Yogyakarta Vibes! Misteri Dibalik Keindahan Pantai Glagah Kulon Progo, Benarkah Sering Memakan Korban Jiwa? Simak Faktanya

JATENG.AKURAT.CO, Pantai Glagah di Kulon Progo adalah salah satu destinasi wisata pantai yang indah karena memiliki pemecah ombak dan laguna.
Namun, tahukah kamu jika Pantai Glagah di Kulon Progo rupanya juga menyimpan cerita misteri, yakni sering memakan korban jiwa.
Simak fakta mengenai misteri Pantai Glagah yang sering disebut banyak memakan korban jiwa, yakni para wisatawan yang berkunjung ke pantai tersebut.
Dirangkum Akurat Jateng dari laman resmi Kapanewon Temon, Pantai Glagah, terletak di Desa Glagah, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo.
Pantai ini menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup populer di wilayah tersebut, khususnya di Kulon Progo, DIY.
Menariknya, pantai yang dekat dengan lokasi Bandara Internasional Yogyakarta ini menawarkan pemandangan yang menakjubkan, dengan ombak besar yang terus menggulung dan menghantam bibir pantai.
Letaknya yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia menjadikan pantai ini memiliki karakteristik ombak yang kuat dan tinggi.
Air laut yang jernih dengan warna kehijauan lengkap dengan laguna wisata juga menambah keindahan alam Pantai Glagah.
Pantai satu ini memang selalu berhasil menarik perhatian wisatawan yang berkunjung, meskipun di balik pesonanya, pantai ini juga menyimpan berbagai ancaman yang harus diwaspadai.
Dirangkum suaramerdeka dari laman resmi Maritim milik pemerintah, Pantai Glagah adalah termasuk pantai yang memiliki lebeng atau rip current sebagai salah satu ancaman terbesar.
Rip current atau lebeng, sebuah arus balik yang kuat dan berbahaya.
Lebeng ini merupakan fenomena yang sering terjadi di perairan selatan Jawa, termasuk di Pantai Glagah.
Meskipun terlihat tenang di permukaan, kawasan yang terkena lebeng memiliki arus bawah yang sangat kuat, mampu menyeret apapun yang berada di atasnya, termasuk manusia, ke tengah laut.
Kecepatan arus lebeng bervariasi tergantung pada kondisi gelombang, pasang surut, dan bentuk pantai, namun kecepatan arus ini dapat melebihi 2 meter per detik, yang tentu saja sangat berbahaya.
Lebeng sering kali tidak terlihat oleh mata, sehingga banyak pengunjung yang tidak menyadari keberadaannya.
Biasanya, kawasan yang terpengaruh oleh lebeng ditandai dengan perairan yang tampak tenang tanpa ombak besar, padahal justru di sanalah terdapat arus yang sangat kuat.
Banyak wisatawan yang tidak mengindahkan larangan untuk tidak berenang di area tersebut.
Akhirnya terseret oleh arus kuat yang mereka tidak dapat lawan.
Baca Juga: Fakta Unik! Mari Kita Ulas Sejarah Singkat Stasiun Mayong, Jejak Perjalanan Kereta Api di Jepara
Meski Pantai Glagah terkenal dengan keindahannya, pengunjung disarankan untuk tetap waspada dan tidak sembarangan bermain air di pantai ini.
Kawasan Pantai Glagah juga terkenal dengan keberadaan muara Sungai Serang, yang sering kali menelan korban jiwa.
Pada tahun 2022, misalnya, empat wisatawan asal Boyolali, Jawa Tengah, hanyut di muara Sungai Serang di kawasan Pantai Glagah ini.
Kejadian tersebut bukanlah yang pertama, karena sebelumnya juga telah terjadi beberapa kali kecelakaan air yang menyebabkan korban jiwa, termasuk anak kecil yang hanyut dan akhirnya ditemukan meninggal dunia.
Meski sudah ada larangan keras untuk tidak memasuki kawasan muara, banyak wisatawan yang tetap nekat karena tertarik oleh pemandangan dan suasana yang tampak aman saat air surut.
Namun, air di muara ini hanya surut untuk sementara, sebelum akhirnya kembali naik akibat pertemuan antara air Sungai Serang dan pasang laut Pantai Glagah.
Kondisi ini membuat muara Sungai Serang sangat berbahaya untuk dikunjungi, terutama bagi mereka yang tidak waspada terhadap potensi bahaya yang ada.
Selain risiko lebeng dan bahaya di muara Sungai Serang, Pantai Glagah juga memiliki cerita misteri tersendiri yang masih dipercaya oleh masyarakat setempat.
Konon, pantai ini dianggap sebagai wilayah kekuasaan Ratu Laut Selatan, yang dikenal dalam mitos Jawa sebagai penguasa pantai selatan.
Kepercayaan ini membuat masyarakat setempat selalu berhati-hati dan waspada jika hendak bermain atau mandi di sekitar Pantai Glagah.
Bahkan, masyarakat atau wisatawan yang berkunjung ke Pantai Glagah dan pantai lain di wilayah selatan diimbau tidak mengenakan pakaian berwarna hijau.
Warna tersebut dianggap sebagai warna favorit yang identik dengan sosok Ratu Laut Selatan.
Meskipun hal ini hanya dianggap sebagai mitos, namun keberadaan cerita tersebut menambah nuansa mistis yang melekat pada Pantai Glagah.
Meskipun Pantai Glagah menawarkan keindahan alam yang luar biasa, berbagai ancaman yang ada membuat wisatawan yang berkunjung ke pantai ini ekstra hati-hati.
Para wisatawan diimbau untuk selalu mematuhi aturan dan larangan yang diberlakukan, seperti tidak berenang di area yang rawan, menghindari muara Sungai Serang, serta selalu waspada terhadap potensi terjadinya lebeng.
Pada akhirnya, keindahan Pantai Glagah yang memukau tidak dapat dipisahkan dari ancaman-ancaman alam yang tersembunyi di balik ombak dan muaranya.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










