Jateng

Bukan Kaleng-Kaleng! 7 Pemain Terbaik dan Legenda PSIS Semarang yang Pernah Ukir Sejarah Bersama Mahesa Jenar

Theo Adi Pratama | 24 September 2026, 10:29 WIB
Bukan Kaleng-Kaleng! 7 Pemain Terbaik dan Legenda PSIS Semarang yang Pernah Ukir Sejarah Bersama Mahesa Jenar
PSIS Semarang

JATENG.AKURAT.CO, PSIS Semarang adalah salah satu klub paling bersejarah dalam sepak bola Indonesia.

Berdiri sejak 1932, Mahesa Jenar telah melalui berbagai era kompetisi, dari Perserikatan hingga Liga 1 modern.

Klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar ini memang tidak sepopuler Persija atau Persib dalam hal jumlah trofi, tetapi jejak para pemainnya tetap dikenang.

Dua gelar juara paling bersejarah adalah Perserikatan 1987 dan Liga Indonesia 1999.

Di balik prestasi itu, ada banyak pemain hebat yang silih berganti mengenakan seragam kebanggaan Panser Biru dan Snex.

Beberapa di antaranya bahkan dianggap sebagai legenda hidup yang tak akan terlupakan.

Nama-nama seperti Ribut Waidi, Tugiyo, I Komang Putra, hingga Hari Nur Yulianto muncul sebagai sosok yang paling diingat.

Lantas, siapa saja pemain terbaik yang pernah membela PSIS Semarang? Berikut ulasan lengkapnya.

Baca Juga: Jejak Legenda: Pemain-Pemain Terbaik yang Pernah Berseragam Persib Bandung

Ribut Waidi: Legenda dengan Patung di Semarang

Ribut Waidi adalah nama yang paling sulit dibantahkan sebagai legenda PSIS Semarang.

Striker kelahiran Pati, 5 Desember 1962, ini membela Mahesa Jenar sejak 1984 hingga 1992.

Puncak kariernya terjadi pada 1987 ketika ia membawa PSIS menjuarai Kompetisi Perserikatan usai mengalahkan Persebaya Surabaya di final.

Ribut dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam turnamen tersebut. Namanya semakin melambung setelah mencetak gol tunggal kemenangan Indonesia atas Malaysia di final SEA Games 1987.

Gol itu menjadi medali emas pertama sepak bola Indonesia di ajang tersebut.

Untuk mengenang jasanya, Pemerintah Kota Semarang membangun patung Ribut Waidi di pertigaan Jalan Teuku Umar menuju Jalan Karangrejo Raya. Ia meninggal dunia pada 3 Juni 2012 akibat serangan jantung.

Baca Juga: Dari Bepe hingga Ismed Sofyan: Ini Deretan Pemain Terbaik yang Pernah Membela Persija Jakarta

Tugiyo: Maradona dari Purwodadi

Tugiyo dijuluki "Maradona dari Purwodadi" karena gaya bermainnya yang mirip legenda Argentina, Diego Maradona.

Meski hanya bertinggi 162 cm, kemampuannya mengolah bola membuat decak kagum.

Momen bersejarahnya terjadi pada final Liga Indonesia 1999. Gol semata wayangnya pada menit akhir membungkam Persebaya Surabaya di Stadion Klabat Manado, 9 April 1999.

Gol itu membawa PSIS meraih gelar juara Liga Indonesia. Sayangnya, cedera membuat namanya meredup setelah itu. Meski begitu, jasanya tetap dikenang oleh suporter Mahesa Jenar.

I Komang Putra: Kiper Tangguh Era 1999

I Komang Putra adalah kiper andalan PSIS Semarang pada musim 1999.

Pria kelahiran Denpasar, 6 Mei 1972, ini turut memberikan trofi juara Liga Indonesia bagi PSIS.

Berkat penampilannya yang impresif, Komang akhirnya menjadi kiper Timnas Indonesia untuk SEA Games 1999 dan Piala Asia 2000.

Selain PSIS, ia juga sempat membela Persema Malang dan pensiun bersama Persis Solo.

Hingga kini, jasanya tetap dikenang. I Komang Putra bahkan dipercaya sebagai pelatih kiper PSIS sejak musim 2019.

Muhammad Ridwan: Pemain Sayap Asli Semarang

Muhammad Ridwan adalah salah satu pemain asli Semarang yang memberikan kontribusi besar bagi PSIS.

Beroperasi sebagai pemain sayap kanan, Ridwan mampu mencatatkan 20 gol dari 72 penampilannya selama tiga musim beruntun bersama PSIS.

Keberhasilannya di klub membuka pintu Timnas Indonesia untuknya. Setelah pensiun, Ridwan terus berkiprah dalam dunia sepak bola sebagai pelatih.

Namanya selalu diingat sebagai salah satu pemain sayap terbaik yang pernah dimiliki Mahesa Jenar.

Hari Nur Yulianto: Legenda Hidup dan Top Skor Sepanjang Masa

Hari Nur Yulianto atau yang akrab disapa Mukri adalah legenda hidup PSIS Semarang.

Striker berusia 36 tahun itu memperkuat Laskar Mahesa Jenar sejak musim 2013/2014 sebelum meninggalkan PSIS pada 2023.

Selama satu dekade memperkuat PSIS, ia tampil dalam 183 pertandingan dan mencetak 69 gol.

Catatan itu menjadikannya top skor sepanjang masa klub di era Liga Indonesia.

Pada Juni 2026, PSIS resmi memulangkan Hari Nur untuk menyongsong Championship 2026/2027.

Kehadirannya diharapkan menjadi pemantik semangat baru bagi skuad dan suporter.

Ia kembali menggunakan nomor ikonik 22, nomor yang telah menjadi simbol perjalanan dan loyalitasnya bersama PSIS.

Ali Sunan: Kapten Juara Liga Indonesia 1999

Ali Sunan adalah kapten PSIS Semarang saat meraih gelar juara Liga Indonesia pada 1999.

Pada tahun yang sama, ia dinobatkan sebagai pemain terbaik Liga Indonesia.

Kepemimpinannya di lapangan menjadi salah satu faktor kunci kesuksesan PSIS meraih gelar bersejarah tersebut.

Ali Sunan dikenal sebagai pemain yang memiliki kemampuan teknis brilian serta kontribusi besar dalam membangun serangan.

Namanya selalu disebut sebagai salah satu legenda terbesar Mahesa Jenar.

Emanuel De Porras: Striker Ikonik Asal Argentina

Emanuel De Porras adalah striker asal Argentina yang menjadi salah satu ikon PSIS Semarang.

Ia dikenal sebagai penyerang haus gol yang membuat pertahanan lawan kewalahan.

Bersama PSIS, De Porras menunjukkan ketajamannya di lini depan. Namanya sejajar dengan legenda-legenda PSIS lainnya seperti Indriyanto Nugroho.

Meski tidak bermain lama, jejaknya tetap dikenang oleh suporter Mahesa Jenar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.