Jateng

Klenteng Eng An Kiong: Jejak Sejarah dan Kekayaan Budaya di Kota Malang

Theo Adi Pratama | 4 Februari 2024, 08:00 WIB
Klenteng Eng An Kiong: Jejak Sejarah dan Kekayaan Budaya di Kota Malang

AKURAT.CO Sejarah, Kota Malang, Jawa Timur, tak hanya terkenal dengan pesona alamnya yang memukau, tetapi juga menyimpan berbagai peninggalan sejarah yang menjadi saksi bisu perkembangan kota ini.

Salah satunya adalah Klenteng Eng An Kiong, sebuah bangunan bersejarah yang telah diakui sebagai salah satu cagar budaya di Kota Malang.

Baca Juga: Perjalanan Klenteng Cu An Kiong Lasem: Jejak Sejarah dan Kearifan Budaya di Kecamatan yang Bersejarah

Klenteng Tridarma Berusia Lebih dari 150 Tahun

Klenteng Eng An Kiong, yang terletak di Jalan Laksamana Martadinata No 1, Kota Malang, merupakan salah satu klenteng tertua di kota ini.

Bangunan ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang menyimpan nilai sejarah dan kekayaan budaya yang tak ternilai.

Berbeda dengan klenteng pada umumnya, Klenteng Eng An Kiong merupakan klenteng Tridarma yang digunakan untuk beribadah tiga kepercayaan sekaligus, yaitu Khonghucu, Taoisme, dan Buddha.

Klenteng ini bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi obyek wisata yang menarik minat pengunjung.

Sejarah Klenteng Eng An Kiong

Klenteng Eng An Kiong didirikan pada tahun 1825 oleh seorang tokoh militer bernama Liutenant Kwee Sam Hway.

Bangunan ini memiliki sejarah pembangunan yang melibatkan dua periode, di mana ruang tengah pertama kali dibangun pada tahun 1825, dan bangunan-bangunan lainnya dikerjakan pada periode 1895 hingga 1934.

Makna dalam nama Klenteng Eng An Kiong sangat mendalam, mengartikan istana keselamatan dalam keabadian Tuhan dan merupakan persembahan kepada Dewa Bumi.

Patung Dewi Bumi yang dibawa dari Tiongkok masih tetap ada, dijaga dengan baik, dan menjadi salah satu peninggalan berharga di klenteng ini.

Baca Juga: Perjalanan Klenteng Xian Ma: Puncak Keindahan Arsitektur dan Juga Sejarah Kota Makassar

Pemimpin dan Pengurus Klenteng

Liutenant Kwee Sam Hway, pendiri klenteng, menjadi pengurus klenteng hingga tahun 1863. Setelah wafat, putranya, Kwee Sioe Go, melanjutkan pengurusan klenteng.

Para pemimpin klenteng tersebut terekam dalam prasasti yang terletak di depan klenteng, memberikan rasa keberlanjutan dalam pengelolaan klenteng dari generasi ke generasi.

Keindahan Arsitektur dan Simbolisme Klenteng

Arsitektur Klenteng Eng An Kiong mencerminkan bentuk klenteng tradisional Cina.

Dengan ukiran dan lukisan yang kaya makna, bangunan ini menjadi daya tarik bagi pecinta seni dan sejarah.

Luas klenteng mencapai 5.000 meter persegi, dan di dalamnya terdapat 99 patung dewa dan dewi yang tersebar di seluruh ruangan.

Warna merah dan kuning mendominasi klenteng ini, dengan merah melambangkan kehidupan, kebahagiaan, dan keberanian, sedangkan kuning melambangkan keagungan.

Simbol naga yang menghiasi klenteng menggambarkan keperkasaan dan keberuntungan.

Baca Juga: Klenteng Dewi Kwan Im: Jejak Sejarah dan Tradisi Spiritual di Palembang

Manfaat sebagai Tempat Ibadah dan Wisata

Klenteng Eng An Kiong bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi obyek wisata yang diminati baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Masyarakat Tionghoa menggunakan klenteng ini untuk melaksanakan berbagai upacara ritual dan keagamaan.

Setiap hari Sabtu, Klenteng Eng An Kiong menyelenggarakan acara makan gratis, menciptakan suasana kebersamaan dan keberkahan bagi pengunjung.

Selain sebagai tempat ibadah, klenteng ini memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekitar dengan kegiatan sosialnya.

Klenteng Eng An Kiong di Kota Malang tidak hanya menjadi penanda waktu yang terus berjalan, tetapi juga saksi bisu perjalanan panjang Kota Malang sebagai pusat kebudayaan dan sejarah di Jawa Timur.

Keberadaan klenteng ini sebagai bagian dari cagar budaya turut mengukuhkan Kota Malang sebagai destinasi wisata bersejarah yang menarik untuk dijelajahi.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.