Jateng

Kebaya Janggan: Pesona Elegan dengan Sejarah Perlawanan

Theo Adi Pratama | 14 Desember 2023, 09:00 WIB
Kebaya Janggan: Pesona Elegan dengan Sejarah Perlawanan

AKURAT.CO Sejarah, Film Gadis Kretek memperkenalkan keindahan dan keunikan kebaya janggan melalui karakter Dasiyah atau Jeng Yah yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo.

Pakaian yang memukau ini, selain memberikan kesan elegan, juga membawa sejarah tersendiri yang menarik untuk diungkap.

Baca Juga: Hotel Mewah Savoy Homann: Jejak Sejarah di Jantung Kota Kembang Bandung

Asal Usul Kebaya Janggan

Kebaya janggan ternyata sudah muncul sekitar tahun 1830-an menjelang Perang Diponegoro.

Pakaian ini sering dipakai oleh Ratna Ningsih, istri Pangeran Diponegoro, ketika mendampingi suaminya di medan perang.

Kebaya janggan memiliki fungsi lebih dari sekadar busana indah, karena digunakan untuk menyembunyikan patrem (senjata keris putri) saat Ratna Ningsih mendampingi suaminya dalam perang melawan Belanda.

Desain Terinspirasi Eropa dengan Sentuhan Jawa

Desain kebaya janggan terinspirasi dari model seragam militer Eropa pada masa itu, namun dengan ciri khas Jawa yang unik.

Memiliki kancing dan kerah tinggi yang menutupi leher, kebaya ini memiliki perbedaan yang mencolok dibandingkan dengan kebaya tradisional lainnya.

Nama "janggan" sendiri berasal dari kata "jangga," yang berarti leher, merujuk pada kerah tinggi kebaya ini.

Desainnya mencerminkan keindahan dan kesucian perempuan Jawa pada masa tersebut.

Baca Juga: Sejarah Gedung Susteran OSF Gedangan Semarang: Mengikuti Jejak Bersejarah Suster Tarekat OSF dan Pelayanannya di Indonesia

Makna Warna dan Motif Kembang Ratu

Kebaya janggan umumnya berwarna hitam, yang memiliki makna ketegasan, kesederhanaan, dan kedalaman.

Motif kembang pada kebaya ini disebut sebagai "kembang ratu."

Kombinasi warna hitam dengan motif kembang ratu menambah kesan anggun dan mewah pada kebaya ini.

Penggunaan di Kalangan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta

Menurut Kraton Jogja, kebaya janggan adalah busana abdi dalem perempuan yang ada di Keraton Yogyakarta, khususnya estri punakawan.

Estri punakawan adalah istilah untuk istri dari para punakawan di Keraton Yogyakarta.

Kebaya ini digunakan pada acara-acara khusus seperti hajad dalem (sungkeman Keraton saat Idul Fitri) atau caos bekti (tanda penghormatan kepada raja).

Meskipun begitu, kebaya janggan tidak melambangkan pangkat atau tugas khusus bagi para abdi dalem ini.

Baca Juga: Kisah Dibalik Julukan Paris van Java: Kota Bandung yang Mempesona dan Penuh dengan Sejarah

Tradisi dan Pembatasan Penggunaan

Kebaya janggan menjadi bagian dari tradisi di Keraton Yogyakarta, dan dipakai oleh istri punakawan pada acara dan hajat tertentu.

Namun, terdapat pembatasan terkait penggunaannya.

Misalnya, pada acara Hajad Dalem Ngabekten, abdi dalem keparak yang berpangkat magang dan jajar belum diperbolehkan mengenakan kebaya janggan, karena mereka hanya duduk sowan bekti dan tidak melakukan sungkem pada Ngarsa Dalem (raja).

Kebaya janggan, dengan segala keanggunan dan maknanya, bukan sekadar pakaian, melainkan juga bagian dari sejarah perlawanan dan keindahan tradisional Jawa.

Melalui film Gadis Kretek, kebaya janggan semakin dikenal luas dan tetap menjadi pesona yang mampu merentang waktu, menjembatani masa lalu dengan kehadiran yang megah hingga saat ini.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.