Jateng

AI DeepSeek Diklaim Bobol Sandbox Google Chrome dalam 12 Jam, Ancaman Siber Makin Serius!

Dody H | 25 Oktober 2026, 14:01 WIB
AI DeepSeek Diklaim Bobol Sandbox Google Chrome dalam 12 Jam, Ancaman Siber Makin Serius!

JATENG.AKURAT.CO, Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di bidang keamanan siber kembali menjadi sorotan.

Model AI asal China, DeepSeek V4.1-Flash-1017, dilaporkan mampu mengembangkan eksploit untuk menembus mekanisme keamanan sandbox Google Chrome dalam waktu sekitar 12 jam melalui serangkaian proses pengujian dan perbaikan kode secara berulang.

Temuan ini memunculkan kekhawatiran baru mengenai potensi AI dalam mempercepat pengembangan serangan siber.

Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan pemrograman tingkat lanjut, pemahaman mendalam tentang sistem komputer, serta waktu pengembangan yang panjang kini berpotensi dilakukan lebih cepat dengan bantuan model AI.

Mengutip dari laporan Wccftech, seorang peneliti menggunakan DeepSeek untuk menyusun eksploit dari awal.

Prosesnya dilakukan secara bertahap, mulai dari mencoba pendekatan teknis, mengevaluasi hasil pengujian, hingga memperbaiki kode untuk mencari jalur yang dapat melewati perlindungan keamanan browser.

Meski demikian, keberhasilan yang dilaporkan tersebut belum dapat diartikan bahwa seluruh pengguna Google Chrome berada dalam bahaya.

Belum ada informasi terperinci yang memastikan eksploit itu telah digunakan dalam serangan nyata, termasuk rincian kerentanan yang dimanfaatkan dan status verifikasi independennya.

DeepSeek Diklaim Mampu Mengembangkan Eksploit Chrome dalam 12 Jam

Hal yang paling menarik perhatian dari pengujian ini bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga kemampuan DeepSeek dalam menjalankan proses rekayasa perangkat lunak yang kompleks secara berulang.

Model AI tersebut dilaporkan mampu mencoba beberapa pendekatan, menilai apakah kode yang dibuat berhasil, kemudian melakukan penyesuaian ketika metode sebelumnya tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Siklus pengujian dan perbaikan tersebut berlangsung sekitar 12 jam hingga peneliti memperoleh hasil yang diklaim mampu melewati perlindungan sandbox Google Chrome dalam lingkungan pengujian.

Kemampuan seperti ini menunjukkan perkembangan AI yang semakin mengarah pada sistem berbasis agen atau agentic AI.

Berbeda dengan model yang hanya menghasilkan jawaban atau potongan kode berdasarkan instruksi, sistem berbasis agen dapat menjalankan sejumlah tahapan pekerjaan untuk mencapai tujuan tertentu.

Dalam konteks keamanan siber, kemampuan tersebut berpotensi mempercepat penelitian kerentanan perangkat lunak.

Namun, teknologi serupa juga dapat dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab untuk mengotomatisasi sebagian proses pencarian celah keamanan.

Penting dicatat, laporan yang tersedia belum memaparkan detail teknis yang cukup untuk memastikan seberapa luas keberhasilan eksploit tersebut dapat diterapkan pada berbagai versi Chrome.

Mengapa Sandbox Google Chrome Sulit Ditembus?

Sandbox merupakan salah satu lapisan perlindungan penting pada Google Chrome.

Mekanisme ini dirancang untuk membatasi akses proses browser terhadap sistem operasi dan sumber daya lain di perangkat pengguna.

Dengan pembatasan tersebut, kerentanan pada suatu komponen browser tidak serta-merta memberikan penyerang kebebasan untuk mengendalikan seluruh sistem.

Namun, apabila penyerang berhasil melewati sandbox, dampak potensialnya dapat menjadi lebih serius.

Penyerang mungkin memperoleh kemampuan yang lebih luas daripada yang tersedia melalui proses browser yang dibatasi, bergantung pada kerentanan dan kondisi sistem yang terlibat.

Dalam penelitian keamanan, upaya melewati sandbox sering menjadi perhatian karena mekanisme tersebut berfungsi sebagai lapisan pertahanan tambahan, bukan sekadar penghalang untuk membuka halaman web.

Meski begitu, keberhasilan mengembangkan eksploit dalam lingkungan pengujian tidak otomatis membuktikan bahwa serangan dapat dilakukan terhadap seluruh perangkat yang menggunakan Google Chrome.

Hingga informasi yang tersedia, belum dijelaskan secara lengkap kerentanan spesifik yang dimanfaatkan DeepSeek, versi browser yang menjadi sasaran pengujian, maupun apakah Google telah mengonfirmasi temuan tersebut secara independen.

DeepSeek Disorot karena Kemampuan AI dalam Pengujian Berulang

DeepSeek V4.1-Flash-1017 disebut menonjol dalam pengerjaan tugas rekayasa perangkat lunak yang memerlukan beberapa tahapan sekaligus.

Dalam pendekatan berbasis agen, AI dapat mengerjakan tugas, memeriksa hasilnya, dan kembali mencoba ketika hasil yang diperoleh belum sesuai dengan target.

Pola tersebut berpotensi mengurangi kebutuhan intervensi manusia pada setiap tahap pekerjaan.

Menariknya, kemampuan sebuah model dalam menyelesaikan tugas teknis yang panjang tidak selalu sejalan dengan posisinya dalam seluruh tolok ukur AI konvensional.

Model yang tidak mendominasi semua pengujian umum tetap dapat menunjukkan kemampuan tertentu dalam pekerjaan pemrograman yang membutuhkan ketekunan dan pengulangan.

Laporan terkait juga menyinggung penggunaan mesin pemrosesan DeepInfer.

Teknologi tersebut diklaim mampu memproses hingga 155 triliun token per hari dengan kebutuhan memori sekitar 890 byte per token.

Angka tersebut perlu dipahami secara hati-hati karena metode pengukuran, kondisi pengujian, dan verifikasi independennya belum dijelaskan secara memadai dalam informasi yang tersedia.

Karena itu, klaim performa tersebut belum cukup untuk dijadikan bukti bahwa DeepSeek secara umum lebih unggul dibandingkan model AI lainnya dalam seluruh tugas keamanan siber.

Kasus DeepSeek memperlihatkan dua sisi perkembangan AI dalam dunia keamanan siber.

Di satu sisi, AI berpotensi membantu peneliti menemukan kelemahan perangkat lunak lebih cepat.

Proses analisis kode, pengujian berulang, dan identifikasi kesalahan dapat dibantu oleh sistem otomatis sehingga pengembang memiliki kesempatan lebih besar untuk memperbaiki masalah sebelum dimanfaatkan penyerang.

Di sisi lain, kemampuan tersebut juga berpotensi menurunkan hambatan teknis bagi pelaku kejahatan siber. Sebagian pekerjaan yang sebelumnya memerlukan pengalaman pemrograman dan analisis kerentanan tingkat tinggi dapat menjadi lebih mudah dilakukan dengan bantuan AI.

Microsoft sebelumnya juga menyoroti aktivitas kelompok ancaman siber Storm-0940 yang dikaitkan dengan kepentingan negara dan penggunaan alat berbasis AI untuk mendukung aktivitas serangan terhadap organisasi di sejumlah negara.

Meski kasus tersebut tidak membuktikan adanya hubungan langsung dengan DeepSeek, perkembangan itu memperlihatkan bahwa penggunaan AI dalam operasi keamanan siber telah menjadi perhatian industri teknologi.

Risiko utamanya bukan semata-mata kemampuan AI menghasilkan kode berbahaya, melainkan kemampuannya membantu menjalankan rangkaian pekerjaan teknis secara lebih cepat dan sistematis.

Situasi ini membuat perusahaan teknologi perlu memperkuat pengujian keamanan, mempercepat penanganan kerentanan, serta mengembangkan sistem pertahanan yang mampu menghadapi ancaman yang semakin terotomatisasi.

Amerika Serikat Khawatir terhadap Risiko Model AI Open-Weight

Kemampuan model AI untuk membantu penelitian kerentanan juga memperkuat perdebatan mengenai distribusi model AI dengan bobot terbuka atau open-weight.

Model jenis ini memungkinkan pihak lain mengakses bobot yang telah dilatih dan menjalankannya sesuai ketentuan distribusi.

Tingkat kebebasan penggunaannya dapat berbeda-beda, bergantung pada lisensi dan mekanisme akses yang diterapkan pengembang.

Sebagian analis keamanan menilai bahwa model berkemampuan tinggi yang mudah diperoleh berpotensi meningkatkan risiko penyalahgunaan, terutama ketika digunakan untuk mengotomatisasi pencarian celah keamanan atau pengembangan eksploit.

Salah satu pendekatan yang diperdebatkan adalah membatasi akses terhadap model tertentu melalui layanan komputasi awan yang dilengkapi mekanisme pemantauan dan pengamanan tambahan.

Namun, pembatasan model AI juga memiliki konsekuensi. Akses yang lebih terbuka dapat membantu peneliti independen, akademisi, dan pengembang menguji keamanan perangkat lunak sekaligus mengembangkan teknologi pertahanan.

Dengan demikian, tantangan bagi regulator dan industri bukan sekadar menentukan model mana yang boleh diakses, tetapi juga mencari keseimbangan antara keamanan, inovasi, transparansi, dan kebebasan penelitian.

Apakah Pengguna Google Chrome Harus Khawatir?

Laporan mengenai DeepSeek yang diklaim mampu menembus sandbox Chrome dalam 12 jam memang terdengar mengkhawatirkan.

Namun, pengguna tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa browser mereka telah diretas atau bahwa eksploit tersebut sudah menyebar secara luas.

Ada perbedaan penting antara keberhasilan membuat eksploit dalam lingkungan pengujian dan serangan yang benar-benar terjadi terhadap pengguna di dunia nyata.

Efektivitas sebuah eksploit dapat bergantung pada versi browser, konfigurasi perangkat, kondisi sistem, serta ada atau tidaknya lapisan perlindungan tambahan.

Tanpa rincian teknis dan konfirmasi independen, dampak aktual laporan tersebut belum dapat dipastikan.

Meski demikian, pengguna tetap disarankan menerapkan langkah pencegahan berikut:

*Perbarui Google Chrome secara berkala.

*Gunakan versi terbaru agar perangkat memperoleh perbaikan keamanan yang telah dirilis.

*Hindari tautan dan unduhan mencurigakan.

*Jangan sembarangan membuka lampiran atau memasang berkas dari sumber yang tidak dikenal.

*Periksa ekstensi browser.

*Hapus ekstensi yang tidak lagi digunakan atau tidak memiliki reputasi yang jelas.

*Gunakan sistem operasi yang masih didukung.

*Pembaruan sistem turut membantu menutup celah keamanan pada perangkat.

*Jangan mengabaikan peringatan keamanan.

*Jika browser atau sistem operasi menampilkan peringatan, periksa sumbernya sebelum melanjutkan aktivitas.

Langkah-langkah tersebut tidak menjamin perlindungan mutlak, tetapi dapat membantu mengurangi risiko dari berbagai jenis serangan siber.

Persaingan AI kini bukan hanya tentang kemampuan menghasilkan teks, gambar, atau video, tetapi juga tentang bagaimana teknologi tersebut dapat menjalankan pekerjaan kompleks secara mandiri.

Tantangan berikutnya adalah memastikan kemampuan itu digunakan untuk memperkuat keamanan digital, bukan justru memperbesar ancaman bagi pengguna internet.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.