Jateng

Sejarah Kuliner Nusantara: Kupat Jembut, Sebuah Tradisi Syawalan Meriah di Bagian Timur Kota Semarang

Theo Adi Pratama | 22 Januari 2024, 13:00 WIB
Sejarah Kuliner Nusantara: Kupat Jembut, Sebuah Tradisi Syawalan Meriah di Bagian Timur Kota Semarang

AKURAT.CO Sejarah, Di kawasan Pedurungan, bagian timur Kota Semarang, tradisi Syawalan memiliki keunikan tersendiri yang disebut sebagai "Kupat Jembut."

Nama yang terdengar unik ini memiliki sejarah panjang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.

Tradisi ini bukan hanya menghadirkan kebersamaan, tetapi juga menunjukkan kekreatifitasan dan semangat kebersyukuran setelah berpuasa.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Sejarah: Pemeliharaan dan Pelestarian Cagar Budaya, Makam Raja Mataram di Kotagede

Kupat Jembut: Uniknya Ketupat Taoge

Tradisi Kupat Jembut bermula dari nama yang terkesan unik, di mana "Kupat" adalah kependekan dari Ketupat dan "Jembut" diambil agar lebih mudah disebut.

Ketupat yang disajikan dalam tradisi ini diiris tengahnya dan diisi dengan taoge yang mirip rambut dan sayuran.

Imam Masjid Rudlotul Muttaqin di kawasan kampung Jaten Cilik Pedurungan, Munawir, menyatakan bahwa nama ini hanyalah untuk kemudahan penyebutan, sebenarnya kue ini adalah Ketupat Taoge.

Meriahnya Tradisi Syawalan Kupat Jembut

Tradisi Kupat Jembut di kawasan Masjid Rudlotul Muttaqin digelar setiap tahun setelah salat Subuh.

Acara dimulai dengan anak-anak yang berkumpul untuk berebut ketupat dan uang.

Kemeriahan terasa ketika warga memberikan tanda dari rumahnya, dan anak-anak berlarian untuk mendapatkan ketupat atau uang.

Meskipun hujan rintik-rintik turun, tetapi semangat dan kegembiraan tradisi Syawalan tetap menyala.

Baca Juga: Hari Ini Dalam Sejarah 21 Januari: Hari Pelukan Nasional, Menyebarkan Kebaikan dengan Kelembutan

Sejarah Kupat Jembut: Jejak Turun-Temurun

Asal muasal tradisi Kupat Jembut ini belum tercatat resmi, namun menurut penuturan turun-temurun, tradisi ini sudah ada sejak sekitar tahun 1950.

Pada masa itu, warga Pedurungan kembali dari pengungsian di daerah Mranggen, Demak, dan Gubug, Grobogan, setelah mengalami Perang Dunia II.

Imam Masjid Rudlotul Muttaqin menjelaskan bahwa di masa sulit tersebut, warga selalu bersyukur kepada Allah dengan berpuasa dan menggelar Syawalan.

Namun, karena kondisi ekonomi sulit, Syawalan diadakan secara sederhana hanya dengan menyajikan ketupat yang diisi taoge dan sayuran.

"Penamaan itu untuk kemudahan saja. Kupatnya memang seperti ada rambutnya. Orang-orang menyebutnya Kupat Jembut. Tapi untuk awal-awalnya karena kesederhanaan sebetulnya kami menyebutnya kupat taoge," jelas Munawir.

Perkembangan Tradisi dan Nilai Sejarahnya

Meskipun Kupat Jembut pada awalnya diisi dengan petasan sebagai bentuk protes pada situasi Indonesia tahun 1965, seiring dengan perbaikan keadaan, tradisi ini berkembang menjadi penyajian ketupat dan jajanan.

Belakangan, Kupat Jembut juga diselipi plastik berisi uang, menambah semarak dan kegembiraan dalam tradisi Syawalan di Pedurungan.

Baca Juga: Hari Ini Dalam Sejarah 21 Januari: Mengulik Sejarah Kota Samarinda dan Hari Jadi yang Megah

Penutup: Tradisi Kupat Jembut, Jejak Sejarah dan Kebahagiaan Bersama

Tradisi Kupat Jembut di kawasan Pedurungan bukan hanya sekadar kegiatan budaya, tetapi juga menjadi bentuk kebersamaan dan kegembiraan dalam menyambut hari kemenangan setelah sebulan berpuasa.

Jejak sejarah yang dimulai sejak tahun 1950 tetap hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi, mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang dan perubahan kondisi sosial ekonomi.

Dalam rintik hujan, semangat tradisi ini tetap berkobar, menunjukkan bahwa kebersamaan dan syukur adalah harta yang tak ternilai.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.