Jateng

Sebuah Sejarah dan juga Perjalanan Stasiun Bringin: Antara Kejayaan Masa Lalu dan Keadaan yang Terabaikan di Kabupaten Semarang

Theo Adi Pratama | 10 Januari 2024, 16:00 WIB
Sebuah Sejarah dan juga Perjalanan Stasiun Bringin: Antara Kejayaan Masa Lalu dan Keadaan yang Terabaikan di Kabupaten Semarang

AKURAT.CO Sejarah, Stasiun Bringin, sebuah stasiun kereta api yang kini terbengkalai di Desa Bringin, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, menggambarkan perjalanan panjang dari kejayaan hingga keadaan terabaikan yang memprihatinkan.

Sebagai tipe stasiun kelas III/kecil yang masuk dalam DAOP IV Semarang, kondisi Stasiun Bringin menyiratkan kisah bersejarah namun juga kekurangan perhatian dalam pelestariannya.

Baca Juga: Misteri dan Mitos yang Terdapat di Makam Tentara Hindia Belanda di Tanjunguban: Jejak Sejarah yang Menyimpan Cerita Angker

Keadaan Terabaikan

Ketika melangkah masuk ke dalam stasiun Bringin, gambaran kotor, gelap, dan pengap segera menyambut.

Coretan vandalisme di sepanjang dinding, reruntuhan atap peron, dan rumput ilalang yang tumbuh liar melukiskan gambaran keadaan yang memprihatinkan.

Langit atap bagian dalam hampir rubuh, memberikan kesan bangunan yang terlantar dan tidak terawat.

Ironisnya, stasiun ini juga berfungsi sebagai tempat pembuangan sampah, terlihat dari tumpukan sampah yang menggunung di depannya.

Sarang Burung Walet dan Bangunan Rusak

Beberapa bangunan di sekitar Stasiun Bringin, seperti rumah pompa, menara air, gudang, dan pipa pengisian air, bersama dengan rumah tinggal pegawai stasiun, menghadapi nasib serupa.

Bangunan-bangunan tersebut telah mengalami kerusakan yang cukup parah dan tidak dapat difungsikan lagi.

Sebagai contoh, stasiun ini juga diubah menjadi sarang burung walet dengan pintu masuk yang ditutup permanen.

Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Situs Jati Ombo Semarang: Tempat Bersejarah yang Butuh Pemulihan

Penyebab Terabaikannya Stasiun Bringin

Stasiun Bringin dulunya merupakan stasiun yang ramai dengan aktivitas penumpang dan angkutan barang.

Keberadaannya yang berdekatan dengan pasar Bringin memberikan mobilitas tinggi, memajukan perekonomian warga sekitar.

Namun, seiring dengan perubahan kebiasaan penumpang pada tahun 1970-an yang beralih ke transportasi darat, terutama dengan pembangunan jalan darat oleh pemerintahan Presiden Soeharto, transportasi kereta api mengalami penurunan signifikan.

Pemberhentian Operasional pada Tahun 1973

Dampak perubahan kebiasaan tersebut membuat Stasiun Bringin mulai sepi.

Pada tahun 1973, secara resmi, stasiun ini berhenti beroperasi.

Penumpang yang lebih memilih transportasi darat, seperti bis dan truk, menyebabkan transportasi kereta api menjadi kurang diminati, dan Stasiun Bringin pun menghentikan operasionalnya.

Baca Juga: Perjalanan dan Perkembangan Puri Gedeh Semarang: Keindahan Arsitektur dan Jejak Sejarah yang Tertinggal

Rencana Aktivasi Kembali Jalur pada 2014

Pada tahun 2014, kabar baik terdengar, bahwa PT. KAI berencana mengaktifkan kembali jalur Kedungjati – Ambarawa.

Beberapa persiapan telah dilakukan, seperti membersihkan area stasiun dan pembangunan pagar pembatas.

Namun, hingga saat ini, rencana tersebut belum mendapatkan tindak lanjut yang jelas.

Ironi Stasiun Bringin

Stasiun Bringin, yang dahulu begitu ramai dengan aktivitas penumpang dan angkutan barang, kini terdiam dan sunyi.

Ironisnya, stasiun ini cocok untuk dijadikan latar pembuatan film horor dengan suasana sepi dan bangunan yang terbengkalai.

Nasibnya yang terabaikan menggambarkan perlunya perhatian dan tindakan nyata dalam menjaga warisan sejarah, agar keindahan dan nilai artistik peninggalan masa kolonial tetap terjaga untuk generasi mendatang.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.