Relawan Gabungan Perkuat Sekat Api di Gunung Lawu, 325 Personel Disiagakan di Empat Posko

JATENG.AKURAT.CO, Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Lawu terus diperkuat melalui koordinasi relawan gabungan yang tersebar di sejumlah titik strategis. Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, personel gabungan dijadwalkan melanjutkan pemantauan titik api, pembuatan sekat bakar, hingga pengamanan jalur pipa air bersih yang menjadi kebutuhan masyarakat di sekitar kawasan terdampak.
Banser Siaga Bencana (BAGANA) bersama tim relawan lainnya menyiapkan empat posko untuk mendukung kegiatan penanganan karhutla, yakni Posko Induk Gondosuli, Posko Aju Cemoro Kandang, Posko Aju Tambak, dan Posko Aju Cetho.
Berdasarkan rencana kegiatan yang disusun untuk hari tersebut, sekitar 325 personel disiapkan untuk memperkuat penanganan di empat posko. Rinciannya, sekitar 50 personel di Posko Induk Gondosuli, 75 personel di Posko Aju Cemoro Kandang, 100 personel di Posko Aju Tambak, serta 100 personel di Posko Aju Cetho.
Relawan BAGANA, Agung P, mengatakan kegiatan difokuskan pada langkah-langkah penanganan yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing sektor. Selain melakukan pemantauan, personel juga diarahkan untuk mencegah rambatan api agar tidak meluas ke kawasan hutan lainnya maupun mendekati fasilitas penting yang digunakan masyarakat.
Menurut Agung, pembagian tugas berdasarkan posko menjadi bagian penting dalam mendukung efektivitas penanganan kebakaran. Setiap kelompok relawan memiliki tanggung jawab berbeda, mulai dari pembuatan sekat api, pemetaan titik kebakaran baru, hingga pengawasan jalur pipa air bersih.
Di Posko Induk Gondosuli, personel dijadwalkan membuat sekat api di sekitar kawasan hutan alam. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya membatasi pergerakan api dan mengurangi potensi rambatan menuju kawasan yang perlu dilindungi.
Selain itu, pengamanan objek wisata dan jalur pipa air bersih juga menjadi perhatian. Keberadaan pipa tersebut penting bagi pemenuhan kebutuhan air masyarakat sehingga perlu mendapatkan perlindungan dari dampak kebakaran.
Sementara itu, Posko Aju Cemoro Kandang diarahkan untuk melakukan pemantauan kondisi lapangan sekaligus membuat sekat bakar atau ilaran. Pembuatan sekat ini bertujuan memutus jalur rambatan api dengan membersihkan atau memisahkan bahan bakar vegetasi pada jalur tertentu sesuai kondisi medan.
Di sektor tersebut, upaya pemadaman juga direncanakan menggunakan FireAid yang berasal dari Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Surakarta. Penggunaan peralatan pendukung ini diharapkan membantu penanganan di lapangan, terutama pada titik yang membutuhkan tindakan pemadaman secara langsung.
Agung menjelaskan, pencegahan perluasan kebakaran tidak hanya bergantung pada pemadaman di titik api, tetapi juga pada kemampuan tim mengidentifikasi jalur rambatan dan mengantisipasi kemunculan titik kebakaran baru.
Karena itu, pemantauan dilakukan secara berkelanjutan agar kondisi kawasan dapat diketahui dan perkembangan situasi segera dilaporkan kepada koordinator penanganan.
Adapun Posko Aju Tambak difokuskan pada pemantauan serta pemetaan titik api baru. Sebanyak sekitar 100 personel direncanakan mendukung kegiatan di sektor tersebut.
Pemetaan menjadi bagian penting dalam menentukan prioritas penanganan, terutama ketika kondisi kebakaran berpotensi berubah akibat faktor lingkungan dan karakteristik medan. Informasi mengenai titik api yang terpantau dibutuhkan untuk membantu tim menentukan lokasi yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Di sisi lain, Posko Aju Cetho memiliki tugas utama memantau dan mengamankan jalur pipa air bersih yang digunakan warga. Pengawasan dilakukan untuk memastikan jalur tersebut tidak terancam oleh perkembangan kebakaran.
Selain pemantauan langsung, tim di Posko Aju Cetho juga direncanakan memanfaatkan drone untuk melakukan pengamatan visual dari udara. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan munculnya titik api baru yang sulit dijangkau melalui pengamatan dari darat.
Pengamatan udara diharapkan memberikan gambaran yang lebih luas mengenai kondisi kawasan sehingga informasi yang diterima koordinator dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan berikutnya.
Agung menegaskan, koordinasi antarpersonel dan pertukaran informasi menjadi unsur penting dalam pelaksanaan tugas di tengah kawasan hutan yang memiliki tantangan medan tersendiri.
Untuk mendukung proses tersebut, seluruh posko diminta mengirimkan pembaruan berupa foto dan video kondisi visual Gunung Lawu setiap hari mulai pukul 05.30 WIB. Dokumentasi tersebut digunakan sebagai bahan tambahan untuk briefing kegiatan water bombing (WB) di Lanud Adisumarmo sekaligus dibagikan melalui grup koordinasi relawan.
Pembaruan visual sejak pagi diperlukan agar perkembangan kondisi kawasan dapat diketahui sebelum personel memulai kegiatan di lapangan. Dokumentasi tersebut juga menjadi bagian dari komunikasi lintas tim dalam mendukung koordinasi penanganan karhutla.
Meski demikian, informasi mengenai kondisi titik api dan perkembangan kebakaran tetap perlu mengacu pada hasil pemantauan terbaru dari petugas di lapangan. Rencana pengerahan personel dan penggunaan peralatan tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh titik kebakaran telah berhasil dikendalikan.
Untuk memastikan kesiapan personel, masing-masing tim dijadwalkan hadir di posko pada pukul 07.00 WIB. Kegiatan kemudian diawali dengan apel pada pukul 08.00 WIB sebelum personel menjalankan tugas sesuai pembagian sektor.
Para relawan juga diminta membawa obat-obatan pribadi serta peralatan pendukung, seperti parang, sabit, dan garu apabila tersedia. Peralatan tersebut digunakan sesuai kebutuhan pekerjaan di lapangan, khususnya untuk membantu pembuatan sekat bakar dan penanganan vegetasi pada jalur yang ditentukan.
Aspek keselamatan menjadi perhatian selama kegiatan berlangsung. Kondisi medan, akses menuju titik penanganan, serta potensi perubahan situasi kebakaran membutuhkan kesiapan fisik dan perlengkapan yang memadai dari setiap personel.
Evaluasi kegiatan dijadwalkan berlangsung pada pukul 16.00 WIB di Posko Induk Gondosuli. Adapun tim dari Posko Aju Tambak dan Posko Aju Cetho diminta mengirimkan bahan evaluasi dalam format PDF kepada Posko Induk untuk dihimpun dan menjadi bagian dari evaluasi bersama.
Melalui pembagian tugas di empat posko tersebut, BAGANA dan tim relawan gabungan berupaya memperkuat pemantauan, mencegah perluasan kebakaran, serta melindungi fasilitas penting di sekitar kawasan Gunung Lawu.
Agung berharap koordinasi dan kedisiplinan seluruh personel dapat mendukung penanganan karhutla secara lebih terarah. Pemantauan berkelanjutan, penyampaian informasi yang cepat, serta kesiapan menghadapi perubahan kondisi lapangan menjadi bagian penting dalam upaya melindungi kawasan hutan dan masyarakat di sekitarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Jalan Diperbaiki, Warga Malah Menderita: Seragam Anak Kotor, Motor Rusak di Jalur Semarang–Kendal
- 2Prediksi Skor Madura United vs Persib: Ketajaman Dimitar Mitkov Jadi Ancaman, Ini yang Diwaspadai Igor Tolic
- 3Rute Macet Semarang-Solo, 22 Oktober 2026: Mana yang Harus Dihindari, Mana yang Harus Diambil
- 4Pentingnya Ketajaman Intuisi untuk Menghadapi Dinamika Kehidupan
- 5Prediksi Madura United vs Persib: Balsa Sekulic Starter, Mitkov Kembali Jadi Ancaman
- 6Polda Jateng Bongkar Jaringan Togel di Demak, Grobogan, dan Semarang, Saldo Rekening Rp2,46 Miliar Diblokir
- 726 Tahun Biznet, Perkuat Infrastruktur AI dan Kabel Laut untuk Perluas Konektivitas Digital Indonesia
- 8Livia Stevenson Buka Keran Emas Kota Semarang di Porprov Jateng 2026, Disiplin Latihan Jadi Kunci
- 9iPhone 18 Pro dan Pro Max Resmi Tersedia, Telkomsel Tawarkan Bundling Halo dan SIMPATI hingga Diskon Rp1 Juta
- 10Mahjong Rooftop Clash di Semarang, Louis Kienne Hotel Hadirkan Ruang Hangout dan Kolaborasi Komunitas




