Jateng

Kenya Masih Rajai Borobudur: Dari Kering hingga Soi, Podium Elite Tak Pernah Lepas dari Tangan Mereka, Siapa Saja Mereka?

Theo Adi Pratama | 24 Oktober 2026, 10:13 WIB
Kenya Masih Rajai Borobudur: Dari Kering hingga Soi, Podium Elite Tak Pernah Lepas dari Tangan Mereka, Siapa Saja Mereka?

JATENG.AKURAT.CO, Di balik riuhnya 12.500 pelari yang berebut slot lewat ballot, ada satu panggung sunyi di mana para jawara dari Kenya dan atlet nasional seperti Noveldi Petingko bertarung bukan hanya soal medali, tapi soal siapa yang paling pantas disebut penakluk Tanjakan Cinta dan rute desa Borobudur.

Borobudur Marathon 2026 bukan cuma pesta bagi pelari rekreasi yang ingin foto di depan candi. Di barisan paling depan, ada kelompok yang datang bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk bekerja. Mereka adalah pelari elite—nama-nama yang masuk daftar start bukan karena undian, tapi karena catatan waktu dan reputasi.

Sejak 2025, Borobudur Marathon memegang status Elite Label dari World Athletics. Label itu bukan hiasan. Ada syarat ketat yang harus dipenuhi, termasuk mengundang setidaknya 12 pelari elite internasional untuk turun di lintasan. Itulah sebabnya, setiap edisi, Borobudur selalu punya “wajah asing” yang larinya bikin pelari lokal hanya bisa geleng-geleng kepala.

Baca Juga: Rekayasa Lalu Lintas Borobudur Marathon 2026: Parkir di Kujon, Jangan Paksa Masuk Ring Satu

Kenya di garis depan: dari Kering hingga Soi

Kalau ada satu negara yang paling sering disebut di papan hasil, itu Kenya. Pada edisi 2025, podium elite putra dikuasai oleh empat pelari Kenya sekaligus. Ezra Kipchumba Kering finis tercepat dengan 2:17:33, disusul Alex Oloitiptip Korio (2:17:43), Kiprop Tonui (2:18:01), dan Edwin Cheruiyot Soi (2:20:21).

Nama terakhir bukan sembarang nama. Edwin Cheruiyot Soi adalah peraih medali perunggu nomor 5.000 meter di Olimpiade Beijing 2008. Ia datang ke Borobudur bukan sebagai pelari muda yang sedang mencari peruntungan, melainkan sebagai veteran yang sudah mencicipi panggung dunia. Di Borobudur 2025, ia finis keempat. Bukan podium, tapi tetap menjadi salah satu cerita paling menarik di edisi itu.

Di kategori putri, Margaret Agai juga dari Kenya, mencatat waktu 2:43:55 dan membawa pulang gelar juara. Sebelumnya, pada 2024, Shauline Chepkirui Koech dan Moses Mbugua Gaikarira juga dari Kenya, menang dengan waktu yang lebih cepat: 2:32:39 dan 2:15:09.

Pola ini sudah berlangsung lama. Sejak 2017, hampir setiap edisi Borobudur Marathon dalam format modern dimenangkan oleh pelari Kenya. Kiprop Tonui menang pada 2017. Geoffrey Birgen pada 2018 dan 2023. Geoffrey Kiprotich pada 2019. Kenya bukan sekadar tamu. Mereka sudah seperti penghuni tetap podium.

Baca Juga: Shuttle Bus Borobudur Marathon 2026 Cuma dari Jogja dan Magelang, Pelari Semarang Harus Cari Akal

Noveldi Petingko: jawara lokal yang tidak gentar

Di tengah dominasi Kenya, ada satu nama yang terus muncul di kategori nasional: Noveldi Petingko, atau sering ditulis Nofeldi Petingko. Pelari asal Poso, Sulawesi Tengah, ini adalah juara bertahan kategori Marathon National putra. Pada 2024, ia finis dengan 2:30:28. Pada 2025, ia mempertahankan gelar dengan 2:33:41.

Catatan waktu itu memang tidak secepat para pelari Kenya. Tapi konteksnya berbeda. Noveldi bertarung di kategori nasional, melawan pelari-pelari Indonesia lain, dan ia melakukannya dengan konsistensi yang jarang dimiliki pelari lokal.

Saat ditanya soal strategi menghadapi Tanjakan Cinta—tanjakan legendaris di kilometer 35—Noveldi tidak punya mantra khusus. “Strategi saya cukup bersabar dan menjaga konsistensi bertahan agar bisa finis,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana. Tapi di lintasan 42 kilometer, “bersabar” adalah keterampilan yang jauh lebih sulit daripada ngebut di kilometer awal.

Baca Juga: Selesai Lari 42K di Borobudur Marathon, Jangan Langsung Pulang: Cicipi Beberapa Kuliner Magelang Ini

Wajah-wajah baru dari Bank Jateng Young Talent

Di balik nama-nama besar itu, ada program yang diam-diam menyiapkan generasi berikutnya. Namanya Bank Jateng Young Talent. Tahun 2026, sebanyak 35 atlet muda dari berbagai provinsi—Jawa Timur, Jawa Barat, Lombok, Sumbawa, Bengkulu, dan Jambi—mengikuti bootcamp di Semarang. Dari 100 pendaftar, hanya 20 yang akhirnya dipilih untuk tampil di Borobudur Marathon 2026.

Beberapa nama yang menonjol di seleksi itu: Syafira Qurotta Ayunina, pelari putri asal Malang yang memimpin di sesi lari 15 menit; Fariq Radfan, juara pertama putra dengan catatan 33 menit 15 detik; serta Rangga Alfian, Nabil Albani, dan Khofifah Koerunnisa yang juga menunjukkan performa impresif.

Mereka belum selevel Noveldi atau para pelari Kenya. Tapi di sinilah letak menariknya Borobudur Marathon. Ia bukan hanya panggung bagi yang sudah jadi. Ia juga menjadi tangga bagi yang sedang berusaha menjadi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.