Menggugah Kesadaran, Sri Suciati Kritik Stereotip Gender dalam Orasi di Festival Hujan Bulan Desember #2

AKURAT.CO SEMARANG, Pada Festival Hujan Bulan Desember #2, Rektor Universitas PGRI Semarang, Dr. Sri Suciati, M.Hum, mengambil peran sebagai pemberi orasi budaya dengan fokus pada isu krusial: stereotip gender.
Meskipun perempuan telah mencapai banyak kemajuan dalam emansipasi, Sri Suciati menyoroti permasalahan yang masih menghantui, yaitu pandangan bias terhadap perempuan.
Dalam orasinya, Sri Suciati mengajak audiens untuk merefleksikan dan mengkritisi pola pikir yang terinternalisasi secara tidak sadar dalam masyarakat.
Baca Juga: Om Jack Sambangi Pasar Johar, Dampak El Nino dan Kenaikan Harga Menjadi Keluhan Pedagang
"Kadang bahkan secara sadar kita menormalisasikan ketidakadilan dalam kehidupan sehari-hari. Perhatikan standar berlebihan untuk perempuan," ungkapnya.
Rektor tersebut secara khusus menyoroti pengkodean nilai-nilai pada perempuan, menciptakan stereotip dan pandangan negatif yang tidak berdasar.
Ia memberikan contoh konkret seperti penilaian terhadap penampilan perempuan yang ber-make-up dan pandangan miring terhadap korban pemerkosaan.
"Perempuan selalu didikte oleh nilai-nilai yang dipaksakan kepada mereka. Banyak stereotip negatif dan tidak berdasar yang ditampilkan kepada perempuan. Sudah jadi korban, masih disalahkan," tegas Sri Suciati.
Baca Juga: Babak 8 Besar Liga 3 Jawa Tengah: Jadwal Lengkap Pertandingan Akhir Pekan Ini!
Dalam panggilan untuk perubahan, Sri Suciati mendorong untuk bersikap lebih adil dan menghindari terperangkap dalam stereotip yang merugikan perempuan.
Ia mengajak untuk menghargai keberagaman perempuan dan tidak memaksa mereka masuk ke dalam kerangka nilai yang sempit.
"Perempuan ber-make-up, misalnya, terlihat cantik dan modis, masa dianggap sedang merayu laki-laki. Itu sungguh tidak adil dan memberatkan perempuan," tambahnya.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Direktur Pascasarjana UPGRIS, Prof. Dr. Harjito, M.Hum, menyebut penyelenggaraan festival tersebut guna membuka percakapan.
“Kami merasa harus ada ruang-ruang dan forum-forum yang tidak formal, cair, tempat persinggungan ide dan gagasan segar. Forum ini pun dirancang untuk itu, untuk memunculkan pertukaran pemikiran yang lebih santai tapi serius,” ucap pnulis buku Memandang Perempuan Jawa tersebut.
Baca Juga: Memperkuat Relasi Internasional: UPGRIS Jalin Kerja Sama dengan Perguruan Tinggi di Tiongkok
Selain menyajikan orasi budaya, dalam forum tersebut diberikan ruang kepada dosen dan mahasiswa untuk membacakan puisi, yaitu Hasan dari PBSD dan Dr. Setia Naka Andrian, dosen PBSI.
Acara tersebut dipungkasi dengan penampilan akustik dari UKM musik Imortal.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Jalan Diperbaiki, Warga Malah Menderita: Seragam Anak Kotor, Motor Rusak di Jalur Semarang–Kendal
- 2Atlet Selam Jepara Meninggal di Porprov Jateng, Lomba di Awann Costa Ditunda
- 3LIVE SCORE PSMS vs PSIS! Ayam Kinantan Unggul 2-0 di Babak Pertama, Tuan Rumah Kena Kartu Merah, Cek Skor Akhir FULL TIME
- 4UPDATE! Kronologi Atlet Selam Jepara Syabilla Rizkia Meninggal Saat Porprov Jateng 2026
- 5Viral Pelari JRF 2026 Terobos Barikade, Apa Itu COT dan COP? Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 6Jadwal BWF Hylo Open 2026 Lengkap hingga Final, Cek Wakil Indonesia dan Link Live Streaming
- 7Prediksi Skor Garudayaksa vs Persib, Cuma Punya 1 Hari Persiapan, Mampukah Persib Taklukkan Garudayaksa?
- 8CEK! Viral Pelari JRF 2026, Mengenal Flag-Off Time, Gun Time, dan Chip Time
- 9Perangkat Pertandingan Garudayaksa vs Persib: Wasit Irfan Wahyu Wijanarko Pimpin Laga Panas Malam Ini
- 10GMPI Kota Semarang Gelar Rakercab dan Forum Diskusi Kepemudaan, Ajak Gen Z Menjaga Nilai Demokrasi di Era Digital








