Jateng

Starbucks (SBUX) Alami Rekor Kerugian: Menggali Penyebab dan Dampaknya, Salah Satunya Karena Aksi Boikot

Theo Adi Pratama | 7 Desember 2023, 15:08 WIB
Starbucks (SBUX) Alami Rekor Kerugian: Menggali Penyebab dan Dampaknya, Salah Satunya Karena Aksi Boikot

AKURAT.CO, Perusahaan kopi raksasa, Starbucks atau SBUX, baru-baru ini mencatatkan rekor kerugian yang signifikan dengan merosotnya kapitalisasi pasarnya hampir mencapai US$ 12 miliar pada Senin (4/12) lalu.

Penurunan ini juga menandai penurunan saham selama 11 sesi berturut-turut, menjadi yang terpanjang sejak debut publik Starbucks di Bursa AS pada tahun 1992.

Baca Juga: Sejarah Perkembangan Starbucks, Berawal dari Kedai Kecil di Pike Place Market Akhirnya Memiliki 17ribuan Gerai di Seluruh Dunia

Penyebab Utama

Kondisi ini dipicu oleh serangkaian faktor yang memengaruhi citra dan kinerja Starbucks.

Pertama-tama, aksi boikot terhadap merek-merek yang dianggap pro-Israel memainkan peran penting dalam penurunan ini.

Masyarakat dan pelanggan mulai mengambil sikap terhadap perusahaan yang dianggap memiliki afiliasi atau dukungan terhadap kebijakan kontroversial.

Selain itu, kekhawatiran terkait tren penjualan Starbucks yang menurun selama beberapa tahun terakhir menjadi faktor krusial.

Analis JPMorgan Chase & Co, John Ivankoe, mencatat adanya "perlambatan yang signifikan" dalam performa penjualan Starbucks pada bulan November.

Meskipun perusahaan berhasil mencatat pertumbuhan penjualan yang kuat selama kuartal keempat fiskal, data pihak ketiga menunjukkan adanya penurunan yang cukup mencolok.

Baca Juga: Meski Masuk Daftar Produk yang Diboikot, Nyatanya Starbucks Bisa Bangkit dengan Penerapan Strategi Marketing Ini

Analisis dan Proyeksi

Ivankoe memproyeksikan pertumbuhan penjualan kuartal pertama di AS menjadi 4%, turun dari proyeksi sebelumnya.

Hasil promosi liburan Natal juga dinilai kurang sukses dibandingkan dengan keberhasilan acara Pumpkin Spice Latte pada musim gugur sebelumnya.

Pada awal November, saham Starbucks menguat setelah laporan keuangan melampaui perkiraan, memberikan optimisme untuk penjualan tahun fiskal 2024.

Namun, dua minggu terakhir telah melihat penurunan saham yang signifikan, seiring kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi Cina yang melambat dan tren penjualan yang memberikan peringkat overweight pada saham Starbucks.

Baca Juga: 9 Tempat Ngopi Alternatif Selain Starbucks yang Diboikot Netizen Akibat Pro Israel

Persepsi Investor dan Kekhawatiran

Investor, termasuk Analis Wedbush Securities Inc, Nick Setyan, mulai khawatir bahwa penjualan di AS mungkin tidak memenuhi ekspektasi konsensus untuk kuartal ini.

Data dari kartu kredit menunjukkan perlambatan dalam tiga minggu terakhir, membuat Setyan memberikan peringkat netral untuk Starbucks.

Dia juga menyebut saham ini sebagai salah satu yang paling responsif terhadap tanda-tanda melemahnya konsumen.

Perusahaan riset M Science menyampaikan bahwa tren penjualan di industri makanan ringan dan kopi melambat dari minggu ke minggu hingga 19 November.

Perlambatan ini terutama disebabkan oleh tren yang lebih lembut di Starbucks, menunjukkan penurunan aktivitas yang berlangsung terus-menerus selama tiga minggu terakhir, termasuk dampak dari boikot dan mogok kerja.

Baca Juga: Bank Indonesia Luncurkan Program Eduwisata Rupiah, Dorong Percepatan Pariwisata di Kawasan Candi Borobudur Lewat Cara Ini

Dampak Hari Piala Merah dan Tren Penjualan

Hari Piala Merah pada 16 November menciptakan peristiwa yang berdampak pada sekitar 200 lokasi Starbucks di Amerika Serikat.

Sebuah penurunan aktivitas yang berkesinambungan terlihat dalam tren penjualan, menggambarkan pengaruh negatif dari boikot dan aksi mogok.

Dengan demikian, Starbucks saat ini menghadapi tantangan serius dalam merestorasi citra dan meningkatkan kinerjanya di pasar.

Diperlukan strategi yang matang untuk mengatasi dampak dari aksi boikot serta untuk memulihkan kepercayaan pelanggan dan investor.

Masa depan Starbucks, sebuah raksasa kopi global, akan sangat dipengaruhi oleh langkah-langkah yang diambil dalam menghadapi dinamika yang sedang berlangsung.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.