Viral Pembacokan di Jl Kelud Semarang, Apa Beda Kreak Semarang dan Klitih Jogja

Akurat.co - Kasus pembacokan liar yang terjadi di Jalan Kelud Raya Sampangan Kota Semarang hingga korban meninggal dunia terus jadi perbincangan di jagad maya dan masyarakat.
Pembacokan dilakukan oleh sekelompok Kreak yang menelan korban meninggal dunia bernama M Tirza Nugroho Hermawan seorang mahasiswa Udinus yang kebetulan melintas.
Kronologi kejadian terjadi pada pukul 03.00 WIB Selasa dini hari (17/9/2024).
Pembacokan liar yang dilakukan Kreak ini sudah meresahkan masyarakat Kota Semarang. Bahkan ada yang mengasosiasikan tindakan ini seperti Klitih di Jogja.
Lalu apa sebenarnya perbedaan dan persamaan antara Kreak dan Klitih?
Kreak
Warga Semarang ataupun orang-orang yang pernah tinggal di kota ini pasti tak asing dengan sebuah sebutan “Kreak” yang kerap disematkan kepada seorang pemuda dari kampung yang berkelakuan buruk.
Kreak artinya orang yang punya sifat kasar, arogan, dan bertindak sesuka hati tanpa mempedulikan orang lain.
Tapi pada kehidupan sehari-hari, julukan ini kerapkali juga disematkan kepada teman yang sudah dekat, dalam rangka bercanda ataupun gurauan semata.
Istilah ini berkembang secara pesat dan pada masa kontemporer, istilah “ Kreak” ini, memiliki arti sekelompok orang atau pemuda yang ingin berpenampilan modern namun malah terkesan norak.
Meskipun terdengar seperti stigma negatif dan diskriminasi tentang fashion orang lain, namun istilah ini sudah tertanam di benak masyarakat sehingga sulit untuk menghapuskannya.
Istilah ini lahir dan dikembangkan hingga ramai di wilayah Semarang Raya, meliputi Kawasan Semarang hingga Kendal, Ungaran bahkan Salatiga.
Penggunaan kata Kreak memiliki dua kata dasar yang mengilhami lahirnya istilah ini. Berasal dari “Kere” yang berarti miskin atau lemah secara ekonomi.
Dan “ Mayak” yang diketahui merupakan Bahasa Jawa Timur-an untuk artian sok-sokan, belagu dan lebih dikenal di Semarang dengan istilah Kemaki.
Istilah Kreak selalu menjadi umpatan dalam artian negatif terhadap perilaku kenakalan remaja yang terjadi di wilayah Semarang, para warga kerap melabeli anak-anak yang melakukan keonaran dengan sebutan ini.
Tak jarang umpatan ini bergeser maknanya dari arah fashion kini lebih ditujukan kepada para remaja tanggung yang terafiliasi dengan “gangster” sebutan bagi segerombolan anak muda usia tanggung yang berkelompok dan melakukan keonaran seperti tawuran atau mencari masalah dengan kelompok lain.
Klitih
Berdasarkan artikel LM Fakultas Psikologi UGM, fenomena klitih ini menjadi sebuah keresahan yang terakumulasi membentuk perasaan tidak aman bagi masyarakat setempat, terlebih saat berita klitih terbaru seperti yang telah disinggung di atas sampai menewaskan korban jiwa terkuak ke khalayak publik.
Sasaran pelaku klitih yang masih tidak jelas kriterianya pun semakin menambah keresahan masyarakat yang mana menunjukkan bahwa siapa pun memiliki kemungkinan untuk menjadi korban dari aksi merugikan ini, tanpa terkecuali.
Keresahan masyarakat tersebut banyak disuarakan melalui media sosial, salah satunya Twitter, dan bahkan sempat memasuki trending topic teratas Indonesia.
Dilansir dari media Suara Jogja, terpantau ada lebih dari 18 ribu cuitan yang memuat kata Jogja dan 9 ribu di antaranya membahas terkait keresahan serta keprihatinan masyarakat atas fenomena klitih.
Istilah klitih mulai populer pada tahun 2016. Pada mulanya, klitih merupakan perilaku kenakalan remaja dan permusuhan antarkelompok. Namun, seiring berjalannya waktu, fenomena klitih mengalami pergeseran.
Kini, klitih tidak hanya menyasar pada kelompok tertentu, tetapi juga menyasar pada masyarakat umum secara acak. Seiring dengan berkembangnya sosial media, peristiwa klitih ini pun semakin terkuak.
Mengacu pada data yang tercatat oleh Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (dalam DataIndonesia.id, 2022), kasus klitih meningkat 11,54% pada tahun 2021 jika dibandingkan dengan tahun 2020. Secara rinci, pada tahun 2020 kasus klitih mencapai angka 52 kasus dengan jumlah pelaku yang telah ditangkap sebanyak 91 orang.
Salah satu kasus klitih yang sempat membuat gempar masyarakat Yogyakarta adalah peristiwa pembacokan di Jalan Kaliurang, Sleman oleh 6 pelaku yang terdiri dari lulusan pelajar SMA, SMK, dan bahkan siswa drop out (DO) dari SMP.
Menurut keterangan Kanit Reskrim Polsek Ngaglik, AKP Budi Karyanto (dilansir dari TribunJogja, Desember 2021), motif pelaku menyerang korban adalah karena “tersinggung” ketika korban menyalip pelaku di jalan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










