Jateng

Sejarah Kelam dan Misteri yang Menyelimuti Brug Abang: Saksi Bisu Peristiwa 3 Daerah

Theo Adi Pratama | 4 Desember 2023, 06:30 WIB
Sejarah Kelam dan Misteri yang Menyelimuti Brug Abang: Saksi Bisu Peristiwa 3 Daerah

AKURAT.CO, Brug Abang, jembatan yang membentang di atas Sungai Gung, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, bukan hanya merupakan struktur fisik yang mempercantik pemandangan, tetapi juga menyimpan sejarah kelam peristiwa yang melibatkan tiga daerah pada masa revolusi Indonesia.

Mari kita telusuri sejarah Brug Abang yang menyaksikan peristiwa tragis ini.

Baca Juga: Misteri Gedung Kuning Semarang: Antara Megahnya Sejarah dan Aura Mistis yang Menyelubungi

Bendungan Pesayangan: Saksi Bisu Peristiwa Kelam

Bendungan Pesayangan, atau yang dikenal sebagai Bendungan Pesayangan, berdiri sebagai saksi bisu peristiwa kelam yang terjadi di wilayah Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal.

Dibangun antara tahun 1918 hingga 1921, bendungan ini memainkan peran penting dalam mengendalikan aliran Sungai Gung yang berasal dari Gunung Slamet.

Brug Abang: Jembatan yang Menyimpan Kisah Kelam

Di atas Bendungan Pesayangan, melintanglah sebuah jembatan yang dikenal sebagai Brug Abang.

Meskipun nama Brug Abang berarti "jembatan merah" dalam bahasa Belanda, jembatan ini sebenarnya tidak berwarna merah.

Nama tersebut membawa cerita kelam peristiwa yang melibatkan tiga daerah di sekitarnya.

Baca Juga: Misteri Bangunan Bekas Kampus: Kisah Angker STIE Anindya Guna Semarang, Kisah Seram atau Sebatas Urban Legend?

Latar Belakang Pemberontakan Kutil

Pada bulan November 1945, hanya tiga bulan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, seorang bernama Kutil atau Sakhyani memulai gerakan pemberontakan.

Mereka kecewa terhadap pemimpin desa yang dianggap sebagai antek penjajah karena dipercayai untuk memerintah setelah kemerdekaan.

Sasaran Gerakan Kutil: Pencuri, Pejabat, dan Belanda

Gerakan Kutil memiliki tiga sasaran utama. Pertama, mereka mengincar para pencuri yang akan dieksekusi di Brug Abang.

Kedua, pejabat pemerintah seperti lurah atau camat menjadi sasaran gerakan.

Bahkan keluarga Raden Ajeng Kardinah, adik kandung Raden Ajeng Kartini, menjadi target gerakan ini.

Meskipun RA Kardinah selamat, ia harus mengungsi ke Salatiga.

Baca Juga: Misteri dan Keajaiban Gunung Salak: Kisah Mistis yang Menyelimuti Puncak Jawa Barat

Tragedi di Brug Abang: Eksekusi Massal

Pada bulan November 1945, pengumuman dibuat, dan pada siang harinya, penjemputan paksa dilakukan terhadap orang-orang Belanda yang masih menetap di Tegal.

Eksekusi dilaksanakan di Brug Abang, dimulai pukul 2 siang.

Semua golongan, dari tua hingga muda, bahkan anak-anak, tidak luput dari eksekusi ini.

Warna Merah Sungai: Jejak Darah di Sungai Gung

Saksi mata, Soeparno Suwarno, menyaksikan peristiwa berdarah ini.

Setelah eksekusi, darah korban mengalir deras ke sungai, mengubah warna airnya menjadi merah.

Warna merah ini memberi jembatan Brug Abang namanya, menyiratkan jejak darah yang melibatkan tiga daerah.

Baca Juga: Menelusuri Keindahan Alam Serta Misteri Dibalik Puncak Suroloyo: Kiblat Pulau Jawa?

Jejak Kelam Sebagai Pengingat Sejarah

Peristiwa di Brug Abang menjadi kenangan kelam revolusi Indonesia.

Meskipun peristiwa ini terjadi dalam keadaan yang sulit di masa revolusi, namun menjadi pengingat bagi kita semua tentang betapa berharganya perdamaian dan keberagaman.

Semoga cerita ini mengingatkan kita untuk menjaga kedamaian dan menghargai sejarah bangsa ini.

Demikianlah sejarah kelam Brug Abang yang mengharukan dan memberikan wawasan yang mendalam.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.