Jateng

Hari Ini Dalam Sejarah 21 Januari: Mengulik Sejarah Kota Samarinda dan Hari Jadi yang Megah

Theo Adi Pratama | 21 Januari 2024, 09:53 WIB
Hari Ini Dalam Sejarah 21 Januari: Mengulik Sejarah Kota Samarinda dan Hari Jadi yang Megah

AKURAT.CO Sejarah, Pada tanggal 21 Januari, seiring dengan perubahan kalender, kita tidak hanya memperingati peristiwa historis global, tetapi juga merayakan momen bersejarah bagi Kota Samarinda.

Salah satu peristiwa paling istimewa adalah Hari Jadi Kota Samarinda yang ditetapkan sejak 21 Januari 1668.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Sejarah di Yogyakarta: Pasar Jimbaran, Pusat Perdagangan Bersejarah di Paling Timur Gunungkidul

Asal-usul Nama Samarinda: "Sama" dan "Rendah"

Kisah awal Kota Samarinda diabadikan dalam buku Sejarah Kota Samarinda (1986), yang mencatat bahwa nama "Samarinda" berasal dari bahasa Melayu.

Kata tersebut terdiri dari dua suku kata, yaitu "sama" dan "rendah". Keunikan nama ini terkait erat dengan pola rumah rakit-terapung penduduk di Samarinda Seberang pada masa itu.

Seluruh rumah rakit tersebut dibangun dengan tinggi yang sama rata, tanpa ada yang lebih tinggi dari yang lain.

Inilah yang memberikan inspirasi untuk menyebutnya "sama" dan "rendah."

Sebuah cerminan kesetaraan dan kebersamaan yang terwujud dalam desain rumah mereka.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Pasar Ngrancah, Jejak Sejarah Pasar Pemerintah di Gunungkidul

Sejarah Samarinda dan Perang Gowa

Untuk memahami lebih jauh berdirinya Kota Samarinda, kita dapat merujuk pada buku Ayo Mengenal Indonesia: Kalimantan 1 (2020) karya N. Arie Any.

Berdasarkan penjelasan dalam buku tersebut, berdirinya Samarinda masih berkaitan dengan Perang Gowa pada tahun 1666-1669 M.

Perang Gowa melibatkan Kerajaan Gowa dan Belanda yang dibantu oleh Aru Palaka.

Belanda, dengan bantuan Aru Palaka, akhirnya berhasil menaklukkan Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin.

Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667 Masehi menjadi bukti formal penaklukan ini.

Meskipun perjanjian tersebut disepakati, warga setempat, terutama warga Bugis Bajo, tidak patuh.

Mereka memilih melarikan diri ke Kerajaan Kutai dan, atas persetujuan Kerajaan Kutai, menetap di sekitar muara Sungai Karang Mumus (sekarang Selili Seberang).

Namun, karena kondisi daerah tersebut kurang memadai untuk dijadikan tempat tinggal permanen, warga kembali pindah ke daerah yang kemudian dikenal sebagai Seberang.

Di sana, mereka membangun rumah-rumah rakit yang menjadi cikal bakal Kota Samarinda.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Kuno di Yogyakarta: Perjalanan Sejarah Sekolah di Semanu, dari Sekolah Rakyat hingga Sekolah Dasar Negeri

Peringatan Hari Jadi Kota Samarinda

Melalui Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor: 1 Tahun 1988 tanggal 21 Januari 1988, diputuskan bahwa "Hari Jadi Kota Samarinda ditetapkan tanggal 21 Januari 1668 M bertepatan dengan Tanggal 5 Sya'ban 1078 H."

Sejak saat itu, setiap tahunnya, tanggal ini diabadikan sebagai momen bersejarah bagi warga Samarinda.

Hari Jadi Kota Samarinda bukan hanya sekadar catatan historis.

Ia memuat kisah perjalanan panjang, ketahanan, dan pertumbuhan kota yang kini menjadi pusat kegiatan ekonomi, budaya, dan sosial di Kalimantan Timur.

Peringatan ini bukan hanya untuk mengenang, tetapi juga untuk merayakan keberlanjutan dan masa depan yang cerah bagi Kota Samarinda.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.