Jateng

Heboh! Fakta Tersembunyi dan Sejarah Dibalik Tradisi Ngeteh di Solo! Ternyata Lebih Gila Minuman Ini Daripada Kopi!

Theo Adi Pratama | 16 April 2025, 10:00 WIB
Heboh! Fakta Tersembunyi dan Sejarah Dibalik Tradisi Ngeteh di Solo! Ternyata Lebih Gila Minuman Ini Daripada Kopi!

JATENG.AKURAT.CO, Para pecinta kopi di mana pun kalian berada, siap-siap untuk sebuah pengakuan mengejutkan dari jantung Jawa Tengah!

Jika selama ini kita mengira kopi merajai seluruh pelosok negeri, ternyata di Kota Solo situasinya jauh berbeda!

Konon, ada satu minuman tradisional yang jauh lebih dicintai dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Solo.

Minuman apakah itu? Bersiaplah untuk sebuah kejutan yang mungkin membuat kalian tercengang!

Ngeteh: Lebih dari Sekadar Minuman, Identitas Sosial Warga Solo!

Coba deh kalian berkunjung ke Solo. Di setiap sudut kota, mulai dari acara-acara resmi yang sakral hingga warung-warung angkringan yang sederhana, kalian akan lebih mudah menemukan aroma teh yang mengepul daripada aroma kopi yang menyengat.

Bagi warga Solo, ngeteh bukan hanya sekadar menghilangkan dahaga, tapi juga sebuah ritual sosial yang menghubungkan mereka satu sama lain.

Di angkringan yang menjadi ikon kota ini, ngeteh bersama teman dan tetangga adalah pemandangan yang lazim.

Berbagai jenis teh disajikan, mulai dari teh kampul yang segar dengan irisan jeruk nipis, teh nasgitel yang manis dan kental, hingga teh mondo yang pas untuk yang tidak terlalu suka manis.

Kopi memang ada, namun seringkali hanya menjadi pilihan sekunder.

Sejarah Panjang Ngeteh: Warisan Bangsawan yang Merakyat!

Menurut catatan sejarah yang diungkapkan oleh Harry Priatmoko dari komunitas Solo Society, tradisi minum teh di Solo memiliki akar yang kuat di kalangan bangsawan Keraton.

Bahkan, Sinuwun Pakubuwono X seringkali menjamu tamu-tamu penting dengan teh serat madu yang khas.

Ini menunjukkan betapa tingginya nilai teh dalam tradisi Keraton Solo.

Lebih lanjut, terungkap pula bahwa Keraton memiliki perkebunan teh sendiri di daerah Ngampel, Boyolali.

Teh yang dihasilkan, yang dikenal dengan nama Jadesons, menjadi bukti betapa seriusnya tradisi teh di kalangan penguasa Solo pada masa itu.

Dari Istana ke Angkringan: "Ngeteh" Sebagai Perekat Masyarakat!

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan minum teh yang dulunya eksklusif di kalangan bangsawan ini kemudian menyebar luas ke seluruh lapisan masyarakat Solo.

Kini, ngeteh telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari warga, tanpa memandang status sosial.

Hampir di setiap rumah tangga Solo, teh selalu siap disuguhkan bagi tamu yang datang.

Dalam berbagai acara perayaan di kampung-kampung, ngeteh bersama menjadi momen kebersamaan yang hangat dan akrab.

Bahkan, ada tempat-tempat khusus seperti Jayengan (atau Matehan) yang dulunya berfungsi sebagai pusat persiapan dan penyajian teh dengan cara yang khas.

Kopi? Hanya Pilihan Tambahan di Tengah Dominasi Teh!

Meskipun tradisi ngeteh begitu kuat, bukan berarti kopi sama sekali absen dari kehidupan masyarakat Solo.

Beberapa orang tetap menjadikan kopi sebagai variasi minuman.

Namun, secara umum, kopi masih dianggap sebagai pelengkap, bukan minuman utama yang mendominasi kebiasaan minum warga Solo.

Mangkunegaran Pun Punya Kebun Kopi, Tapi Bukan untuk Konsumsi Lokal!

Fakta menarik lainnya yang diungkapkan adalah bahwa Mangkunegaran di masa lalu juga memiliki kebun kopi.

Namun, tujuan utama perkebunan tersebut adalah untuk memenuhi permintaan ekspor ke Eropa, sejalan dengan komoditas unggulan lainnya seperti gula, teh, dan tembakau.

Jadi, sudah jelas bukan? Meskipun kopi kini menjadi tren di berbagai kota, Solo memiliki cerita dan tradisi minum teh yang unik dan mendalam.

Ngeteh bukan hanya sekadar minuman, tetapi juga cerminan dari budaya dan kebiasaan sosial yang telah mendarah daging di Kota Bengawan ini.

Sungguh menarik! Jangan lupa bagikan fakta unik ini ke teman-teman kalian ya!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.