Jateng

5 Fakta Stasiun Tuntang: Jejak Sejarah yang Hidup dalam Serial Gadis Kretek

Theo Adi Pratama | 29 November 2023, 08:48 WIB
5 Fakta Stasiun Tuntang: Jejak Sejarah yang Hidup dalam Serial Gadis Kretek

AKURAT.CO, Penggemar serial Gadis Kretek pasti tidak asing dengan adegan mengharukan antara Dasiyah atau Jeng Yah (diperankan oleh Dian Sastrowardoyo) dan Soeraja (Ario Bayu) di sebuah stasiun setelah mereka sempat berpisah.

Ternyata, adegan tersebut diambil di Stasiun Tuntang yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga, tepatnya di Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

Baca Juga: Film Horor Panggonan Wingit: Meretas Kengerian Hotel Siranda di Balik Layar

Fakta Menarik Tentang Stasiun Tuntang

Usia Stasiun Tuntang: 152 Tahun

Stasiun Tuntang bukan hanya sekadar latar belakang indah dalam dunia perfilman.

Stasiun ini memiliki sejarah panjang yang mencapai usia 152 tahun.

Dibangun pada tahun 1871 oleh Netherlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), sebuah perusahaan kereta api swasta Belanda, stasiun ini resmi beroperasi pada 21 Mei 1873.

Meski kecil, Stasiun Tuntang memiliki peran penting dalam angkutan produk perkebunan seperti karet, gula, cokelat, dan kopi yang dikirimkan menuju Ambarawa lewat Stasiun Tuntang.

Baca Juga: Sejarah Istana Gergaji: Dari Megahnya Masa Lampau Hingga Berubah Fungsi Menjadi Kantor Regional 3 OJK Jateng DIY

Arsitektur Abad ke-20: Chalet NIS

Dalam serial Gadis Kretek, penonton dapat melihat keindahan arsitektur Stasiun Tuntang yang mengusung tema heritage.

Gaya arsitektur tersebut dikenal sebagai Chalet NIS, sebuah desain yang diperkenalkan oleh NIS dan digunakan untuk stasiun-stasiun yang dibangun pada awal abad ke-20.

Arsitektur Stasiun Tuntang mirip dengan Stasiun Bringin yang juga berada di jalur Kedungjati – Ambarawa.

Baca Juga: Misteri dan Keangkeran Piramida Rowosari: Destinasi Wisata Alternatif dengan Kisah yang Tak Terungkap

Sempat Berhenti Beroperasi dan Menjadi Museum

Pada 1 Juni 1970, Stasiun Tuntang mengalami masa ditutup sementara bersamaan dengan penutupan jalur Yogyakarta-Kedungjati.

Meskipun bersejarah, stasiun ini kalah bersaing dengan moda transportasi lain dan kendaraan pribadi.

Saat tidak beroperasi, Stasiun Tuntang diubah menjadi museum.

Pada tahun 2002, jalur Ambarawa-Tuntang dibuka kembali setelah mengalami renovasi, dan stasiun ini dilalui oleh kereta uap wisata atau kereta diesel vintage.

Rute kereta ini, dengan durasi perjalanan sekitar satu jam, menawarkan pengalaman wisata yang memukau melewati Rawa Pening, menjadikannya salah satu rute kereta api terindah.

Baca Juga: Hotel Siranda Semarang: Keanggunan, Kejayaan dan Misteri di Balik Sejarahnya yang Masih Terasa

Jalur Kereta Wisata

Saat ini, wisatawan yang ingin mengunjungi Stasiun Tuntang dapat bergabung dalam tur kereta uap wisata atau kereta diesel vintage dengan rute dari Museum Kereta Api Ambarawa ke Stasiun Tuntang (pp).

Harga tiket untuk menikmati pengalaman ini adalah Rp 100.000 per orang, dan pembelian tiket hanya dapat dilakukan secara offline pada hari keberangkatan.

Namun, perlu dicatat bahwa jadwal operasional kereta wisata dapat dilihat melalui akun Instagram resmi @kawisata, karena kereta ini hanya beroperasi pada hari dan jam tertentu.

Baca Juga: Panggonan Wingit: Film Horor Berdasarkan Kisah Nyata Salah Satu Hotel yang Ada di Semarang

Akan Menjadi Museum Lokomotif Diesel

Rencananya, Stasiun Tuntang akan difungsikan sebagai museum lokomotif diesel.

Informasi ini dapat ditemukan melalui akun Instagram resmi @kai121_.

Hal ini dilakukan karena sebagian besar lokomotif diesel elektrik yang diproduksi sebelum tahun 1970-an dan seluruh lokomotif diesel hidraulik di Jawa sudah hampir mencapai masa pensiun.

Proses preservasi dan perawatan dilakukan untuk mempertahankan kondisi mereka agar terhindar dari kerusakan.

Stasiun Tuntang bukan hanya menjadi saksi bisu dalam kisah cinta Dasiyah dan Soeraja dalam Gadis Kretek, tetapi juga menghadirkan sejarah panjang yang patut dihargai.

Dengan usianya yang mencapai 152 tahun, Stasiun Tuntang tetap hidup, menjadi destinasi wisata berharga, dan akan terus memberikan kontribusi dalam pelestarian warisan sejarah perkeretaapian Indonesia.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.