Sejarah Kuliner Nusantara: Kupat Jembut, Sebuah Tradisi Syawalan Meriah di Bagian Timur Kota Semarang

AKURAT.CO Sejarah, Di kawasan Pedurungan, bagian timur Kota Semarang, tradisi Syawalan memiliki keunikan tersendiri yang disebut sebagai "Kupat Jembut."
Nama yang terdengar unik ini memiliki sejarah panjang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
Tradisi ini bukan hanya menghadirkan kebersamaan, tetapi juga menunjukkan kekreatifitasan dan semangat kebersyukuran setelah berpuasa.
Kupat Jembut: Uniknya Ketupat Taoge
Tradisi Kupat Jembut bermula dari nama yang terkesan unik, di mana "Kupat" adalah kependekan dari Ketupat dan "Jembut" diambil agar lebih mudah disebut.
Ketupat yang disajikan dalam tradisi ini diiris tengahnya dan diisi dengan taoge yang mirip rambut dan sayuran.
Imam Masjid Rudlotul Muttaqin di kawasan kampung Jaten Cilik Pedurungan, Munawir, menyatakan bahwa nama ini hanyalah untuk kemudahan penyebutan, sebenarnya kue ini adalah Ketupat Taoge.
Meriahnya Tradisi Syawalan Kupat Jembut
Tradisi Kupat Jembut di kawasan Masjid Rudlotul Muttaqin digelar setiap tahun setelah salat Subuh.
Acara dimulai dengan anak-anak yang berkumpul untuk berebut ketupat dan uang.
Kemeriahan terasa ketika warga memberikan tanda dari rumahnya, dan anak-anak berlarian untuk mendapatkan ketupat atau uang.
Meskipun hujan rintik-rintik turun, tetapi semangat dan kegembiraan tradisi Syawalan tetap menyala.
Baca Juga: Hari Ini Dalam Sejarah 21 Januari: Hari Pelukan Nasional, Menyebarkan Kebaikan dengan Kelembutan
Sejarah Kupat Jembut: Jejak Turun-Temurun
Asal muasal tradisi Kupat Jembut ini belum tercatat resmi, namun menurut penuturan turun-temurun, tradisi ini sudah ada sejak sekitar tahun 1950.
Pada masa itu, warga Pedurungan kembali dari pengungsian di daerah Mranggen, Demak, dan Gubug, Grobogan, setelah mengalami Perang Dunia II.
Imam Masjid Rudlotul Muttaqin menjelaskan bahwa di masa sulit tersebut, warga selalu bersyukur kepada Allah dengan berpuasa dan menggelar Syawalan.
Namun, karena kondisi ekonomi sulit, Syawalan diadakan secara sederhana hanya dengan menyajikan ketupat yang diisi taoge dan sayuran.
"Penamaan itu untuk kemudahan saja. Kupatnya memang seperti ada rambutnya. Orang-orang menyebutnya Kupat Jembut. Tapi untuk awal-awalnya karena kesederhanaan sebetulnya kami menyebutnya kupat taoge," jelas Munawir.
Perkembangan Tradisi dan Nilai Sejarahnya
Meskipun Kupat Jembut pada awalnya diisi dengan petasan sebagai bentuk protes pada situasi Indonesia tahun 1965, seiring dengan perbaikan keadaan, tradisi ini berkembang menjadi penyajian ketupat dan jajanan.
Belakangan, Kupat Jembut juga diselipi plastik berisi uang, menambah semarak dan kegembiraan dalam tradisi Syawalan di Pedurungan.
Baca Juga: Hari Ini Dalam Sejarah 21 Januari: Mengulik Sejarah Kota Samarinda dan Hari Jadi yang Megah
Penutup: Tradisi Kupat Jembut, Jejak Sejarah dan Kebahagiaan Bersama
Tradisi Kupat Jembut di kawasan Pedurungan bukan hanya sekadar kegiatan budaya, tetapi juga menjadi bentuk kebersamaan dan kegembiraan dalam menyambut hari kemenangan setelah sebulan berpuasa.
Jejak sejarah yang dimulai sejak tahun 1950 tetap hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi, mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang dan perubahan kondisi sosial ekonomi.
Dalam rintik hujan, semangat tradisi ini tetap berkobar, menunjukkan bahwa kebersamaan dan syukur adalah harta yang tak ternilai.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Profil Instagram Ko Hyung-jin Wasit Indonesia vs Malaysia, Sejarah Kelam 2019 Kembali Terbayang usai Tom Haye Dikartu Merah!
- 2LIVE SCORE Indonesia vs Malaysia, Skor 0-0 Menit ke-70 Thom Haye Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME Menang Siapa?
- 3Kalender Jawa Oktober 2026: Weton, Neptu, dan Rekomendasi Hari Baik untuk Hajatan
- 4Laga PERSIKU VS PSIS BATAL DIGELAR! Ini Alasan Manajemen Tuan Rumah Terkait Pembatalan Pertandingan
- 5Laga Persiku vs PSIS Mendadak BATAL Digelar, Netizen: Harusnya Tuan Rumah Kalah WO!
- 6F1 Ubah Jadwal GP Azerbaijan ke Sabtu, Ternyata Ini Penyebabnya
- 7Panduan Lengkap Kalender Jawa November 2026, dari Minggu Pahing hingga Senin Legi
- 8MotoGP 2026 Masuki Fase Akhir: Ini Jadwal Lengkap Sisa Balapan
- 9PLN Umumkan Pemeliharaan Jaringan di Semarang Timur, Listrik Padam 6 Jam
- 10TNT Awards Jateng 2026 Dorong Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah







