Jateng

Misteri Seputar Bukit Gombel Semarang, Salah Satunya Hantu Wewe Gombel yang Suka Menculik Anak Kecil

Theo Adi Pratama | 11 Oktober 2023, 10:15 WIB
Misteri Seputar Bukit Gombel Semarang, Salah Satunya Hantu Wewe Gombel yang Suka Menculik Anak Kecil

AKURAT.CO, Bukit Gombel merupakan sebuah bukit yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Semarang.

Apabila hendak menuju pusat Kota Semarang, wisatawan yang datang dari arah Ambarawa, Solo, dan Yogyakarta akan melewati kawasan lereng bukit ini.

Baca Juga: Obyek Wisata Bukit Cinta, Cerita Seputar Mitos dan Keindahan Alam yang Menjadi Daya Tarik Wisatawan

Di atas bukit ini, pengunjung juga bisa melihat keindahan Kota Semarang dari ketinggian.

Namun, dibalik keindahan Bukit Gombel yang sudah terkenal, ternyata ada mitos dibalik keindahannya itu.

Salah satunya adalah hantu Wewe Gombel yang dipercaya merupakan sumber dari nama Bukit Gombel itu sendiri.

Baca Juga: Misteri Grojogan Sewu: Keindahan Alam yang Dibalut dengan Kisah Mistis dan Cerita Penampakan yang Sangat Kental

Wewe Gombel adalah versi wanita dari Genderuwo, bertubuh tinggi besar dengan payudara yang menjuantai kebawah.

Wewe Gombel sangat suka menculik anak-anak kecil yang masih kalayapan saat waktu Maghrib tiba.

Dalam buku “666 Misteri Paling Heboh: Indonesia dan Dunia” yang ditulis oleh Tim Pustaka Horor, diceritakan bahwa Wewe Gombel adalah jelmaan seorang wanita yang rohnya gentayangan.

Baca Juga: Menelusuri Keindahan serta Menyelami 4 Kisah Mitos di Gunung Ungaran: Tempat Wisata Penuh Sejarah di Kabupaten Semarang

Dulunya, dia bunuh diri karena ditinggal selingkuh oleh suaminya dan menjadi olok-olokan warga karena tidak mampu memberi keturunan.

Karena tak mampu menanggung tekanan sosial yang sedemikian berat itu, dia kemudian bunuh diri. Konon, dia mati bunuh diri di sebuah pohon yang berada di kawasan Bukit Gombel.

Ada juga kisah lain yang mengaitkan Bukit Gombel dengan sosok Kiai Pandan Aran yang melewati kawasan bukit ini saat hendak berziarah ke suatu makan di Gunung Jabalkat.

Baca Juga: Menguak Misteri di Hutan Tinjomoyo: Cerita Mistis di Balik Pesona Alam yang Indah di Semarang

Nama Gombel pun muncul yang bermakna perbukitan terjal dan curam.

Belum pasti apakah nama Bombel ini bentuk metafora ataukah sebuah ungkapan umpatan.

Dahulu di sekitar Bukit Gombel ada juga sebuah mata air yang dikenal dengan Mata Air Pengantin atau Sendang pengantin.

Mata air tersebut digunakan sebagai tempat untuk melakukan berbagai ritual-ritual kejawen yang erat kaitannya dengan hubungan laki-laki dan perempuan.

Baca Juga: Mitos dan Sejarah yang Melingkupi Studio Rekaman Lokananta: Gamelan Kiai Sri Kuncoro Mulyo yang Terdengar Berbunyi di Tengah Malam

Menurut cerita, jika ada rombongan pengantin yang melewati kawasan Bukit Gombel harus memberikan korban berupa ayam putih mulus atau melempar uang receh agar tidak celaka.

Bagi yang tidak mengindahkan larangan ini akan menemui celaka di jalan, entah kecelakaan atau bahaya lainnya yang berujung maut.

Pada masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, Bukit Gombel juga dikenal sebagai kompleks pemakaman Tionghoa.

Kemudian oleh pemerintah Hindia Belanda dibangunlah sebuah jalan yang membelah bukit tersebut.

Pembangunan jalan ini mendapat perlawanan sengit oleh masyarakat Tionghoa karena dalam tradisi mereka memindahkan makam membutuhkan serangkaian ritual yang panjang.

Namun karena kekuatan pemerintah Hindia Belanda, akhirnya masyarakat Tionghoa hanya bisa mengalah dan menurut.

Karena banyaknya jumlah makam tersebut, kemungkinan besar masih terdapat jasad-jasad yang belum dipindahkan dan masih terkubur di bawah aspal atau pemukiman di bawah bukit.

Sampai saat ini Bukit Gombel selalu menyimpan misteri yang menyelimuti, dan percaya atau tidak kita patut untuk menyimpan semua cerita-cerita ini sebagai salah satu warisan budaya dan tradisi yang ada.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.