Jateng

Peninggalan Bangunan Bersejarah Yogyakarta: Kompleks Pantja Dharma UGM, Melangkah Sejarah Pendidikan dan Konferensi Internasional

Theo Adi Pratama | 24 Januari 2024, 14:00 WIB
Peninggalan Bangunan Bersejarah Yogyakarta: Kompleks Pantja Dharma UGM, Melangkah Sejarah Pendidikan dan Konferensi Internasional

AKURAT.CO Sejarah, Kompleks Pantja Dharma, yang merupakan bagian cikal bakal sarana pendidikan pertama yang dibangun oleh Universitas Gadjah Mada (UGM), menjadi saksi bisu perkembangan pendidikan dan pusat kebudayaan di Indonesia.

Terletak bersamaan dengan Gedung Pusat UGM, kompleks ini memiliki lima bangunan cagar budaya yang menjadi lambang kekayaan arsitektur dan sejarah universitas.

Baca Juga: Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Masjid Agung Puro Pakualaman, Perpaduan Sejarah dan Keindahan Arsitektur

Arti Nama dan Bangunan Cagar Budaya

"Pantja Dharma" memiliki arti lima ajaran atau ilmu pengetahuan, merujuk pada lima bangunan cagar budaya yang membentuk kompleks ini.

Kelima bangunan tersebut adalah Gedung Iso Reksohadiprodjo, Herman Yohannes, Soeparwi, Tjahjono Adi, dan Perpustakaan Sekolah Vokasi.

Masing-masing memiliki keunikan arsitektur dan sejarahnya sendiri.

1. Gedung Isa Reksohadiprodjo

Fasad simetris dengan atap limasan.

Digunakan sebagai Kantor Pusat Tata Usaha Sekolah Vokasi UGM.

 

2. Gedung Herman Yohannes

Fasad simetris dan atap limasan.

Saat ini menjadi Sekolah Vokasi Departemen Teknik Elektro dan Informatika.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Makam Ratu Malang, Jejak Sejarah di Puncak Gunung Kelir

 

3. Gedung Soeparwi

Fasad simetris dan atap limasan.

Digunakan sebagai Gedung Sekolah Vokasi UGM Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner.

 

4. Gedung Tjahjono Adi

Fasad simetris dan atap limasan.

Saat ini berfungsi sebagai Sekolah Vokasi Departemen Teknik Mesin.

 

5. Gedung Perpustakaan Sekolah Vokasi

Berbentuk empat persegi panjang dan memiliki 3 lantai.

Menjadi pusat pengetahuan Sekolah Vokasi UGM.

Sejarah dan Peran pada Konferensi Internasional

Pada tanggal 26 Oktober-14 November 1959, Lokasi Kompleks Pantja Dharma menjadi tuan rumah Konferensi Perencanaan Colombo Plan.

Konferensi ini dihadiri oleh 21 negara dan menjadi langkah Indonesia dalam menunjukkan perkembangan pembangunan kepada dunia sejak bergabung dengan Colombo Plan pada tahun 1953.

Selesai konferensi, gedung diserahkan kembali kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk dimanfaatkan oleh UGM.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Sejarah di Yogyakarta: Situs Kerta, Megahnya Keraton Mataram Islam Abad XVII

Pelestarian dan Pemetaan Sejarah

Kompleks Pantja Dharma, dengan keberlima bangunan cagar budaya yang ada, menjadi pusat kegiatan akademis dan kebudayaan di UGM.

Seiring waktu, peralihan fungsi, dan peristiwa sejarah, pelestarian dan pemetaan kawasan ini oleh Dinas Kebudayaan DIY pada tahun 2014 menjadi langkah penting dalam merawat kekayaan sejarah dan budaya yang terkandung di tempat ini.

Arti Penting Kompleks Pantja Dharma

Pantja Dharma UGM, dengan segala keunikannya, bukan hanya menjadi tempat pembelajaran tetapi juga menyimpan jejak perjalanan sejarah pendidikan tinggi di Indonesia.

Kehadirannya sebagai kompleks cagar budaya menandai komitmen UGM dalam merawat dan menghormati warisan budaya yang menjadi bagian integral dari perkembangan universitas dan bangsa.

Kompleks Pantja Dharma tidak hanya bangunan, tetapi juga cermin dari semangat dan dedikasi untuk membawa ilmu pengetahuan dan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.