Jateng

Sejarah dan Kebudayaan di Indonesia: Sumur Timba, Jejak Masa Lalu yang Mulai Terlupakan

Theo Adi Pratama | 31 Januari 2024, 14:00 WIB
Sejarah dan Kebudayaan di Indonesia: Sumur Timba, Jejak Masa Lalu yang Mulai Terlupakan

AKURAT.CO Sejarah, Sumur timba, dengan segala keunikannya, membentuk ikon masa lalu Indonesia.

Tradisi ini, yang melibatkan ember yang diikatkan ke tali untuk menimba air, telah ada selama berabad-abad.

Meskipun tradisi ini mulai meredup karena kemajuan zaman dan teknologi, sumur timba tetap menjadi lambang perjuangan masyarakat desa di masa lalu.

Baca Juga: Sejarah Penemuan dan Mitos Candi Songgoriti: Peninggalan Karya Bersejarah di Kota Batu

Seiring berkembangnya teknologi dan munculnya pipa air modern, sumur timba yang dulu menjadi sumber utama air bagi banyak keluarga di desa-desa, mulai terlupakan.

Namun, sumur timba tetap menggambarkan ketergantungan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan dasar, terutama air.

Menurut Gusman J Nawi, keberadaan sumur sangat penting bagi masyarakat asli Jakarta atau Betawi.

Baca Juga: Sejarah Transportasi: Perkembangan Bus di Cirebon pada Zaman Hindia Belanda

Sumur timba bukan hanya tempat untuk mengambil air, tetapi juga menjadi tempat berkumpulnya warga desa, tempat bermain anak-anak, dan bahkan menjadi pusat cerita rakyat yang akar budayanya dalam kehidupan Indonesia.

Lokasi sumur timba tidak dapat ditentukan sembarangan.

Masyarakat perlu memahami kandungan air di bawah tanah dan bahkan melakukan ritual khusus untuk mencari sumber mata air.

Baca Juga: Mitos Larangan Menikah antara Lamongan dan Kediri: Jejak Sejarah Tragedi Cinta Panji Laras dan Panji Liris

Gusman menjelaskan bahwa orang tua di desa memiliki peran penting dalam menentukan lokasi sumur, dan terkadang diperlukan ritual untuk menentukan kandungan air.

Proses penentuan lokasi dimulai dengan menepuk-nepuk tanah yang akan dijadikan sumur.

Suara yang padat dan tidak menggema menandakan tanah tersebut mengandung banyak air.

Ritual lain melibatkan meletakkan setengah batok kelapa di beberapa titik di malam hari, dan pagi harinya diharapkan dapat diketahui sumber air dari cairan dalam batok kelapa.

Baca Juga: Bangunan Sejarah di Yogyakarta: Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, Mengenang Bhakti Wanitatama

Bentuk fisik sumur timba juga memiliki aturan tersendiri. Sumur tersebut biasanya memiliki dinding melingkar dan ditutupi papan agar terlindung dari kotoran.

Di rumah orang Betawi, sumur selalu berada di sebelah kiri.

Ada dua jenis sumur timba berdasarkan bentuk dan fungsinya, yaitu sumur timba bandul senggol dan sumur timba kerek.

Sumur timba bandul menggunakan tiang bambu sebagai penyangga timba, sementara sumur timba kerek menggunakan ember yang diikatkan pada tali untuk menarik air.

Sayangnya, dengan kemajuan zaman, banyak masyarakat pedesaan mulai meninggalkan tradisi sumur timba.

Risiko penurunan kualitas air dan bahkan pencemaran menjadi alasan lingkungan yang memicu perubahan ini.

“Meskipun mungkin bukan lagi bagian integral dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, sumur timba tetap memiliki tempat istimewa dalam sejarah dan budaya negara ini, dan menjadikan kita lebih sadar akan pentingnya pelestarian tradisi dan sumber daya alam kami,” ungkap Gusman.

Dengan itu, sumur timba tetap hidup sebagai jejak masa lalu yang kini perlu dilestarikan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.