Peninggalan Bangunan Sejarah di Yogyakarta: Situs Kauman Plered, Jejak Kejayaan Mataram Islam di Abad ke-17

AKURAT.CO Sejarah, Situs Kauman Plered, yang kini merupakan bagian dari Dusun Kauman, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, membawa kita pada perjalanan melintasi masa lalu kejayaan kerajaan Mataram Islam pada abad ke-17.
Pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat I (1647-1677), lokasi ini menjadi bagian integral dari ibukota Mataram-Islam, menyimpan keindahan arsitektur dan keberlanjutan sejarah yang tak ternilai.
Masjid Agung-Plered: Pusat Keagamaan dan Kekuasaan
Salah satu peninggalan yang paling mencolok di Situs Kauman Plered adalah Masjid Agung-Plered, juga dikenal sebagai Masjid Ageng atau Masjid Ngeksiganda dalam Babad Momana.
Bangunan ini menandai keberadaan pusat keagamaan dan kekuasaan pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat I.
Nama "Plered" sendiri dikaitkan dengan bekas ibukota Kerajaan Mataram-Islam.
Struktur Bangunan dan Temuan Arkeologis
Tinggalan bangunan masjid tersebut memberikan gambaran akan kemegahan yang pernah dimilikinya.
Komponen struktural, seperti dua puluh tiga umpak bangunan terbuat dari batu andesit, balok batu andesit sebagai ambang pintu (dorpeJ) sisi utara, dan sebagian tembok masjid sisi utara dan barat, menciptakan bayangan akan kompleksitas dan keindahan arsitektur masa lalu.
Baca Juga: Sejarah Kuliner Nusantara: Getuk, Sebuah Camilan Khas Jawa dengan Keunikan dan Filosofi yang Menarik
Ruang dan Pembagian di dalam Masjid
Ruang utama masjid atau liwan memiliki ukuran 41 m x 41 m, menunjukkan kebesaran dan kemegahan bangunan tersebut.
Pembagian ruang yang terdiri dari satu ruang tanpa sekat permanen dan indikasi keberadaan serambi memberikan gambaran akan fungsi dan keindahan masjid ini.
Pentingnya Masjid Kauman-Plered dalam Sejarah
Dalam konteks sejarah, Masjid Kauman-Plered menjadi saksi bisu perpindahan keraton Mataram-Islam ke daerah Karta, yang disebutkan dalam Babad Momana dan Babad Ing Sangkala.
Didirikan oleh Sunan Amangkurat I setelah tiga tahun memerintah, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan simbol kekuatan kerajaan.
Kunjungan VOC dan Pelestarian Sejarah
Pada tahun 1733, delegasi VOC yang dipimpin oleh Van Lons mengunjungi Masjid Agung Kraton Plered, mencatat bahwa bangunan masjid masih dalam kondisi relatif utuh meskipun telah mengalami kerusakan.
Gambaran mengenai ukuran, bentuk, dan struktur masjid pada saat itu memberikan informasi berharga tentang kejayaan arsitektur masa lalu.
Peralihan Fungsi dan Kerusakan
Sayangnya, seiring berjalannya waktu, Situs Kauman Plered mengalami beberapa kali kerusakan dan peralihan fungsi.
Serbuan pasukan pemberontakan Trunojoyo pada tahun 1677, Perang Diponegoro, dan pembangunan Pabrik Gula Kedaton Pleret pada masa pemerintahan Hindia-Belanda di abad ke-19, semuanya berkontribusi pada minimnya sisa tinggalan arkeologis di tempat ini.
Pentingnya Pemetaan dan Pelestarian
Pemetaan kawasan Pleret oleh Dinas Kebudayaan DIY pada tahun 2014 memberikan pemahaman lebih lanjut tentang warisan budaya dari masa Mataram-Hindu Jawa Kuno hingga masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda.
Temuan-temuan tersebut, mulai dari benda, bangunan, struktur, fitur, hingga toponimi, memberikan gambaran lengkap tentang kehidupan dan kebudayaan di Kauman-Plered.
Situs Kauman Plered bukan hanya merupakan tempat fisik, tetapi juga lembaran hidup yang terus berbicara tentang kejayaan dan kehidupan masa lalu.
Pemetaan, pelestarian, dan penelitian lebih lanjut menjadi kunci untuk memahami dan menghargai sepenuhnya kekayaan sejarah yang tersembunyi di tanah ini.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 3Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 4Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 5Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 6Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 7Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 8Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 9Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?










