan pesona arsitektur Gereja Kepanjen.

Baca Juga: Sejarah Terbentuknya Candi Bahal: Bangunan Maha Karya Bersejarah di Sumatra Utara

Karya Arsitektur yang Memukau

Gereja Kepanjen memancarkan pesona keindahan arsitektur yang unik.

Bangunan ini mencerminkan kekayaan seni dan keindahan estetika pada masanya.

Penghargaan dari Komunitas Pelestarian Arsitektur Surabaya pada tahun 1996 menjadi bukti konkret akan keunikan dan keelokan arsitektur gereja ini.

Gereja Tertua di Surabaya?

Berdasarkan informasi dari Surabayarollcake, Gereja Kepanjen didirikan pada tahun 1899 dan dirancang oleh arsitek asal Semarang, W. Westmaas.

Meskipun sering dianggap sebagai gereja tertua di Surabaya, kenyataannya bukanlah yang pertama.

Sebelumnya, pada tahun 1822, telah ada gereja lain dengan gaya arsitektur Eropa yang didedikasikan untuk St. Perawan Maria.

Gereja tersebut merupakan hasil perkembangan dari rumah ibadah yang dibentuk oleh Pastor Hendricus Waanders.

Baca Juga: Misteri Bendungan Pamarayan: Jejak Sejarah dan Mistis Bendungan yang Ada Sejak Masa Kesultanan Ageng Tirtayasa

Perkembangan Gereja Kepanjen

Sejak pendiriannya pada tahun 1899, Gereja Kepanjen terus berkembang sejalan dengan pertumbuhan umat Katolik di Surabaya.

Awalnya dikelola oleh Pastor Hendricus Waanders, gereja ini menjadi paroki kelima di Indonesia pada tahun 1815.

Guna memenuhi kebutuhan akan tempat ibadah yang lebih besar, dibangunlah Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria di daerah Kepanjen, yang sekarang lebih dikenal sebagai Gereja Kepanjen.

Pengalaman Era Perang dan Renovasi

Pada tahun 1923, Gereja Kepanjen dikelola oleh Pastor Congregatio Missionaris dan menjadi bagian dari Keuskupan Surabaya.

Selama periode perang kemerdekaan Indonesia, gereja ini mengalami kerusakan akibat serangan bom dan kebakaran.

Namun, pada tahun 1949-1950, di bawah kepemimpinan Pastor P. A. Bastiansen CM, gereja ini direnovasi dengan mempertahankan arsitektur aslinya, meskipun menara yang tidak lagi digunakan.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah dan Cerita Masa Lalu Melalui Stasiun-Stasiun Tua di DI Yogyakarta

Renovasi dan Pemeliharaan Kecantikan

Pada tahun 1960, Gereja Kepanjen mengalami renovasi kecil dengan penggantian kaca jendela oleh karya Jaques Verheyen.

Renovasi ketiga dilakukan pada tahun 1996, menambahkan bagian menara gereja di samping kanan dan kiri pintu utama.

Pesona Gereja Kepanjen Saat Ini

Gereja Kepanjen, yang kini telah berusia lebih dari satu abad, tetap menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan keagungan arsitektur di Surabaya.

Sebagai bagian dari warisan budaya dan bangunan cagar budaya, gereja ini bukan hanya tempat ibadah tetapi juga destinasi wisata yang menawarkan keindahan estetika dan nilai sejarah.

Baca Juga: Melacak Jejak Sejarah: Stasiun-Stasiun Bersejarah yang Hadir dan Menghiasi di Jawa Barat

 

Gereja Kepanjen, dengan pesona arsitektur dan sejarahnya, menjadi bagian integral dari kekayaan budaya Surabaya.

Dengan berbagai perubahan dan perjalanan sepanjang waktu, gereja ini terus menjadi tempat yang memukau, merayakan keindahan seni dan perjalanan sejarah yang telah dilewatkannya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.