Jateng

Perjalanan Masjid Agung Kauman Semarang: Kekayaan Sejarah dan Keindahan Arsitektur Bangunan Ibadah

Theo Adi Pratama | 9 Januari 2024, 15:00 WIB
Perjalanan Masjid Agung Kauman Semarang: Kekayaan Sejarah dan Keindahan Arsitektur Bangunan Ibadah

AKURAT.CO Sejarah, Masjid Kauman Semarang, atau dikenal sebagai Masjid Agung Semarang, adalah sebuah tempat ibadah yang memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan berdirinya Kota Semarang.

Terletak di alun-alun barat Kota Semarang, atau sebelah barat Pasar Johar, masjid ini telah menjadi pusat syiar agama Islam dan tempat berkumpulnya para ulama sejak masa lampau.

Dikarenakan nilai sejarah dan keberartiannya, Masjid Kauman Semarang diakui sebagai situs cagar budaya dengan Nomor Registrasi CB, CB.1021, SK Penetapan No SK: PM.57/PW.007/MKP/2010, tanggal SK: 22 Juni 2010.

Baca Juga: Sejarah dan Perkembangan Gedung Marabunta: Peninggalan Gedung Bersejarah dengan Sentuhan Unik di Kota Lama Semarang

Masjid Kauman, yang berusia lebih dari seratus tahun, dibangun pada abad ke-16 oleh ulama besar keturunan Arab bernama Maulana Ibnu Abdul Salim, atau lebih dikenal sebagai Ki Ageng Pandan Arang.

Awalnya, masjid ini terletak di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Mugas di Semarang Selatan.

Namun, setelah Ki Ageng Pandan Arang diangkat menjadi bupati oleh Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Pajang, fungsi masjid berkembang menjadi pusat pemerintahan.

Baca Juga: Sejarah dan Perkembangan Kantor Pos Besar Semarang: Jejak Gedung Bersejarah di Kota Lama

Usia Masjid Kauman Semarang dapat dilihat dari enskripsi berbahasa Jawa yang terpahat di batu marmer pada tembok gerbang masjid.

Ensipripsi tersebut mencatat pembangunan masjid pada tahun 1170 Hijriah, yang dalam penanggalan Masehi setara dengan tahun 1749.

Tuan Nicolas Hartingh, tokoh penggerak perjanjian Giyanti pada tahun 1755, turut memperingati pembangunan masjid ini.

Baca Juga: Menggali Misteri dan Mitos Bahu Laweyan: Antara Legenda dan Fakta Sejarah, yang Diangkat ke Layar Lebar

Arsitektur Masjid Agung Kauman Semarang mencerminkan gaya arsitektur Masjid Agung Demak pada masa Kesultanan Demak.

Atap tingkat tiga dengan bentuk tajuk tumpang, meskipun menggunakan seng bergelombang yang diimpor dari Belanda, menghadirkan filosofi iman Islam dan ihsan.

Keunikan terletak pada atap bertingkat tiga dengan dasar atap menaungi ruang ibadah, diikuti atap kedua yang lebih kecil, dan atap ketiga yang tertinggi berbentuk limasan, ditopang oleh 36 soko guru yang kokoh.

Baca Juga: Perjalanan dan Perkembangan Masjid Layur Semarang: Memelihara Peninggalan Sejarah dan Kearifan Lokal

Meskipun melalui beberapa tahap renovasi dan penambahan, Masjid Agung Kauman Semarang tetap mempertahankan ciri khas arsitektur tradisional Jawa, dengan menara tambahan di sisi sebelah kiri dan gerbang yang sudah direnovasi.

Gerbang masjid yang tinggi dengan ornamen daun waru menciptakan kesan elegan, sementara angka 1904 pada atas gerbang mengisyaratkan sejarah panjang masjid ini.

Dengan kekayaan sejarah dan keindahan arsitektur yang dimilikinya, Masjid Agung Kauman Semarang tetap menjadi destinasi yang memukau, memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk menyelami kejayaan masa lalu dan keagungan Islam dalam arsitektur yang megah dan penuh makna.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.