Jateng

Sejarah Terbentuknya Candi Bahal: Bangunan Maha Karya Bersejarah di Sumatra Utara

Theo Adi Pratama | 31 Desember 2023, 10:00 WIB
Sejarah Terbentuknya Candi Bahal: Bangunan Maha Karya Bersejarah di Sumatra Utara

AKURAT.CO Sejarah, Candi, sebuah kata yang seringkali terhubung dengan megahnya Borobudur dan Prambanan di Jawa.

Namun, tahukah Kawan bahwa Sumatra Utara juga memiliki sebuah candi yang luar biasa, dikenal sebagai Candi Bahal atau Candi Portibi?

Berada di wilayah Padang Lawas, tepatnya di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara, candi ini memberikan kejutan sejarah tersendiri.

Candi Bahal, yang letaknya sekitar 400 km dari Medan, membedakan dirinya dengan Borobudur dan Prambanan dalam hal bahan konstruksi.

Baca Juga: Misteri Bendungan Pamarayan: Jejak Sejarah dan Mistis Bendungan yang Ada Sejak Masa Kesultanan Ageng Tirtayasa

Jika candi di Jawa menggunakan batu, Candi Bahal justru dibuat dari bata merah.

Namun, bukan hanya bahan bangunan yang membedakan Candi Bahal, tetapi juga sejarahnya yang kaya dan menarik.

Asal-usul Candi Bahal menjadi fokus para ahli sejarah, dan beberapa nama seperti Franz Junghun, Von Rosenberg, Kerkhoff, Schnitgerlah, Krom, dan Bosch turut mencari tahu lebih lanjut.

Mereka mencatat temuan-temuan berharga dan memberikan interpretasi masing-masing terkait kompleks candi di Padang Lawas.

Franz Junghun, seorang ahli geologi dan komisaris Hindia Timur pada tahun 1846, menyimpan catatan tertua tentang penemuan kompleks candi di Padang Lawas.

Baca Juga: Sejarah Perjalanan Stasiun Cirebon Prujakan: Bangunan Bersejarah dengan Jejak Kolonial dan Perkembangan Perkeretaapian

Von Rosenberg pada tahun 1854 membawa beberapa fragmen arca Buddha dari Padang Lawas ke Museum Batavia.

Kerkhoff, kontrolir di Tapanuli pada tahun 1887, menggambarkan "biara" yang merupakan istilah setempat untuk candi.

Schnitgerlah, kurator di Museum Palembang, yang melakukan ekspedisi arkeologi di Sumatra pada tahun 1935-1936, memiliki tulisan terlengkap tentang candi-candi di Padang Lawas.

Menurutnya, candi-candi ini dibangun bersama stupa-stupa di Muara Takus pada abad ke-12 dan 13 Masehi.

Baca Juga: Jejak Sejarah: Perjalanan Stasiun Alastua, Saksi Bisu Awal Pembangunan Kereta Api di Indonesia

Krom, peneliti Belanda pada tahun 1923, mencatat bahwa gaya seni pahat bangunan di Padang Lawas tidak mirip dengan gaya seni di Jawa.

Ia lebih cenderung menghubungkan peninggalan di Padang Lawas dengan gaya seni pahat di India Selatan atau Asia Tenggara, dan mengaitkannya dengan Kerajaan Sriwijaya.

Bosch pada tahun 1930 memberikan teori bahwa masyarakat pendukung candi di Padang Lawas adalah pemeluk agama Buddha aliran Wajrayana.

Teorinya didasarkan pada arca dan relief yang menggambarkan wajah-wajah menyeramkan dan prasati singkat yang bertuliskan mantra-mantra aliran Tantris.

Candi Bahal terdiri dari tiga bangunan utama: Candi Bahal I, Candi Bahal II, dan Candi Bahal III. Ketiganya berdiri dalam satu garis lurus dan saling berhubungan.

Baca Juga: Sejarah Perjalanan Stasiun Lempuyangan: Pusaka Bersejarah di Jantung Yogyakarta

  1. Candi Bahal I:

    • Letaknya di tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya.
    • Luas pelataran mencapai 3000 m2 dengan pagar bata merah setinggi 60 cm.
    • Dindingnya memiliki pahatan yang menggambarkan orang yang sedang menari.
    • Atapnya berbentuk dagoba dengan pahatan untaian bunga di tepian.
  2. Candi Bahal II:

    • Letaknya sekitar 100 meter dari jalan.
    • Dikelilingi oleh pagar bata.
    • Bangunan utamanya tidak seluas Candi Bahal I.
    • Isinya berupa ruang kosong dengan pintu masuk tanpa hiasan pahatan.
    • Atapnya berbentuk limas dengan puncak bersegi empat.
  3. Candi Bahal III:

    • Letaknya sekitar 100 meter dari jalan, diakses melalui jalan setapak.
    • Dikelilingi oleh pagar bata.
    • Pintunya tidak berhias, tetapi dindingnya memiliki pahatan bermotif menyerupai bunga.
    • Atapnya mirip dengan Candi Bahal II.

Candi Bahal, dengan sejarah dan keindahannya, menjadi warisan berharga Sumatra Utara.

Dengan catatan sejarah yang dalam dan keunikannya, Candi Bahal layak menjadi destinasi wisata yang memikat bagi mereka yang ingin menjelajahi kekayaan budaya Indonesia yang tersembunyi.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.