Jateng

Sejarah Istana Gergaji: Dari Megahnya Masa Lampau Hingga Berubah Fungsi Menjadi Kantor Regional 3 OJK Jateng DIY

Theo Adi Pratama | 29 November 2023, 16:29 WIB
Sejarah Istana Gergaji: Dari Megahnya Masa Lampau Hingga Berubah Fungsi Menjadi Kantor Regional 3 OJK Jateng DIY

AKURAT.CO Sejarah, Sebagai salah satu Kantor Regional 3 OJK Jateng DIY, gedung Kantor OJK di Semarang ini memiliki lokasi yang istimewa.

Terletak di Jalan Kyai Saleh Nomor 12-14, Kelurahan Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan, kantor ini memiliki sejarah panjang sebagai bagian dari Istana Gergaji yang juga dikenal sebagai Istana Balekambang.

Baca Juga: Kontroversi PSG vs Newcastle: Kontroversial Penalti dan Perbedaan Mengenai Aturan Handball di Liga Champions Maupun Premier League

Sejarah Megah Istana Gergaji

Istana Gergaji awalnya merupakan kepunyaan Oei Tiong Ham, seorang keturunan Tionghoa kelahiran Semarang pada 19 November 1866.

Pria ini dikenal sebagai raja gula dan konglomerat pertama Asia Tenggara pada masa Hindia Belanda.

Sebelum dimiliki oleh Oei Tiong Ham, istana ini punya saudagar Tionghoa, Hoo Yam Loo.

Namun, akibat bangkrut pada tahun 1883, Hoo Yam Loo menjual istana tersebut kepada Oei Tjie Sien, ayah dari Oei Tiong Ham.

Oei Tiong Ham kemudian mengembangkan Istana Gergaji menjadi tempat yang megah dan luas dengan fasilitas yang lengkap.

Berarsitektur gaya Eropa modern Inggris, istana ini melibatkan beragam pernak-pernik seperti gazebo, taman, dan bahkan kebun binatang mini.

Dengan luas sekitar 81 hektar, kompleks Istana Gergaji mencakup area yang sekarang menjadi kompleks Polda Jawa Tengah, Gedung Gubernur Jawa Tengah, Gedung DPRD Jawa Tengah, Kampus Universitas Diponegoro Peleburan, Perkantoran di Jalan Pandanaran, hingga Kampung Kali.

Baca Juga: Misteri dan Keangkeran Piramida Rowosari: Destinasi Wisata Alternatif dengan Kisah yang Tak Terungkap

Oei Tiong Ham: Miliarder Asia Tenggara

Oei Tiong Ham menjadi seorang miliarder melalui perusahaan warisan ayahnya, Kian Gwan Concern.

Dia dikenal sebagai taipan gula dengan mendirikan beragam pabrik gula seperti Rejoagung, Ponen, Krebet, Tanggulangin, dan Pakis, mencapai luas 7.082 hektar.

Pada tahun 1920-an, Oei Tiong Ham disebut sebagai miliarder se-Asia Tenggara, dengan kekayaan mencapai 200 Juta Gulden Antillen Belanda.

Namun, kejayaan Oei Tiong Ham mulai meredup ketika dia pindah ke Singapura pada tahun 1921, diduga akibat perselisihan dengan Hindia Belanda.

Dia meninggal pada tahun 1924, dan setelah kematiannya, perusahaan dan usaha-usahanya diwariskan kepada anak-anaknya.

Sayangnya, manajemen yang buruk membuat perusahaan bangkrut, dan pada tahun 1961, Pemerintah Indonesia menyita semua aset Oei Tiong Ham, termasuk Istana Gergaji.

Baca Juga: Miris! Bahasa Jawa Kian Terpinggirkan, Ini Langkah yang Perlu Digalakkan untuk Jaga dari Kepunahan

Dari Kejayaan ke Runtuhnya: Nasib Istana Gergaji

Setelah disita oleh pemerintah, Istana Gergaji yang dulunya memiliki luas 81 hektar, mengalami perubahan signifikan.

Seiring berjalannya waktu, sekitar 8 ribu meter persegi dari kompleks ini dipertahankan, sementara sisanya dialihfungsikan menjadi pemukiman penduduk, perkantoran, dan institusi-institusi penting seperti kompleks Polda Jawa Tengah, kantor Gubernur Jawa Tengah, Kampus Universitas Diponegoro Pleburan, dan lainnya.

Bangunan utama yang masih berdiri hingga sekarang, sebelum dihuni oleh Kantor Regional 3 OJK Jateng DIY pada tahun 2015, pernah digunakan sebagai lokasi latihan militer dan Kampus Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK).

Namun, pada 28 Juli 2020, bagian depan gedung mengalami keruntuhan, diperkirakan karena usia bangunan yang sudah sangat tua.

Baca Juga: 3 Bekas Hotel di Jantung Kota Semarang: Jejak Kelam Bangunan Bersejarah yang Sempat Berjaya

Peran OJK Jateng DIY dan Peninggalan Sejarah

Kantor Regional 3 OJK Jateng DIY kini menempati bangunan yang penuh sejarah ini sejak tahun 2015.

Meskipun mengalami kerusakan, bangunan tersebut tetap memiliki nilai sejarah yang tinggi.

OJK Jateng DIY telah berperan dalam mempertahankan warisan sejarah ini, sambil terus menjalankan tugasnya dalam mengawasi dan mengatur sektor jasa keuangan di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Seiring berjalannya waktu, semoga upaya untuk merawat dan memahami nilai sejarah Istana Gergaji dapat terus dilakukan, sehingga generasi mendatang dapat tetap mengenal dan menghargai warisan budaya yang ada di tanah air.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.