Jateng

Mengungkap Kekayaan Sejarah dan Kebudayaan di Binjai, Kota yang Mengagumkan di Sumatra Utara

Theo Adi Pratama | 4 Maret 2024, 12:00 WIB
Mengungkap Kekayaan Sejarah dan Kebudayaan di Binjai, Kota yang Mengagumkan di Sumatra Utara

AKURAT.CO Sejarah, Binjai, sebuah kota yang terletak 22 kilometer di sebelah barat kota Medan, adalah sebuah tempat yang kaya akan sejarah, budaya, dan keindahan alam.

Namun, siapa sangka, di balik gemerlapnya kota ini, tersembunyi cerita-cerita menarik yang telah membentuk identitasnya selama berabad-abad.

Ihwal toponimi Binjai sendiri memiliki akar sejarah yang menarik.

Catatan penjelajah Skotlandia, John Anderson pada tahun 1823, menjadi salah satu jejak awal tentang keberadaan kota ini.

Baca Juga: Kisah Perjalanan Lapangan Simpang Lima Semarang: Ikon Kota Semarang dengan Sejarah yang Megah

Ketika Anderson memasuki pedalaman Sumatra, ia menemukan sebuah perkampungan kecil di pinggir Sungai Bingai.

Dalam catatannya, ia menyebut bahwa rumah-rumah penduduk dibangun di bawah pohon binjai yang rindang, memberikan inspirasi bagi nama daerah tersebut.

Namun, versi lain menyebutkan bahwa nama Binjai berasal dari kata "ben-ijai" dalam bahasa Karo yang berarti "singgah di sini".

Daerah Binjai di masa lalu merupakan jalur dagang orang Karo yang ingin memperdagangkan hasil bumi dengan garam di kawasan pesisir.

Perjalanan panjang ini membutuhkan tempat singgah, dan dari situlah kemudian lahir istilah "Binjai" yang menandakan tempat untuk beristirahat dan berdagang.

Baca Juga: Jejak Sejarah dan Asal Nama Desa Boja: Kisah Perjalanan dari Pionir Hingga Desa yang Berjaya di Kendal

Perjalanan sejarah Binjai pun terus berlanjut, terutama pada masa kolonial dimana kota ini masuk dalam wilayah konsesi perkebunan tembakau.

Namun, perlawanan dari tokoh setempat seperti Datuk Sunggal, yang menentang penyerahan tanah kepada Belanda, mengakibatkan Perang Sunggal yang terjadi pada tahun 1872.

Peristiwa penting ini bahkan menetapkan tanggal 17 Mei sebagai hari jadi kota Binjai, meskipun beberapa sejarawan memperdebatkan tanggal ini.

Selama masa pendudukan Jepang, Binjai menjadi saksi dari peristiwa toleransi agama yang patut dicontoh.

Meskipun dipaksa untuk melakukan upacara "seikere" sebagai wujud pemuliaan kepada kaisar Jepang, masyarakat dari berbagai agama di Binjai saling membantu dan mendukung satu sama lain dalam menghadapi tekanan tersebut.

Baca Juga: Jejak Sejarah dan Asal Nama Ngaliyan: Kisah Unik di Balik Nama-Nama Tempat di Semarang

Setelah kemerdekaan Indonesia, Binjai terus berkembang sebagai ibukota Kabupaten Langkat dan menjadi kota penyangga yang strategis bagi kota Medan.

Statusnya sebagai kota satelit tidak mengurangi ciri khasnya sendiri, terutama dalam bidang pertanian, dimana Binjai dikenal dengan rambutannya yang legit dan manis yang tumbuh subur di daerah ini.

Selain itu, Binjai juga menjadi tempat lahirnya beberapa tokoh nasional yang berpengaruh, seperti Mohammad Isa dan Bachtiar Siagian.

Bahkan di kalangan generasi milenial, nama seperti Paris Pernandes, petinju pohon pisang yang menjadi artis dadakan dengan slogan "Salam dari Binjai", menjadi cerita menarik lainnya dari kota ini.

Dari sejarah yang kaya hingga kekayaan budaya dan alamnya yang mempesona, Binjai tidak hanya menjadi kota yang mengagumkan di Sumatra Utara, tetapi juga menunjukkan warisan yang patut dijaga dan diselamatkan untuk generasi mendatang.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.