Protes Iran Mereda Usai Penumpasan Brutal, Ribuan Tewas di Tengah Pemadaman Internet

JATENG.AKURAT.CO, Gelombang protes Iran yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir dilaporkan mulai mereda.
Namun, ketenangan ini datang setelah penumpasan brutal aparat keamanan, pemadaman internet nasional, dan laporan ribuan korban jiwa.
Berbagai lembaga pemantau internasional menilai situasi di Iran masih jauh dari stabil, meski aktivitas demonstrasi di jalanan terlihat menurun.
Aksi protes yang awalnya dipicu oleh persoalan ekonomi kini berkembang menjadi tantangan langsung terhadap sistem teokrasi Iran yang berkuasa sejak Revolusi 1979.
Di tengah tekanan internasional dan sorotan global, tokoh oposisi di luar negeri menyatakan keyakinannya bahwa kejatuhan rezim hanya tinggal menunggu waktu.
Latar Belakang Protes Iran Terbaru
Protes bermula pada 28 Desember dengan penutupan bazar Teheran akibat keluhan ekonomi.
Dalam hitungan hari, gerakan ini meluas menjadi aksi nasional yang menyerukan penggulingan pemerintahan ulama.
Sejak 8 Januari, ribuan warga turun ke jalan di kota-kota besar. Pemerintah Iran merespons dengan memutus total akses internet, sebuah langkah yang menurut aktivis bertujuan menutupi skala penindakan aparat keamanan.
Ribuan Korban Jiwa dan Penangkapan Massal
Organisasi HAM berbasis di Norwegia, Iran Human Rights (IHR), menyebut setidaknya 3.428 demonstran telah tewas akibat tindakan aparat. Namun, angka sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi.
Beberapa laporan lain menyebut jumlah korban bisa mencapai 5.000 hingga 20.000 orang, sementara sekitar 20.000 warga dilaporkan ditangkap.
Media oposisi Iran International bahkan mengklaim lebih dari 12.000 korban tewas, mengutip sumber internal pemerintah dan keamanan.
Direktur IHR, Mahmood Amiry-Moghaddam, menyebut adanya kesaksian mengerikan, mulai dari penembakan di jalan, penggunaan senjata militer, hingga eksekusi demonstran yang terluka.
Pemadaman Internet Terlama dalam Sejarah Iran
Pemantau jaringan NetBlocks melaporkan pemadaman internet nasional telah berlangsung lebih dari 180 jam, lebih lama dibandingkan pemadaman saat protes 2019.
Amnesty International menilai langkah ini dibarengi dengan patroli bersenjata dan pos pemeriksaan di berbagai kota untuk memadamkan apa yang mereka sebut sebagai “pemberontakan rakyat nasional”.
Reza Pahlavi: “Rezim Iran Akan Runtuh”
Di tengah situasi ini, Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran yang kini tinggal di Amerika Serikat, menyerukan aksi lanjutan. Melalui media sosial, ia mengajak warga Iran kembali turun ke jalan.
Dalam konferensi pers di Washington, Pahlavi menyatakan dengan tegas, “Republik Islam akan runtuh — bukan soal jika, tapi kapan.” Ia juga menegaskan niatnya untuk kembali ke Iran suatu hari nanti.
Tekanan Internasional dan Sikap Amerika Serikat
Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah pejabat Iran, termasuk Ali Larijani dari Dewan Keamanan Nasional Iran.
Meski Presiden AS sempat mengisyaratkan opsi militer, laporan menyebut tekanan diplomatik dari Arab Saudi, Qatar, dan Oman berhasil meredam eskalasi lebih lanjut.
Gedung Putih menegaskan bahwa “semua opsi masih ada di meja”, namun belum ada tanda aksi militer baru dalam waktu dekat.
Protes Bisa Muncul Kembali?
Lembaga pemikir Institute for the Study of War menilai penindakan keras ini kemungkinan hanya menekan protes untuk sementara.
Mobilisasi besar aparat keamanan dinilai tidak berkelanjutan, sehingga gelombang protes baru bisa kembali muncul.
Di forum Dewan Keamanan PBB, jurnalis Iran-Amerika Masih Alinejad menyatakan bahwa “seluruh rakyat Iran bersatu” melawan sistem ulama.
Sementara perwakilan Iran menuduh AS memanfaatkan situasi untuk kepentingan geopolitik.
Meski protes Iran tampak mereda di permukaan, laporan ribuan korban tewas, penangkapan massal, dan pemadaman internet menunjukkan krisis masih jauh dari selesai.
Tekanan domestik dan internasional terus meningkat, sementara oposisi yakin perubahan besar hanya tinggal menunggu waktu.
Situasi Iran kini menjadi sorotan dunia, dengan potensi ketegangan baru yang sewaktu-waktu bisa kembali meledak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









