Jateng

Teliti Syiir Puji-Pujian di Kendal, Dosen PBSI UPGRIS Raih Gelar Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa

Theo Adi Pratama | 16 Agustus 2023, 20:36 WIB
Teliti Syiir Puji-Pujian di Kendal, Dosen PBSI UPGRIS Raih Gelar Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa

AKURAT.CO SEMARANG - Teliti terkait syiir, yakni tradisi lisan berisi pesan dan nasihat, Setia Naka Andrian, raih gelar doktor Ilmu Pendidikan Bahasa.

Dosen program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (FPBS UPGRIS) tersebut, baru saja menyelesaikan studi program doktor di Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Naka, panggilan akrabnya, dalam menyelesaikan studi program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa tersebut, dengan melakukan penelitian tentang syiir puji-pujian di Kabupaten Kendal, yang juga tempat ia lahir dan tinggal hingga saat ini.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga JBT Tanam Mangrove dan Cemara Laut di Pantai Semarang, Ini Tujuannya

“Saya tertarik untuk meneliti syiir puji-pujian di Kendal, karena dengan harapan ada sedikit sumbangan atau upaya untuk mengapresiasi kota kelahiran. Sebab selepas saya pulang kampung, saya perlu melakukan sesuatu, dan akhirnya tergerak untuk meneliti teks syiir puji-pujian yang berasal dari Kendal,” ungkap Naka, selepas usai ujian promosi.

Naka mengangkat syiir puji-pujian yang cenderung belum pernah tersentuh, diapresiasi, atau bahkan direspon oleh para peneliti.

Oleh karena itu, sebelum menjalani studi S-3, Naka bersama para pegiat seni di Kendal melakukan penelusuran atas teks syiir puji-pujian tersebut ke berbagai desa di Kendal.

Baca Juga: Bawang Merah dan Cabai Rawit menjadi Komoditas Utama Penahan Kenaikan Inflasi di Jateng

“Di kampung halaman Kendal, saya bersama seorang teman, alumni UPGRIS saat dulu berteater bersama, kami mulai bergerak mencari teks syiir puji-pujian ke kampung-kampung.

Akhirnya hingga menemukan sejumlah lima penggubah syiir,” terang Naka.

Bagi Naka, dengan penelusuran atas teks syiir puji-pujian tersebut, rasanya hidup akan lebih bergairah.

Sebab baginya dan kawan komunitasnya telah menemukan mainan baru, yakni mendapati teks syiir puji-pujian yang patut diapresiasi.

Baca Juga: Akselerasi Program JKN bagi Mahasiswa, BPJS Kesehatan - Polimarin Semarang Jalin Kerjasama

Meski ia bersama kawan-kawan komunitasnya pada tahun-tahun sebelumnya menggarap beberapa hal lain yang tak lepas dari isu-isu tentang Kendal, maka 2020 itu ia memilih untuk meneliti syiir puji-pujian di Kendal.

“Maka berburulah kami habis-habisan. Beruntung pula, mainan saya ini mendapat izin teman-teman untuk saya jadikan penelitian studi saya. Mungkin ini yang paling saya syukuri pula, ketika kerja-kerja kreatif berkomunitas bisa saya gunakan pula untuk kebutuhan studi,” ungkapnya.

Bagi Naka, ia mencoba menawarkan syiir puji-pujian yang terlahir dari lingkungan masyarakat pesisir dan juga lingkungan Kendal sebagai kota santri.

Baca Juga: Tips Aman dan Nyaman ketika Naik Kereta Api, Lakukan Langkah Mudah Ini

Syiir puji-pujian yang diteliti berdiri di antara kehidupan masyarakat pesisir dan masyarakat santri. Keduanya saling berkaitan.

Setidaknya, jika masyarakat pesisir yang cenderung terbuka, keras, dan blak-blakan itu akan terbalut dengan kehalusan masyarakat santri dengan nilai-nilai keagamaannya.

“Syiir puji-pujian tersebut termasuk dalam pencirian sastra pesantren, seperti halnya yang ditegaskan oleh Thohir, yakni syiir yang menggunakan bahasa Jawa, bahasa Arab, kadang bercampur bahasa Arab dan Jawa, tulisan yang dipakai kecenderungannya adalah tulisan Arab-Jawa (pegon), berisi tentang tauhid, fikih, ilmu kalam, dan doa-doa, serta biasanya lahir dan berkembang di kawasan pondok pesantren," lanjutnya.

Baca Juga: Cek Lokasi Kebakaran Kapal di Tegal, Ganjar Pranowo Temukan Fakta Ini hingga Langsung Hubungi Kepala BNPB

Namun,  dalam penelitian ini syiir puji-pujian ditemukan dan berkembang di masyarakat kampung dari kiai-kiai kampung dan warga, yang bukan dari lingkungan pesantren.

"Bahkan syiir puji-pujian itu dilantunkan khusus untuk masyarakat santri pinggiran, yakni bagi mereka yang bukan santri yang hidup di lingkungan pondok pesantren. Jadi syiir puji-pujian ini berada di antara sastra Pesisiran dan sastra pesantren,” ungkapnya.

Bahkan bagi Naka, syiir puji-pujian yang diteliti tidak seperti sastra pesantren, yang cenderung mungkin berat, bagi masyarakat umum, sebab ini dikonsumsi oleh masyarakat atau orang-orang santri pinggiran, yang tidak turut serta dalam menempa pendidikan di pondok pesantren.

Baca Juga: Jaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah, BI Jateng Kembali Gelar CJIBF 2023

Syiir puji-pujian yang dimaksudkan tersebut pun, merupakan gubahan dari para kiai kampung dan juga muazin yang hidup di perkampungan.

“Saya sangat terbantu dalam menyelesaikan penelitian ini, selain memang banyak didapati bantuan atas kerja komunitas yang saya lakukan bersama kawan-kawan seniman di Kendal yang tergabung dalam Jarak Dekat Art Production, dalam program tahunannya Kendali Seni Kendal," tambahnya.

Selain itu juga dukungan baik, bimbingan serta arahan yang sangat baik dari promotor dan kopromotor, yakni Prof. Dr. Zamzani, M.Pd. dan Prof. Dr. Anwar Efendi, M.Si., serta para penguji dari UNY yakni Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, Prof. Dr. Sri Harti Widyastuti, M.Hum., dan Prof. Dr. Endang Nurhayati, M.Hum.

Baca Juga: Jelang Libur HUT RI, Lonjakan Penumpang Mulai Banjiri Stasiun, Cek Promo Tiket Kereta Murah KAI

"Maupun penguji eksternal dari UPGRIS, yakni Ibu Rektor Dr. Sri Suciati, M.Hum.,” ungkap Naka.

Dalam promosinya, Naka kian meyakinkan diri untuk berfokus melakukan penelitian dan pengabdian atas teks syiir di Kendal.

Bahkan, ia pun berupaya hasil riset yang dilakukannya tersebut kemudian akan dibukukan, juga akan ditulis untuk media massa.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Komentari Pidato Kenegaraan Presiden Jokowi, Faktor Ini Jadi Sorotan

“Jika sebelumnya saya menulis esai, seputar Kendal misalnya, saya masih berpijak dengan lagu-lagu populer, mengenai tema-tema urban dan seterusnya. Kini bisa berangkat atau mengutip syiir-syiir ini saya kira, agar lebih mengenalkan atau setidaknya menggoda khalayak dengan penggalan syiir-syiir puji-pujian dari Kendal ini,” pungkas Naka.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.