Jateng

Sejarah dan Perjalanan Masjid Agung Payaman: Keberkahan dan Kesakralan di Tengah Magelang

Theo Adi Pratama | 6 Februari 2024, 15:00 WIB
Sejarah dan Perjalanan Masjid Agung Payaman: Keberkahan dan Kesakralan di Tengah Magelang

AKURAT.CO Sejarah, Magelang, sebuah kota yang kaya akan sejarah dan warisan budaya, menyimpan sebuah tempat ibadah yang istimewa, yakni Masjid Agung Payaman.

Terletak di pinggiran Jalan Raya Secang, Magelang, masjid ini tidak hanya menjadi pusat peribadatan, tetapi juga menyimpan sejarah yang memikat serta keunikan dalam pelaksanaan ibadah berjamaah selama 24 jam nonstop.

Baca Juga: Perjalanan Sejarah Masjid Agung Tegal: Saksi Bisu Perlawanan dan Pusat Keislaman di Tengah Kota Bahari

Nama dan Sejarah Masjid

Meski cukup terkenal di Jawa Tengah, Masjid Agung Payaman tidak memiliki nama khusus.

Menurut H. Mudris, takmir Masjid Agung Payaman, nama "Masjid Agung" mungkin muncul dari sejarah panjang yang melekat pada masjid ini.

Di masa lalu, dua kiai terkenal di daerah Magelang, yaitu Kiai Haji Syirod dan Kiai Haji Dahlar, menjadi figur sentral.

Kiai Syirod, yang memangku masjid ini, dan Kiai Dahlar, kakek Mbah Mad Watucongol Magelang, menjadi tokoh-tokoh yang menciptakan sejarah masjid ini.

Pendiri Masjid

Meskipun tidak ada catatan resmi tentang tahun berdirinya, cerita turun-temurun menyebutkan bahwa Masjid Agung Payaman pertama kali dipugar oleh Kiai Ibrahim.

Kiai Ibrahim diakui sebagai sosok yang dianggap sebagai pendiri masjid ini.

Sejak saat itu, masjid ini terus menjadi tempat ibadah dan memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat sekitar.

Baca Juga: Perjalanan dan Peran Masjid al-Muttaqin Kaliwungu: Pusat Spiritual dan Sejarah Kebangkitan Islam di Kendal

Peran pada Zaman Penjajahan

Masjid ini bukan hanya tempat ibadah biasa. Pada masa penjajahan, pengajian umum atau majelis taklim pertama kali diselenggarakan di masjid ini pada tahun 1930-an.

Hubungan erat antara Kiai Syirod dan Kanjeng Bupati Magelang, R. Danuningrat, menjadi kunci terselenggaranya kegiatan ini.

Selain itu, masjid ini menjadi tempat transit Laskar Hizbullah pada masa perang kemerdekaan dan menjadi saksi bisu beberapa kegiatan penting di masa lalu.

Pengunjung Terhormat

Masjid Agung Payaman sering kali menjadi tempat di mana pejabat negara berkumpul untuk berdiskusi dan beribadah.

Beberapa tokoh terkemuka seperti K.H. Idham Chalid, Mr. Ali Sastroamijoyo, dan Mr. Wongsonegoro pernah mengunjungi masjid ini untuk berbincang mengenai masalah-masalah negara.

Sebuah tempat yang tidak hanya menjadi pusat keagamaan tetapi juga merangkul peran penting dalam dialog kebangsaan.

Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Masjid Jami Tegalsari Surakarta: Menara Spiritual dan Pusat Pendidikan

Jamaah yang Setia

Yang membuat Masjid Agung Payaman semakin istimewa adalah jamaahnya yang setia.

Sekitar seratus jemaah dari berbagai daerah, terutama Jawa Tengah, sengaja tinggal di sekitar masjid untuk mengikuti shalat berjamaah selama 40 hari.

Bahkan ada yang memilih untuk tinggal menetap sampai akhir hayat di kampung sekitar.

Keberadaan asrama sederhana yang dibuat oleh masyarakat setempat menjadi tempat tinggal sementara bagi mereka.

Administrasi yang Tertib

Dalam beberapa tahun terakhir, pengelolaan masjid menjadi lebih tertib secara administratif.

Masyarakat yang ingin "mondok" sementara di masjid harus didampingi dan bertanggung jawab.

Hal ini termasuk melapor kepada Ketua RT untuk memastikan keberlangsungan dan kesejahteraan para pengunjung.

Baca Juga: Sejarah Klenteng Hong San Kiong: Warisan Bersejarah dan Keberagaman Kota Jombang

Kesejukan Spiritual di Tengah Kehidupan

Ruang utama Masjid Agung Payaman menjadi saksi bisu berbagai peristiwa bersejarah dan kegiatan keagamaan.

Direnovasi oleh Bupati Magelang pada 1930-an, masjid ini tetap memancarkan kesejukan spiritual di tengah keramaian kehidupan sehari-hari.

Sebagai tempat yang sarat dengan sejarah dan nilai-nilai keagamaan, Masjid Agung Payaman terus menjadi penanda keberkahan di Magelang.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.