Jateng

Perjalanan Sungai Kalimalang: Mengalirkan Sejarah dan Perubahan Kota Bekasi

Theo Adi Pratama | 31 Desember 2023, 13:00 WIB
Perjalanan Sungai Kalimalang: Mengalirkan Sejarah dan Perubahan Kota Bekasi

AKURAT.CO Sejarah, Kalimalang, sungai buatan yang mengalir dari timur ke barat, telah menjadi saksi perubahan peradaban di Kota Bekasi.

Diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 26 Agustus 1967, Kalimalang memiliki panjang sekitar 71 kilometer dan menyilang beberapa sungai alam, seperti Sungai Cirata, Sungai Bekasi, dan Sungai Cakung.

Nama "Kalimalang" diambil karena sungai ini mengalir memalangi sungai-sungai alam tersebut.

Meskipun berada di atas sungai alam, Kalimalang berfungsi sebagai saluran irigasi dan menjadi bagian penting dari sistem distribusi air di wilayah tersebut.

Baca Juga: Misteri Benteng Surosowan: Jejak Sejarah dan Mistis Kolonial Belanda di Kota Serang

Pemerhati sejarah, Ali Anwar, menjelaskan bahwa konsep Kalimalang adalah sebagai sungai yang mengalir di atas sungai alam, yang kemudian bersatu dengan aliran alam tersebut.

Kalimalang membentang dari Waduk Jatiluhur, Purwakarta, melintasi Karawang, Bekasi, hingga Cawang, Jakarta Timur.

Pembangunan Kalimalang dimulai pada era Presiden Soekarno pada tahun 1957 dengan target penyelesaian pada tahun 1962.

Meski proyek ini mengalami keterlambatan akibat persoalan teknis dan situasi politik, warga Bekasi tetap antusias menyumbangkan lahan secara cuma-cuma sebagai bentuk gotong royong, mencerminkan karakter bangsa Indonesia yang solid.

Baca Juga: Misteri Bendungan Pamarayan: Jejak Sejarah dan Mistis Bendungan yang Ada Sejak Masa Kesultanan Ageng Tirtayasa

Pembangunan Kalimalang sendiri merupakan bagian dari kebijakan pemerintah untuk menyediakan pasokan air baku bagi warga Jakarta.

Pada tahun 2018, sekitar 725 meter kubik pasokan air baku untuk warga Jakarta berasal dari aliran air Kalimalang.

Selain itu, Kalimalang juga berfungsi sebagai saluran irigasi yang mengaliri area persawahan warga Bekasi.

Sejak diresmikan, sungai ini telah membawa berkah bagi para petani dengan peningkatan hasil panen hingga dua hingga tiga kali setahun.

Baca Juga: Perjalanan Stasiun Tanggung: Kesaksian Sejarah Perkeretaapian Indonesia di Grobogan

Namun, seperti yang dijelaskan oleh Stefanus Ato dalam bukunya "Kalimalang, Penanda Perubahan Peradaban," kondisi Kalimalang yang semula jernih telah mengalami perubahan.

Air yang dulu begitu jernih hingga berkilau kini tercemar oleh sampah-sampah seperti eceng gondok, plastik, daun kering, dan bahkan bangkai tikus.

Meski begitu, sejumlah warga tetap mengandalkan air Kalimalang untuk kebutuhan sehari-hari mereka, seperti yang diungkapkan oleh Maban yang telah setengah tahun menggunakan air sungai tersebut untuk mandi dan mencuci pakaian.

Kalimalang, sebagai saksi sejarah dan perubahan, menghadirkan kompleksitas dalam dinamika lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Dari kejayaan sebagai saluran air bersih hingga tantangan pencemaran, Kalimalang terus menjadi bagian integral dari perjalanan Kota Bekasi.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.