Jateng

Hotel Mewah Savoy Homann: Jejak Sejarah di Jantung Kota Kembang Bandung

Theo Adi Pratama | 13 Desember 2023, 16:00 WIB
Hotel Mewah Savoy Homann: Jejak Sejarah di Jantung Kota Kembang Bandung

AKURAT.CO Sejarah, Begitu menginjakkan kaki di Jalan Asia Afrika, Bandung, pesona bangunan-bangunan tua yang memukau langsung memikat mata.

Salah satu di antaranya adalah Hotel Savoy Homann, sebuah bangunan megah yang bukan hanya menjadi ikon dalam peristiwa Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955, tetapi juga menyimpan sejarah yang dimulai jauh sebelum hajat besar tersebut berlangsung.

Baca Juga: Mengulik Hotel Savoy Homann: Petualangan Misteri di Hotel Bersejarah Bandung, Tempat Soekarno Menginap

Asal Mula Savoy Homann

Hotel ini, yang terkenal dengan arsitektur gaya art-deco dan nuansa warna abu-putihnya, telah berdiri sejak tahun 1871.

Pada awalnya, gedung ini tidak seindah dan semegah saat ini.

Pada masa kolonial Belanda, lokasi yang sekarang menjadi hotel tiga lantai ini merupakan rumah milik keluarga Homann, sebuah keluarga berkebangsaan Jerman.

Menurut Revina Tova Nugraha, Public Relation Savoy Homann Bandung, pada masa itu, keluarga Homann menjadikan rumahnya sebagai hotel dengan bangunan yang lebih kecil.

"Savoy itu artinya megah, dan Homann diambil dari nama keluarga. Jadi Savoy Homann itu artinya hotel megah milik keluarga Homann," ungkapnya.

Nama "Savoy Homann" baru dipakai pada tahun 1939, sebelumnya dikenal sebagai "Hotel Homann."

Perekonomian Kota Bandung dan Savoy Homann

Perubahan signifikan terjadi pada tahun 1939 ketika hotel ini dibangun dengan gaya hyper-modern Art Deco Streamline oleh arsitek terkenal, AF Aalbers.

Desain inovatif tersebut masih dipertahankan hingga saat ini. Pada periode ini, Bandung menjadi pusat perhatian karena pembukaan jalur kereta api dari Batavia ke Bandung melalui Bogor dan Cianjur.

Baca Juga: Eksplorasi Hotel Angker dan Misteri di Bandung: Kisah Mistis di Balik Kemewahan Kota Kembang

Para pemilik perkebunan teh (Preanger Planters) banyak memanfaatkan jalur ini untuk mengirim hasil perkebunan mereka ke Batavia.

Sehingga, Bandung menjadi tujuan banyak pengusaha, termasuk pengusaha perkebunan gula (Suiker Planters) dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Saat itu di Bandung belum ada hotel, jadi tamu-tamu banyak menginap di sini," jelas Revina.

Peninggalan KAA dan Kejayaan Savoy Homann

Pada tahun-tahun berikutnya, Savoy Homann menjadi saksi berbagai peristiwa bersejarah dan tak pernah sepi dari kunjungan, termasuk para tamu penting.

Berbagai acara penting seperti kongres teh dunia, kongres pengusaha gula, kongres organisasi PBB, dan lainnya diselenggarakan di hotel ini.

Puncak kejayaan Savoy Homann terjadi pada tahun 1955 ketika menjadi tempat menginap para delegasi negara Konferensi Asia Afrika.

Beberapa pemimpin negara besar seperti Presiden RI Sukarno, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, hingga Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok Zhou Enlai bermalam di tempat ini.

Jejak sejarah Konferensi Asia Afrika masih diabadikan di Savoy Homann hingga saat ini.

Tiga kamar yang digunakan oleh tiga petinggi negara mendapatkan cenderamata khusus sesuai dengan karakter negara masing-masing, serta kolase foto saat konferensi untuk mengenang sejarah.

Baca Juga: Eksplorasi Tempat Angker dan Misteri serta Serunya Mengunjungi Wisata Mistis di Kota Bandung

Pameran Jejak Sejarah di Savoy Homann

Di bagian lobi hotel, terdapat 'golden book' Konferensi Asia Afrika yang memuat daftar tamu yang hadir beserta tulisan tangan masing-masing pada masa itu.

"Kita juga memajang cutlery set (alat makan) yang dipakai para tamu KAA. Ada sendok, piring, dan cangkir yang kita abadikan," jelas Revina.

Savoy Homann, dengan keindahan arsitektur dan nilai sejarah yang mengagumkan, tetap menjadi destinasi yang menyimpan kisah-kisah menarik.

Melalui perjalanan panjangnya, hotel ini bukan hanya sekadar tempat menginap, tetapi menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Kota Bandung dan peristiwa monumental Konferensi Asia Afrika.

Sebuah tempat yang mengajak setiap pengunjung untuk meresapi kekayaan sejarah yang masih hidup hingga kini.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.