Salah Satu Sejarah Raden Saleh: Seniman dan Arkeolog Indonesia yang Menggali Jejak Fosil

AKURAT.CO Sejarah, Nama Raden Saleh sempat mencuat dan trending di Twitter, tak lepas dari tayangnya film "Mencuri Raden Saleh" karya Angga Dwimas Sasongko.
Film yang meraih perhatian lebih dari 2,2 juta penonton ini mengisahkan pencurian lukisan fenomenal Raden Saleh berjudul "Penangkapan Pangeran Diponegoro."
Lukisan ini hanyalah satu dari banyak karya Raden Saleh yang menyimpan kisah menarik.
Baca Juga: Kebaya Janggan: Pesona Elegan dengan Sejarah Perlawanan
Raden Saleh: Seniman dan Arkeolog yang Multitalenta
Raden Saleh bukan hanya seorang seniman lukis terkenal, melainkan juga memiliki kontribusi besar di bidang arkeologi.
Museum Manusia Purba Sangiran menampilkan lukisan Raden Saleh sebagai bentuk penghormatan terhadap perannya dalam penggalian sejarah manusia purba di Indonesia.
Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Iskandar Mulia Siregar, menyebutkan bahwa lukisan Raden Saleh menjadi bagian dari ruang pameran karena perannya yang signifikan dalam eksplorasi fosil di Indonesia.
Meskipun Raden Saleh bukan seorang arkeolog, namun ia diakui sebagai pionir dalam penggalian fosil yang menjadi landasan arkeologi di tanah air.
Penggalian Fosil Raden Saleh: Sebuah Perjalanan yang Menarik
Perjalanan Raden Saleh di dunia arkeologi dimulai pada Desember 1865, ketika ia melakukan penggalian pertama di dekat Desa Bayunganti, Sentolo.
Motivasi Raden Saleh untuk memulai penggalian ini muncul dari informasi setempat tentang temuan objek yang mirip tulang selama proses pengerjaan sawah.
Kecurigaan akan peninggalan masa purba mendorongnya membayar 60 kuli untuk melakukan penggalian massif.
Iskandar Mulia Siregar menjelaskan bahwa di wilayah tersebut, pada tahun 2021, fosil hewan yang hampir serupa dengan hasil temuan Raden Saleh kembali ditemukan.
Fosil ini berupa tulang belakang mamalia laut, yang kemungkinan adalah paus.
Meskipun belum jelas metode penggalian Raden Saleh, temuan ini memberikan petunjuk akan kontribusinya dalam penemuan fosil di Indonesia.
Baca Juga: Mengulik Sejarah dan Kisah Mohammad Hatta: Sepak Bola di Hati, Perjuangan di Jiwa
Pembelajar dan Pemburu Fosil Ulung
Sebagai seorang seniman, Raden Saleh juga dikenal sebagai pembelajar ulung.
Ketika tinggal di Jerman, ia diasuh oleh pasangan ilmuwan Fredrich Anton dan Friedericke Serre.
Dari diskusi dengan Profesor Bernhard von Cotta, seorang ahli geologi dan paleontologi, minat Raden Saleh terhadap paleontologi tumbuh.
Setelah kembali ke Indonesia, Raden Saleh terus mengembangkan minatnya dalam ilmu paleontologi.
Sebagai petugas Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, ia menjalankan tugasnya mencari naskah-naskah dan barang antik.
Pekerjaannya inilah yang membawanya melakukan penggalian fosil di berbagai tempat di Jawa.
Penelitian dan Pengabdian untuk Negeri
Raden Saleh melakukan penggalian fosil pertamanya di Desa Bayunganti pada Desember 1865.
Dalam suratnya kepada Ketua Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Alexander Loudon, Raden Saleh menyampaikan bahwa ia menemukan tulang yang membatu.
Temuannya ini, meskipun tidak seluruhnya dapat dibawa utuh, menjadi dasar bagi penelitian fosil di Indonesia.
Selama perjalanan hidupnya, Raden Saleh juga melakukan penggalian fosil di daerah Kedungbrubus, Ngawi, Jawa Timur.
Lokasi ini dipilih berdasarkan mitos setempat tentang tulang raksasa.
Hasil temuan Raden Saleh kemudian menjadi acuan bagi penelitian lebih lanjut, termasuk oleh ilmuwan terkenal seperti Dubois yang mempublikasikan temuan Pithecanthropus erectus dari Trinil.
Baca Juga: Sejarah Istilah Gerbangkertosusila: Mengungkap Pesona Metropolitan Jawa Timur
Warisan dan Kekayaan Negeri
Hasil temuan Raden Saleh, seperti gigi, tulang ikan, dan fosil kerang, kini masih tersimpan di Naturalis Biodiversity Center, Leiden.
Meskipun kegiatan pemburuan fosil tidak secara langsung berkaitan dengan lukisan-lukisannya, namun minatnya terhadap paleontologi memberikan kontribusi besar dalam menggali sejarah manusia purba di Indonesia.
Aminudin Siregar, kurator seni rupa dan kandidat doktor sejarah di Leiden Universiteit, menyatakan bahwa Raden Saleh tidak hanya melukis sebagai hasil dari kegiatan paleontologinya, namun juga sebagai wujud perjalanan seni yang tak terpisahkan dari eksplorasi arkeologisnya.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Profil Instagram Ko Hyung-jin Wasit Indonesia vs Malaysia, Sejarah Kelam 2019 Kembali Terbayang usai Tom Haye Dikartu Merah!
- 2LIVE SCORE Indonesia vs Malaysia, Skor 0-0 Menit ke-70 Thom Haye Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME Menang Siapa?
- 3Kalender Jawa Oktober 2026: Weton, Neptu, dan Rekomendasi Hari Baik untuk Hajatan
- 4Laga PERSIKU VS PSIS BATAL DIGELAR! Ini Alasan Manajemen Tuan Rumah Terkait Pembatalan Pertandingan
- 5Laga Persiku vs PSIS Mendadak BATAL Digelar, Netizen: Harusnya Tuan Rumah Kalah WO!
- 6F1 Ubah Jadwal GP Azerbaijan ke Sabtu, Ternyata Ini Penyebabnya
- 7Panduan Lengkap Kalender Jawa November 2026, dari Minggu Pahing hingga Senin Legi
- 8MotoGP 2026 Masuki Fase Akhir: Ini Jadwal Lengkap Sisa Balapan
- 9PLN Umumkan Pemeliharaan Jaringan di Semarang Timur, Listrik Padam 6 Jam
- 10TNT Awards Jateng 2026 Dorong Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah









