Sejarah dan Keindahan Gedung Grahadi: Pusaka Bersejarah di Tepi Kalimas, Surabaya

AKURAT.CO Sejarah, Gedung Grahadi, megah berdiri sejak tahun 1795, mengandung sejarah panjang yang mencerminkan perjalanan Surabaya dari masa ke masa.
Gedung yang awalnya menjadi tempat tinggal berbagai tokoh berpengaruh ini, kini telah menjadi rumah dinas Gubernur Jawa Timur.
Mari kita telusuri lebih dalam tentang keelokan dan sejarah Gedung Grahadi yang memikat.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah dan Cerita Masa Lalu Melalui Stasiun-Stasiun Tua di DI Yogyakarta
Pembangunan dan Pemilik Awal
Gedung Grahadi dibangun di lahan seluas 16.284 meter persegi di tepi sungai Kalimas.
Awalnya, tanah ini dimiliki oleh seorang Tionghoa yang kemudian dibeli oleh pemerintah dengan ganti rugi sekitar 1,5 sen atau segobang.
Pembangunan gedung dimulai pada tahun 1795 dengan dana sekitar 14.000 ringgit.
Penguasa Jawa Timur: Dirk van Hogendoorp
Dirk van Hogendoorp, seorang penguasa Jawa bagian timur, menjadi penghuni pertama Gedung Grahadi.
Pada tahun 1870, gedung ini beralih fungsi menjadi rumah Residen Surabaya.
Sejak itu, gedung ini menyaksikan banyak perubahan kepemilikan dan fungsi di sepanjang sejarahnya.
Baca Juga: Melacak Jejak Sejarah: Stasiun-Stasiun Bersejarah yang Hadir dan Menghiasi di Jawa Barat
Transformasi dan Renovasi
Pada tahun 1799-1809, Fredrik Jacob Rothenbuhler mendiami Gedung Grahadi.
Pada tahun 1802, arah hadap gedung yang semula menghadap Kalimas di utara, dipindahkan menghadap ke selatan.
Renovasi besar dilakukan pada tahun 1810 di masa pemerintahan Herman William Deandels, mengubah gedung menjadi gaya empire atau Dutch Colonial Villa.
Fungsi Selama Pendudukan Jepang
Selama pendudukan Jepang, Gedung Grahadi bertransformasi menjadi tempat tinggal Gubernur Jepang (Syuuchockan Kakka).
Gedung ini bahkan menjadi lokasi untuk pesta dansa dan sidang Raad Van Justitie (Pengadilan Tinggi).
Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah: Stasiun-Stasiun Tua di Jakarta yang Masih Bertahan Hingga Sekarang
Rumah Dinas Gubernur Jawa Timur
Sejak tahun 1870 hingga sekarang, Gedung Grahadi dijadikan rumah dinas Gubernur Jawa Timur.
Selain itu, para Presiden RI juga sering menjadikan gedung ini sebagai tempat peristirahatan dan singgah saat melakukan kunjungan kerja di Surabaya dan sekitarnya.
Gedung Grahadi bukan hanya sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga saksi bisu perjalanan panjang Surabaya.
Keindahannya yang tetap terjaga hingga kini membuatnya menjadi salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Pemuda dan Mahasiswa Jateng Didorong Perkuat Gerakan Antikorupsi, Alumni Kelas Antikorupsi Mulai Jalankan Rencana Aksi
- 2PT Pandawa LED Indonesia Buka Lowongan Admin Support di Semarang, Fresh Graduate Bisa Melamar!
- 3Infinix SMART 20e Segera Masuk Indonesia, Bawa Baterai 6.000mAh dan Layar 120Hz
- 4Kolaborasi Pegadaian dan BCA Digital Hadirkan Investasi Emas Mulai Rp10.000 via Aplikasi blu
- 5Kebakaran Lahan Balekambang Malam Hari, BAGANA Bergerak Cepat Bersama Warga dan Aparat Padamkan Api
- 6Sesa Creative Buka Lowongan Social Media Specialist, Content Creator, dan Graphic Designer di Semarang
- 7Rekomendasi Kabel Charger Pihak Ketiga Terbaik 2026: Bersertifikat, Awet, dan Terjangkau
- 8Atria Hotel Magelang Tunjukkan Kesiapan Gelar Acara Skala Besar, 1.500 Peserta Sosialisasi Jaminan Sosial Hadir
- 9Stunting Semarang Turun Jadi 4,49 Persen, Dinkes Perkuat Intervensi hingga Program MBG
- 10Bocoran iPhone 20 Pro: Layar Lebih Besar dan Desain Borderless






