Jateng

Paradoks Industri Game 2026: Banyak Developer Pakai AI, Tapi 52% Justru Menganggapnya Ancaman

Theo Adi Pratama | 5 Februari 2026, 08:00 WIB
Paradoks Industri Game 2026: Banyak Developer Pakai AI, Tapi 52% Justru Menganggapnya Ancaman

JATENG.AKURAT.CO, Industri game global tengah berada di persimpangan penting. Di satu sisi, AI generatif di industri game berkembang sangat cepat dan mulai digunakan dalam proses harian.

Di sisi lain, muncul kecemasan besar bahwa teknologi ini justru membawa lebih banyak dampak negatif, terutama di tengah gelombang PHK yang belum mereda.

Kondisi ini terungkap dalam State of the Game Industry Report 2026, laporan tahunan dari penyelenggara Game Developers Conference (GDC).

Survei tersebut melibatkan lebih dari 2.300 profesional industri game dari berbagai peran, mulai dari developer, artis, desainer, hingga tim pemasaran dan publishing.

Hasilnya menunjukkan industri sedang terjebak antara janji efisiensi AI dan kekhawatiran nyata soal masa depan pekerjaan serta kreativitas.

Adopsi AI Naik, Tapi Persepsi Negatif Ikut Melonjak

Laporan ini mencatat perubahan sikap yang cukup tajam. Sebanyak 52% pelaku industri game kini percaya AI generatif berdampak buruk, melonjak dari 30% pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, hanya 7% responden yang menilai AI membawa dampak positif, angka yang terus menurun dalam dua tahun terakhir.

Meski begitu, penggunaan AI tetap meningkat. Sekitar 36% profesional industri game mengaku sudah menggunakan tools AI generatif dalam pekerjaannya.

Artinya, banyak orang memakai teknologi yang sebenarnya mereka tidak sepenuhnya percayai.

PHK Jadi Latar Belakang Ketakutan Terbesar

Salah satu faktor utama yang memperkuat sentimen negatif terhadap AI adalah kondisi ketenagakerjaan.

28% responden mengaku pernah terkena PHK dalam dua tahun terakhir. Angka ini bahkan naik menjadi 33% untuk pekerja berbasis di Amerika Serikat.

Lebih mengkhawatirkan lagi, 50% responden mengatakan perusahaan tempat mereka bekerja saat ini atau sebelumnya melakukan PHK dalam 12 bulan terakhir.

Situasi ini membuat kehadiran AI sering dipandang bukan sebagai alat bantu, tetapi sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas kerja.

Penggunaan AI Berbeda di Tiap Peran

Menariknya, adopsi AI tidak merata di seluruh ekosistem industri game. Hanya 30% pekerja di studio game yang menggunakan AI generatif, sementara angka tersebut melonjak hingga 58% di sektor publishing, marketing, PR, dan support.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa AI lebih cepat diterima di area non-produksi inti, sementara developer dan kreator yang terlibat langsung dalam pembuatan game cenderung lebih berhati-hati.

Kenapa Banyak Developer Mulai Tidak Percaya AI?

Di dalam studio besar sekalipun, termasuk perusahaan sekelas EA, muncul keluhan bahwa AI sering menimbulkan masalah baru.

Aset visual yang “berhalusinasi”, desain yang rusak, hingga output yang tidak konsisten justru menambah beban kerja karena harus diperbaiki secara manual.

Ada juga kekhawatiran jangka panjang. Banyak developer merasa bahwa dengan terus memperbaiki hasil AI, mereka secara tidak langsung melatih sistem yang berpotensi menggantikan peran mereka sendiri di masa depan.

Kondisi ini diperparah oleh kabar PHK besar, seperti yang baru-baru ini terjadi di divisi metaverse Meta, termasuk tim pengembang game VR mereka.

Masa Depan AI di Industri Game Masih Abu-Abu

Temuan dalam laporan ini menunjukkan satu hal yang jelas: AI di industri game semakin sulit dihindari, tetapi kepercayaan terhadap perannya justru menurun.

Efisiensi yang dijanjikan belum mampu mengalahkan rasa cemas akan hilangnya lapangan kerja dan menurunnya kualitas kreatif.

Bagi industri game, tantangan ke depan bukan hanya soal seberapa cepat mengadopsi AI, tetapi bagaimana memastikan teknologi ini benar-benar mendukung kreator, bukan menggantikan mereka.

Jika tidak, resistensi terhadap AI kemungkinan akan terus tumbuh, seiring dengan ketidakpastian yang masih membayangi industri ini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.