Jateng

Kebakaran Gunung Lawu Masih Ditangani, Personel Gabungan Perkuat Sekat Api dan Lindungi Sumber Air Warga

Muhammad Husni Mushonifi | 23 Oktober 2026, 18:24 WIB
Kebakaran Gunung Lawu Masih Ditangani, Personel Gabungan Perkuat Sekat Api dan Lindungi Sumber Air Warga

JATENG.AKURAT.CO, Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Lawu, Jawa Tengah, terus dilakukan melalui operasi gabungan yang melibatkan unsur pemerintah, TNI, Polri, dan relawan kebencanaan. Pada Jumat, 23 Oktober 2026, personel gabungan disebar ke sejumlah titik untuk memantau kondisi lapangan, membuat sekat api, serta mengamankan jalur pipa air bersih yang dimanfaatkan masyarakat.

Relawan Banser Siaga Bencana (BAGANA), Nooryanto, mengatakan penanganan karhutla saat ini difokuskan pada upaya mencegah api meluas, memeriksa titik-titik yang masih berpotensi menyimpan bara, dan melindungi fasilitas vital masyarakat, terutama jaringan distribusi air bersih.

Menurut Nooryanto, upaya penanganan membutuhkan kesiapsiagaan personel dan koordinasi lintas instansi karena kawasan terdampak memiliki sejumlah titik yang harus terus dipantau. Selain memastikan kondisi lapangan, petugas juga berupaya memperkuat sekat bakar untuk menghambat pergerakan api menuju area lain.

“Penanganan di lapangan tidak hanya berfokus pada pemantauan titik kebakaran, tetapi juga pembuatan sekat api dan pengamanan jalur pipa air bersih yang digunakan masyarakat. Semua unsur harus tetap siaga agar kebakaran tidak meluas dan keselamatan personel maupun warga tetap terjaga,” ujar Nooryanto.

Berdasarkan laporan penanganan karhutla pada Jumat, operasi dilakukan melalui sejumlah posko, yakni Pos Aju Cemoro Kandang, Pos Aju Cetho di Kecamatan Jenawi, serta Pos Induk Gondosuli. Pos Aju Tambak juga masuk dalam rencana kegiatan pemantauan dan pembuatan sekat bakar yang dikoordinasikan dalam rangkaian penanganan kebakaran.

Di Pos Aju Cemoro Kandang, sebanyak 24 personel diberangkatkan untuk melakukan pemantauan di Pos 1 sekaligus membuat sekat api. Sementara itu, 14 personel lainnya tetap bersiaga di posko untuk mendukung kebutuhan operasi.

Pembuatan sekat bakar menjadi salah satu langkah penting dalam mengendalikan penyebaran karhutla. Sekat tersebut dibuat dengan membersihkan vegetasi atau bahan mudah terbakar pada jalur tertentu sehingga dapat menghambat perambatan api ketika kebakaran bergerak menuju area yang belum terdampak.

Selain itu, personel di kawasan Cemoro Kandang turut melakukan pengamanan jalur pipa air bersih. Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi gangguan terhadap jaringan yang menjadi salah satu sarana pemenuhan kebutuhan air masyarakat di sekitar kawasan Gunung Lawu.

Sementara itu, Pos Aju Cetho, Kecamatan Jenawi, mengerahkan 69 personel untuk melaksanakan sejumlah kegiatan. Mereka melakukan pengamanan jalur pipa air bersih warga, membuat ilaran atau sekat api pada jalur Pos 1 hingga Pos 3 Cetho, serta memantau kondisi jaringan distribusi air.

Pengamanan jaringan air bersih menjadi perhatian dalam operasi tersebut karena dampak kebakaran tidak hanya berkaitan dengan kerusakan vegetasi hutan. Apabila api menjalar ke area yang dilalui jaringan distribusi atau mengganggu fasilitas pendukungnya, kebutuhan dasar masyarakat juga berpotensi terdampak.

Karena itu, pemantauan jalur pipa dan pembuatan sekat api dilaksanakan secara beriringan. Petugas perlu memastikan area yang menjadi jalur pengamanan tetap terkendali sekaligus mengidentifikasi kemungkinan munculnya titik api baru maupun sisa pembakaran yang masih berpotensi menyala kembali.

Adapun dari Pos Induk Gondosuli, sebanyak 26 personel yang terbagi dalam dua Satuan Reaksi Unit (SRU) menjalankan operasi gabungan. Kegiatan meliputi pembersihan area dan pengecekan sisa api berdasarkan titik koordinat yang ditemukan di lapangan.

Pengecekan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan titik-titik yang sebelumnya terbakar tidak kembali memunculkan api. Sisa bara yang tidak terpantau dapat menjadi sumber penyalaan kembali, terutama ketika kondisi lingkungan mendukung perambatan api.

Di Pos Induk Gondosuli, kegiatan juga diarahkan pada pembuatan sekat api di sekitar hutan alam, pengamanan objek wisata, serta pengamanan jalur pipa air bersih. Sementara di Pos Aju Tambak, kegiatan dipusatkan pada pemantauan kondisi kawasan dan pembuatan sekat bakar.

Rencana operasi turut mencatat kebutuhan personel dalam jumlah besar di sejumlah posko. Pos Induk Gondosuli diperkirakan melibatkan sekitar 75 orang, Pos Aju Cemoro Kandang sekitar 75 orang, Pos Aju Tambak sekitar 100 orang, dan Pos Aju Cetho sekitar 120 orang.

Angka tersebut merupakan perkiraan kebutuhan personel dalam rencana kegiatan di masing-masing posko, sedangkan laporan operasi lapangan pada Jumat mencatat pengerahan personel secara khusus di beberapa titik, termasuk 24 personel di Cemoro Kandang, 69 personel di Cetho, serta 26 personel dalam operasi gabungan dari Pos Induk Gondosuli.

Operasi penanganan karhutla melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karanganyar, Basarnas Surakarta, TNI, Polri, Brimob, Palang Merah Indonesia (PMI), Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar, Perhutani, dan relawan kebencanaan.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat penanganan di lapangan, mulai dari pemantauan, pengamanan kawasan, pembuatan sekat bakar, hingga dukungan terhadap keselamatan personel.

Selain kegiatan fisik di lapangan, koordinasi operasional juga diperkuat melalui pelaporan kondisi terkini Gunung Lawu. Personel di setiap posko diminta menyampaikan dokumentasi berupa foto dan video visual kawasan sejak pukul 05.30 WIB untuk mendukung bahan pengarahan dan evaluasi penanganan.

Seluruh personel dijadwalkan mengikuti apel kegiatan di masing-masing posko pada pukul 07.00 WIB sebelum kegiatan lapangan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Evaluasi kegiatan direncanakan berlangsung pada pukul 16.00 WIB di Pos Induk Gondosuli, dengan posko-posko aju menyampaikan laporan sebagai bahan evaluasi bersama.

Dalam pelaksanaan tugas, personel juga diingatkan membawa obat-obatan pribadi serta peralatan pendukung, seperti parang, sabit, dan garu apabila tersedia. Kesiapan perlengkapan tersebut diperlukan untuk menunjang kegiatan pembuatan sekat bakar dan pembersihan material mudah terbakar di lokasi yang telah ditentukan.

Nooryanto menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas selama penanganan kebakaran berlangsung. Personel diminta mengikuti arahan komandan lapangan, memperhatikan kondisi medan, dan menjaga komunikasi antartim ketika melakukan pemantauan maupun pekerjaan di kawasan hutan.

Menurut dia, penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama dan kewaspadaan berkelanjutan. Setiap perkembangan kondisi lapangan perlu dilaporkan agar langkah penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta potensi ancaman yang ditemukan.

“Sinergi semua pihak sangat dibutuhkan. Kami terus berupaya membantu penanganan di lapangan, mencegah api meluas, dan menjaga jalur air bersih masyarakat. Yang tidak kalah penting, seluruh personel harus mengutamakan keselamatan dan menjalankan tugas sesuai arahan petugas yang bertanggung jawab di lapangan,” kata Nooryanto.

Hingga laporan kegiatan Jumat, 23 Oktober 2026, penanganan karhutla Gunung Lawu masih berfokus pada pemantauan kawasan, pembuatan sekat api, pemeriksaan sisa bara, serta pengamanan fasilitas vital masyarakat. Belum terdapat keterangan dalam laporan tersebut mengenai luas total area yang masih terbakar maupun status akhir pengendalian api.

Karena itu, perkembangan penanganan selanjutnya tetap bergantung pada hasil pemantauan dan evaluasi petugas di lapangan. Kesiapsiagaan personel gabungan diharapkan dapat membantu menekan risiko meluasnya kebakaran sekaligus melindungi kawasan hutan, objek wisata, dan sumber air bersih yang dibutuhkan masyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.