Jateng

Cerita Dibalik Museum Wayang: Misteri dan Kebudayaan di Balik Gedung Bersejarah Kota Tua

Theo Adi Pratama | 4 Januari 2024, 15:00 WIB
Cerita Dibalik Museum Wayang: Misteri dan Kebudayaan di Balik Gedung Bersejarah Kota Tua

AKURAT.CO Misteri, Kawasan Kota Tua di Jakarta Barat bukan hanya menawarkan keindahan arsitektur klasik, tetapi juga menyimpan aset sejarah dan budaya yang kaya.

Salah satu tempat yang menarik untuk dijelajahi di kawasan ini adalah Museum Wayang.

Terletak tidak jauh dari Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah, museum ini tidak hanya menyajikan koleksi seni wayang yang memukau, tetapi juga menyimpan aroma mistis yang memikat.

Baca Juga: Misteri Hantu Nusantara: Kisah Begu Ganjang, Legenda dan Cerita Mistis yang Mencengangkan di Sumatera Utara

Sejarah dan Lokasi Museum Wayang

Museum Wayang berlokasi di gedung tua bekas gereja bernama De Oude Hollandsche Kerk atau Gereja Lama Belanda, yang didirikan pada tahun 1640.

Gedung ini, yang memberikan nuansa Eropa yang kental, pernah roboh akibat gempa pada tahun 1808.

Namun, gedung ini kemudian dibangun kembali dan mengalami beberapa kali pergantian kepemilikan.

Pada masa kolonial Belanda, gedung ini pernah berfungsi sebagai gereja sebelum kemudian, pada tahun 1975, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mengubahnya menjadi Museum Wayang.

Museum ini menjadi rumah bagi ribuan koleksi, termasuk tokoh pewayangan dari Indonesia dan negara-negara lain seperti Malaysia, Thailand, hingga Suriname.

Gale-Gale: Boneka Mistis dari Sumatera Utara

Salah satu daya tarik utama Museum Wayang adalah koleksi boneka Gale-Gale asal Sumatera Utara.

Boneka ini tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga menyimpan sejarah dan legenda yang bersifat mistis.

Dipakai dalam upacara kematian di Pulau Samosir, boneka ini dipercaya akan dihuni oleh arwah yang meninggal.

Konon, pembuat boneka tersebut juga dikatakan meninggal beberapa saat setelah menyelesaikan boneka untuk digunakan dalam upacara.

Baca Juga: Misteri Hantu Nusantara: Bayi Trek, Arwah Bayi yang Menjadi Mitos dan Menghantui Tanah Jawa

Misteri di Balik Prasasti Batu dan Gamelan Sunda

Museum Wayang juga terkenal dengan cerita mistis yang mengelilingi beberapa objek di dalamnya.

Di lantai dua museum, terdapat koleksi gamelan Sunda yang diyakini memiliki hubungan dengan makhluk tak kasat mata.

Pengunjung dilarang membunyikan alat musik tersebut karena diyakini dapat mengganggu makhluk halus di sekitar gamelan.

Selain itu, sering terlihat penampakan anak kecil hingga wanita bergaun merah di dalam museum setelah sepi.

Beberapa pengunjung juga melaporkan bahwa gamelan tersebut dapat berbunyi dengan sendirinya di malam hari.

Kesan horor semakin terasa ketika memasuki bagian dalam museum dan menemui prasasti batu di lorong sekitar taman, yang merupakan nisan dan petunjuk tentang keberadaan makam tua.

Makam Misterius Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen

Gedung Museum Wayang dulunya satu area dengan pemakaman, dan prasasti batu di lorong museum menandai makam Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen.

Namun, keberadaan makamnya masih menjadi misteri.

Prasasti batu di Museum Wayang menutupi makamnya, sementara prasasti makamnya telah dipindahkan ke Museum Prasasti.

Berbagai versi mengenai kematian Jan Pieterszoon Coen juga menambah misteri seputar Museum Wayang.

Konon, ia meninggal karena kolera, tetapi ada juga versi yang menyebutkan bahwa ia mati dipenggal di Cirebon, dan kepalanya dimakamkan di tangga pertama di pemakaman Imogiri, Yogyakarta.

Baca Juga: Kisah Hantu Nusantara: Misteri dan Mitos Hantu Reng Tua Malem di Pulau Madura

Meskipun dihiasi dengan cerita misterius dan suasana yang kadang menyeramkan, Museum Wayang tetap menjadi destinasi menarik untuk para pecinta seni dan sejarah.

Pengunjung dapat menjelajahi koleksi seni wayang yang indah sambil merasakan aura mistis dan kebudayaan yang mendalam di balik dinding-dinding bersejarah Museum Wayang.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.