Jangan Paksa Calistung! Kenali Ketuntasan Sensori, Kunci Agar Anak Belajar Tanpa Stres

JATENG.AKURAT.CO, Banyak orang tua berharap buah hatinya cepat bisa membaca, menulis, dan berhitung.
Namun sebelum masuk ke tahap akademik, ada fondasi penting yang kerap terlewat, yaitu ketuntasan sensori.
Konselor anak Ester Treviana menegaskan bahwa proses belajar selalu dimulai dari tubuh dan indera.
Ketika anak merasa aman, nyaman, dan mampu mengolah rangsangan di sekitarnya, barulah otak siap menerima pelajaran yang lebih kompleks.
Tanpa kesiapan ini, tuntutan calistung justru berisiko memicu tekanan, penolakan belajar, hingga ledakan emosi.
Pesan tersebut ia sampaikan dalam seminar parenting bertajuk Dari Ketuntasan Sensori ke Calistung: Membangun Dasar Belajar Anak yang Kuat di Balairung Balai Bahasa Jawa Tengah, Ungaran, di hadapan ratusan wali murid PAUD dan TK.
Baca Juga: Fondasi Belajar yang Kuat: Mengapa Sistem Sensori Harus Matang Sebelum Anak Mulai Belajar Menulis
Sensori Adalah Pintu Masuk Belajar
Menurut Ester, semua informasi yang dipahami anak masuk melalui pengalaman tubuh. Sentuhan, suara, gerakan, bau, hingga cahaya diproses terlebih dahulu sebelum berubah menjadi pemahaman.
"Sebelum anak bisa berpikir, ia harus merasa aman dan nyaman secara sensori," kata Ester saat berbicara dalam seminar parenting 'Dari Ketuntasan Sensori ke Calistung: Membangun Dasar Belajar Anak yang Kuat', di gedung Balairung, Balai Bahasa Jawa Tengah, Ungaran, belum lama ini.
Bila sistem ini belum matang, anak cenderung mudah terdistraksi. Mereka bisa terlihat sulit duduk tenang, cepat lelah, atau menolak instruksi.
Harapan Orang Tua terhadap Tumbuh Kembang Anak
Dalam praktiknya, ia sering menjumpai orang tua yang menginginkan perkembangan berjalan normal. Keinginan itu wajar, tetapi perlu dipahami tahapannya.
Ada dua hal besar yang biasanya diharapkan keluarga. Pertama berkaitan dengan kemampuan tubuh dan pengolahan rangsangan. Kedua menyangkut kematangan emosi.
"Ketuntasan sensori ditandai dengan kondisi ketika sistem indera anak mampu menerima, mengolah, dan merespons rangsangan secara seimbang," kata Ester.
Regulasi Tubuh dan Dampaknya pada Akademik
Ketika anak mampu mengatur tubuhnya, fungsi eksekutif mulai bekerja lebih baik. Kemandirian meningkat, aktivitas belajar lebih mudah diikuti, dan kualitas hidup ikut terdongkrak.
Sebaliknya, bila regulasi belum stabil, tugas sederhana bisa terasa berat. Anak mungkin terlihat malas, padahal sebenarnya kewalahan secara sensori.
Regulasi Emosi Ikut Berkembang
Kematangan ini turut memengaruhi aspek motorik, bahasa, dan hubungan sosial. Anak lebih siap berinteraksi serta mampu mengekspresikan kebutuhan dengan tepat.
Mereka juga cenderung lebih tahan menghadapi perubahan situasi.
Apa Itu Ketuntasan Sensori?
Ketuntasan terjadi saat sistem indera bisa menerima, memproses, lalu merespons rangsangan secara seimbang. Tidak berlebihan, namun juga tidak kurang.
Dalam kondisi ini, anak dapat menjalani kegiatan harian dengan rasa nyaman.
Parameter Anak Sudah Siap Belajar
Beberapa tandanya terlihat dari kemampuan mengatur gerak dan postur. Respons terhadap suara atau sentuhan juga wajar.
Emosi relatif tenang, mampu mengikuti permainan, dan mulai bisa memusatkan perhatian tanpa tekanan berarti.
Ester mengingatkan bahwa tujuan akhirnya bukan membuat anak tanpa kekurangan.
"Parents harus tahu bahwa ketuntasan sensori bukan berarti anak harus sempurna, tetapi cukup matang untuk menjalani aktivitas belajar tanpa stres berlebihan," tukas Ester.
Jika fondasi ini kuat, kemampuan akademik biasanya berkembang mengikuti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






