Jateng

Arsenal Raja Bottle Jobs? Kutukan Akhir Musim Kembali Menghantui Meriam London di Tahun 2026

Theo Adi Pratama | 22 Februari 2026, 14:32 WIB
Arsenal Raja Bottle Jobs? Kutukan Akhir Musim Kembali Menghantui Meriam London di Tahun 2026

JATENG.AKURAT.CO, Musim ini seharusnya berbeda untuk Arsenal. Setelah dua kali finish sebagai runner-up di belakang Manchester City, dan musim lalu harus puas di bawah Liverpool, para penggemar The Gunners tentu berharap tim kesayangannya bisa bangkit dan merebut tahta Premier League yang sudah 22 tahun lama mereka nantikan.

Tapi, apa daya, sepertinya setan bottle jobs atau istilah untuk tim yang gagal mempertahankan keunggulan di saat-saat krusial, masih betah bersarang di Emirates.

Jangan-jangan, ini sudah jadi takdir? Tak bisa dipungkiri kalau performa Arsenal belakangan ini bikin kita menggaruk-garuk kepala.

Awal tahun 2026 ini seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai. Padahal, beberapa bulan lalu, mereka tampil begitu meyakinkan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Musim Dingin yang Kelabu di Emirates

Mungkin banyak yang gak nyadar, atau mungkin sengaja tutup mata, tapi awal tahun 2026 ini adalah periode terburuk Arsenal dalam beberapa musim terakhir.

Sejak pergantian tahun, mereka sudah memainkan delapan pertandingan liga. Hasilnya? Cuma tiga kali menang! Sisanya, empat kali seri dan satu kali kalah di kandang dari Manchester United.

Total, mereka kehilangan 11 poin. Jumlah yang sangat signifikan di perburuan gelar juara.

Bagi fans yang sudah menanti-nanti, ini mengingatkan pada musim lalu, di mana Arsenal juga jeblok di penghujung musim dan akhirnya harus rela melihat Liverpool melaju mulus di puncak.

Harapan yang Pupus: Seharusnya Bisa Berbeda

Musim ini, banyak yang percaya Arsenal sudah belajar dari kesalahan. Skuad mereka makin matang, mental juara seharusnya sudah tertanam.

Mereka bahkan sempat memuncaki klasemen dengan nyaman. Tapi, masalah lama muncul lagi.

Konsistensi yang hilang di saat genting. Entah karena tekanan, cedera pemain kunci, atau memang faktor mental, yang jelas tim asuhan Mikel Arteta kembali menunjukkan kerapuhan yang sama.

Akibatnya, Manchester City yang tadinya tertinggal jauh, kini hanya berjarak dua poin saja. Dan kita tahu, City punya pengalaman dan naluri juara yang berbahaya.

Dilempar ke Hadapan Serigala: Dramanya Lawan Wolves

Puncak dari semua kekecewaan ini terjadi di laga tengah beberapa waktu lalu. Arsenal bertandang ke markas Wolves, tim yang saat itu berada di dasar klasemen.

Seharusnya ini laga mudah. Benar saja, di menit ke-56, Piero Hincapie membawa Arsenal unggul 2-0. Saat itu, peluang menang menurut statistik mencapai 98,1 persen!

Gimana gak yakin? Tapi, eh, bola itu bundar. Di menit ke-60-an, pertahanan Arsenal yang biasanya kokoh mulai keropos.

Mereka gagal membersihkan bola dari tendangan pojok, dan Hugo Bueno dengan leluasa melepaskan tembakan indah dari luar kotak. Skor jadi 2-1.

Puncak dramanya terjadi di menit ke-94. Sebuah kesalahan fatal! David Raya dan Gabriel Magalhaes, dua pemain yang biasanya solid, salah komunikasi.

Mereka berdua berebut bola yang sama, dan Raya hanya bisa memantulkannya ke arah Tom Edozie.

Tendangan Edozie kemudian mengenai Riccardo Calafiori dan membelok masuk ke gawang.

Gol bunuh diri yang menyakitkan! Hasil imbang 2-2. Arsenal kehilangan dua poin penting di detik-detik akhir.

Data Bicara: Kerapuhan yang Sistemik

Kegagalan ini bukan sekadar sial. Data menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Sepanjang 2026, Arsenal sudah kehilangan tujuh poin dari posisi unggul.

Hanya West Ham dan Crystal Palace (yang sama-sama terancam degradasi) yang catatannya lebih buruk.

Yang lebih parah, menurut Opta, ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Premier League tim papan atas kehilangan keunggulan dua gol atau lebih saat melawan tim juru kunci. Arteta sendiri mengakui, timnya hanya bisa menyalahkan diri sendiri.

"Kita harus berkaca pada diri sendiri. Performa di babak kedua tidak sesuai standar yang dibutuhkan untuk menang di liga ini," ujarnya lesu.

Definisi "Bottle Jobs" dalam Konteks Arsenal

Istilah "bottle jobs" dalam sepakbola merujuk pada tim atau individu yang gagal mempertahankan performa atau keunggulan di saat-saat menentukan, biasanya karena tekanan mental.

Arsenal, dalam beberapa tahun terakhir, kerap mendapat cap ini. Meskipun ada yang berargumen bahwa finish kedua tiga kali beruntun bukanlah kegagalan, sulit untuk menyangkal bahwa kehilangan poin besar dari posisi aman, apalagi melawan tim lemah, adalah ciri khas dari bottle jobs.

Kini, dengan derbi London Utara melawan Tottenham yang sudah di depan mata, tekanan itu akan semakin terasa.

Manfaat dan Risiko dari Tekanan Derbi

Derbi London Utara bukan sekadar laga biasa. Bagi Arsenal, ini adalah kesempatan untuk membungkam kritik dan menunjukkan mereka masih punya nyali. Kemenangan bisa mengembalikan kepercayaan diri.

Tapi risikonya besar. Jika kalah atau bahkan seri, sementara City terus menang, jarak bisa semakin tipis.

Tottenham, musuh bebuyutan, pasti akan berusaha keras menjadi "katalis" kehancuran Arsenal. Mereka ingin menjadi tim yang membuat The Gunners benar-benar "bottle it" musim ini.

Kesalahan Umum yang Sering Terjadi

Dari rangkaian kejadian ini, ada beberapa kesalahan umum yang bisa dipelajari:

  • Salah Komunikasi: Insiden Raya dan Gabriel adalah contoh klasik. Komunikasi yang buruk di lini belakang bisa berakibat fatal, apalagi di menit-menit akhir.
  • Kehilangan Fokus: Unggul dua gol seringkali membuat pemain lengah. Mereka berpikir pertandingan sudah selesai, padahal lawan belum menyerah.
  • Kegagalan Membersihkan Bola: Gol pertama Wolves berawal dari bola mampet yang gagal dibersihkan dengan sempurna. Ini adalah kesalahan mendasar yang seharusnya tidak terjadi di level Premier League.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apakah Arsenal masih punya peluang juara?
Secara matematis, masih. Tapi, dengan performa saat ini dan konsistensi Manchester City, peluang itu semakin menipis. Mereka harus segera bangkit dan memenangkan hampir semua sisa laga.

2. Apa yang salah dengan Arsenal?
Banyak faktor. Mulai dari cedera pemain, kelelahan, tekanan mental, hingga kegagalan memanfaatkan peluang di saat krusial. Kombinasi dari semuanya menghasilkan performa inkonsisten.

3. Apakah Mikel Arteta harus disalahkan?
Sebagai manajer, Arteta bertanggung jawab penuh atas performa tim. Tapi, ia juga sudah melakukan banyak hal baik. Keputusan taktis dan motivasi tim di saat-saat genting menjadi sorotan utama.

4. Kapan Arsenal akan bangkit?
Harapannya adalah secepatnya, dimulai dari laga derbi melawan Tottenham. Laga ini bisa menjadi titik balik atau justru titik nadir musim mereka.

Saatnya Berdiri Tegak

Jadi, ini adalah ujian sesungguhnya bagi mentalitas Arsenal. Apakah mereka akan terpuruk dan membiarkan cap bottle jobs melekat selamanya, ataukah mereka akan "berdiri tegak" seperti yang dikatakan Arteta?

Laga melawan Tottenham bukan hanya soal tiga poin, tapi soal harga diri dan pembuktian. Bagi para pemain, staf pelatih, dan terutama fans, ini adalah saat-saat yang menegangkan.

Kita semua berharap Arsenal bisa bangkit, tapi kekhawatiran akan kegagalan lagi-lagi menghantui.

Mari kita saksikan bersama, apakah The Gunners bisa melewati badai ini atau justru tenggelam di dalamnya. Yang jelas, Premier League musim ini masih panjang dan penuh kejutan. Siap-siap aja!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.