Jateng

Keindahan Sejarah Masjid Agung Jepara: Jejak Ukiran Kayu dan Karya Arsitektur

Theo Adi Pratama | 8 Februari 2024, 15:00 WIB
Keindahan Sejarah Masjid Agung Jepara: Jejak Ukiran Kayu dan Karya Arsitektur

AKURAT.CO Sejarah, Kabupaten Jepara, selain dikenal sebagai tempat kelahiran Pahlawan Nasional Raden Ajeng Kartini, juga memiliki reputasi sebagai pusat karya ukiran kayu, terutama dari kayu jati.

Salah satu monumen yang menonjolkan keindahan ukiran kayu dan karya arsitekturnya adalah Masjid Agung Jepara.

Saat memasuki area masjid, pengunjung disambut dengan sebuah gerbang tembok besar yang menjadi identitas utama masjid.

Baca Juga: Menelusuri Keindahandan Sejarah Masjid al-Wustho Mangkunegan: Peninggalan dari Keraton Mangkunegaran

Dari situ, keseluruhan bangunan masjid terlihat dengan jelas.

Gaya arsitektur masjid ini mencirikan ciri khas masjid Nusantara dengan atap berbentuk limas susun tiga, hasil dari renovasi pada tahun 1686.

Sebelum renovasi, atap masjid ini terdiri dari lima susunan.

Badan bangunan masjid menyerupai rumah klasik Belanda, dengan bangunan berbentuk empat persegi panjang di bagian tengah dan sayap di kedua sisinya.

Baca Juga: Menelusuri Sejarah dan Keagungan Masjid Agung Surakarta: Masjid Peninggalan Kerajaan Mataram

Penggunaan elemen kayu ukir mulai terlihat saat memasuki serambi masjid. Kayu ukir digunakan pada plafon, bukaan jendela bagian atas, dan pintu masuk ruang utama.

Begitu masuk ke ruang utama, mata pengunjung akan dimanjakan oleh berbagai ukiran kayu jati yang sangat detail.

Tiang penyangga besar dari beton berlapis kayu jati dihiasi dengan ukiran di bagian bawahnya.

Plafon masjid yang terbuat dari kayu dipercantik dengan elemen ukiran di bagian tengahnya.

Baca Juga: Masjid Raya Al Muttaqun: Menyatu dalam Kebesaran Sejarah dan Kebanggaan Klaten

Mihrab masjid menjadi pusat perhatian dengan kaligrafi surat Al-lkhlas, Al-Falaq, An-Naas, Al-Kafiruun, dan ayat Kursi yang terukir dengan indah.

Motif ukiran yang digunakan merupakan gabungan beberapa motif.

Motif Majapahit terlihat dari paduan bentuk geometris cembung dan cekung, motif Semarangan dengan motif daun beralur lembut khas Jawa, dan motif Pajajaran dengan pola ukiran yang cembung.

Bangunan masjid telah mengalami tiga kali renovasi, yaitu pada tahun 1686, 1929, dan yang terakhir pada tahun 1989 dengan memasukkan struktur pembangunan modern.

Selain sebagai tempat ibadah dan pusat syiar Islam, Masjid Agung Jepara juga menjadi destinasi bagi pengunjung domestik maupun internasional yang tertarik menikmati dan meneliti keunikan interior masjid ini.

Secara tidak langsung, masjid ini telah menjadi ikon Kabupaten Jepara itu sendiri, memancarkan keindahan seni dan keagungan arsitektur yang memikat.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.