Jateng

Peninggalan Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Makam Ratu Malang, Jejak Sejarah di Puncak Gunung Kelir

Theo Adi Pratama | 21 Januari 2024, 14:00 WIB
Peninggalan Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Makam Ratu Malang, Jejak Sejarah di Puncak Gunung Kelir

AKURAT.CO Sejarah, Situs Makam Ratu Malang tidak hanya menjadi sebuah tempat peristirahatan abadi, tetapi juga menyimpan latar belakang sejarah yang kaya, terkait erat dengan tokoh utama yang dimakamkan di sana, yakni Ratu Malang dan Ki Panjang Mas.

Letak kompleks makam ini, yang terletak di sebelah timur Desa Kedaton, Kecamatan Plered, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memberikan kesan magis dengan berada di puncak Gunung Kelir, setinggi 99 meter di atas permukaan laut.

Baca Juga: Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Jejak Sejarah Stasiun Sedayu yang Sudah Sirna dan Bekas Rumah Dinas yang Masih Berdiri

Ratu Malang dan Ki Panjang Mas: Kisah Cinta dan Tragedi

Latar belakang sejarah keberadaan Situs Makam Ratu Malang diawali dengan kisah cinta dan tragedi antara Ratu Malang dan Ki Panjang Mas.

Ratu Malang, putri Ki Wayah, seorang dalang wayang gedog, awalnya adalah istri dari Ki Panjang Mas, seorang dalang terkenal di Mataram.

Saat Amangkurat I jatuh cinta pada Ratu Malang, yang pada awalnya adalah istri Ki Panjang Mas, konflik tak terelakkan pun terjadi.

Ki Panjang Mas menolak untuk menyerahkan istrinya kepada Amangkurat I, dan penolakan tersebut membawa konsekuensi tragis.

Prajurit Amangkurat I membunuh Ki Panjang Mas, dan jasadnya kemudian dimakamkan di Gunung Kelir.

Akhir dari kisah tragis ini menjadi titik awal bagi pembangunan kompleks makam yang monumental.

Baca Juga: Sejarah Gua Jepang 18 di Seloharjo, Bantul DIY: Jejak Misteri dalam Kedalaman Perut Bumi

Pembangunan Makam Ratu Malang

Makam Ratu Malang dibangun selama tiga tahun, dari tahun 1665 hingga selesai pada tanggal 11 Juni 1668.

Kompleks makam ini dibangun dengan menggunakan balok-balok batu putih untuk dindingnya dan tembok batu andesit untuk nisannya.

Amangkurat I memberikan nama tempat tersebut "Antaka Pura," yang artinya istana kematian atau tempat menguburkan jenazah.

Dalam kompleks ini terdapat dua puluh delapan nisan, yang terbagi dalam tiga lokasi.

Sembilan belas nisan berada di halaman depan, satu nisan berada di halaman belakang (nisan Dalang Panjang Mas), dan delapan nisan berada di halaman inti, termasuk nisan dari Ratu Mas Malang sendiri.

Jirat makam dibuat dari batu andesit dengan rincian berbentuk jajaran genjang dan empat belas buah berbentuk kurung kurawal.

Sementara itu, nisan yang terbuat dari tumpukan batu putih tidak memiliki jirat.

Baca Juga: Sejarah Sumur Jepang di Seloharjo, Bantul DIY: Sumur Segi Delapan yang Menyimpan Kabut Misteri Tak Terpecahkan

Keunikan Kompleks Makam dan Sendang Moyo

Selain nisan-nisan yang menggambarkan keberagaman kisah hidup, kompleks makam ini juga memiliki Sendang Moyo, sebuah kolam yang digunakan untuk menampung air hujan.

Sendang ini dikelilingi oleh tembok setinggi 3 meter dengan ketebalan tembok 2,1 meter.

Kolam lain dengan ukuran 6 x 6 meter berada di luar tembok keliling.

Temuan menarik lainnya adalah balok batu andesit yang dikenal sebagai kotak wayang dari dalang Ki Panjang Mas, menyiratkan bahwa tradisi wayang telah melibatkan tokoh-tokoh terkemuka seperti Ki Panjang Mas.

Masyarakat sekitar masih merawat dan menghormati makam ini sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dilestarikan.

Situs Makam Ratu Malang bukan hanya sebagai tempat bersejarah, tetapi juga menjadi saksi bisu kisah cinta, tragedi, dan kebijaksanaan masa lalu yang terukir dalam setiap batu dan sudut kompleks makam yang megah ini.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.