Jateng

Sejarah Kota Reog Ponorogo: Jejak Warisan Budaya Indonesia yang Mempesona

Theo Adi Pratama | 30 Januari 2024, 14:00 WIB
Sejarah Kota Reog Ponorogo: Jejak Warisan Budaya Indonesia yang Mempesona

AKURAT.CO Sejarah, Kota Reog, atau yang lebih dikenal sebagai Kota Ponorogo, memiliki sejarah yang kaya dan menarik, khususnya terkait dengan seni budaya Reog yang menjadi ciri khas daerah ini.

Cerita dimulai dari Kelana Suwandana, raja Kerajaan Bantarangin, yang memiliki keinginan melamar putri Kerajaan Kediri.

Melalui pendekatan kekeluargaan dengan Ki Ageng Kutu dan pendukungnya, usahanya mulai membuahkan hasil.

Pada sekitar tahun 1482 M, Raden Katong, anak dari Raja Brawijaya V, bersama Selo Aji, dan Ki Ageng Mirah, mengembangkan ide mendirikan kadipaten di wilayah tersebut.

Baca Juga: Sejarah Hari Kusta Internasional: Upaya Perawatan dan Pencegahan Penularan Penyakit Kusta

Proses konsolidasi wilayah pun dimulai, dan pemukiman diresmikan sebagai langkah awal.

Reog Ponorogo, yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut, menjadi penanda keaslian budaya daerah ini.

Warisan budaya ini bukan hanya seni pertunjukan tinggi tetapi juga membawa nilai-nilai luhur dalam setiap atraksinya.

Pada tahun 2013, Reog Ponorogo diakui sebagai Warisan Budaya Indonesia dengan nomor registrasi 201300028.

Baca Juga: Sejarah dan Misteri Makam Ragasemangsang di Purwokerto: Tempat Penuh Kesakralan

Proses pencatatan ini melibatkan partisipasi dari berbagai komunitas, kelompok, dan individu yang peduli terhadap pelestarian budaya, seperti Sanggar Tari Kawulo Bantarangin, Paguyuban Reyog Putri Sardulo Nareswari, Reog Taruno Mudha, Simo Budi Utomo, Margojati Jolosutro, dan Singo Manggolo.

Pertunjukan Reog Ponorogo dapat dinikmati dalam berbagai acara, mulai dari upacara tolak bala, acara bersih desa, hingga perayaan pernikahan dan hari-hari besar Islam dan nasional.

Keberadaannya tetap meriah dalam setiap kesempatan, mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah yang melekat di dalamnya.

Kota Ponorogo: Identitas Sebagai "Kota Reog"

Kota Ponorogo dikenal sebagai "Kota Reog" karena dianggap sebagai asal-usul seni budaya Reog, sebuah tarian dan seni khas Jawa Timur bagian barat-laut.

Baca Juga: Misteri dan Sejarah Makam Gantung di Pesanggrahan Djojodigdan, Blitar: Pemilik Ilmu Pancasona

Identitas ini menjadi semakin kuat setelah adopsi branding sebagai kota Reog pada masa pemerintahan Bupati Markum Singodimedjo.

Kata "Reog" sendiri berasal dari wilayah Jawa Timur bagian barat-laut dan diakui sebagai kota asal Reog.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "Reog" memiliki arti sebagai tarian tradisional yang dilakukan di ruang terbuka sebagai hiburan rakyat, melibatkan unsur magis, dan menampilkan penari utama yang mengenakan hiasan kepala singa dengan ornamen bulu merak.

Seni Pertunjukan Reog Ponorogo

Reog Ponorogo bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga merupakan pewarisan nilai-nilai magis dan mistis yang kuat.

Baca Juga: Keunikan dan Sejarah Makam Imogiri: Pemakaman Raja Mataram dan Misteri Terpancung Tiga

Reog Obyog dan Reog Festival menjadi dua rangkaian tarian pembukaan yang sering memukau penonton.

Reog Obyog sering hadir dalam acara hajatan, bersih desa, atau pementasan tanpa pakem tertentu di pelataran atau jalan.

Sementara Reog Festival, yang telah mengalami perubahan dan pengembangan, menjadi seni reog modern yang umumnya dipertunjukkan dalam berbagai acara, seperti pernikahan, khitanan, dan perayaan nasional.

Reog Ponorogo memiliki unsur magis dan mistis yang kuat, tercermin melalui tarian tradisionalnya yang sarat dengan nilai-nilai mistis dan ilmu kebatinan.

Sejarah dan asal-usul Reog Ponorogo erat kaitannya dengan kekuatan ilmu kanuragan, menciptakan seni budaya yang unik dan memesona.

Sebagai warisan budaya yang mempesona, Reog Ponorogo terus menjaga kekayaan tradisinya, menciptakan pengalaman seni yang mendalam dan tak terlupakan bagi setiap penikmatnya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.