Jateng

Kelezatan Lontong Cap Go Meh: Sebuah Sejarah Tradisi dan Perpaduan Budaya di Hari Terakhir Perayaan Imlek

Theo Adi Pratama | 23 Februari 2024, 14:00 WIB
Kelezatan Lontong Cap Go Meh: Sebuah Sejarah Tradisi dan Perpaduan Budaya di Hari Terakhir Perayaan Imlek

AKURAT.CO Sejarah, Meski perayaan Imlek telah usai, namun kita tetap tertarik untuk membicarakan sebuah hidangan khas yang wajib hadir di meja makan keluarga saat Cap Go Meh, hari ke-15 perayaan awal Imlek.

Di Indonesia, keluarga Peranakan Tionghoa sering berkumpul pada tanggal 15 bulan pertama Tahun Baru Imlek, dengan gembira berbagi masakan istimewa yang dikenal sebagai Lontong Cap Go Meh.

Hidangan ini merupakan contoh yang sempurna dari perpaduan budaya, menggabungkan cita rasa tradisional Tionghoa dengan sentuhan masakan Jawa.

Sejarah Lontong Cap Go Meh melambangkan perpaduan dua kebudayaan yang berbeda, yaitu budaya Tionghoa dan Jawa.

Baca Juga: Sejarah Perjalanan Jembatan Rajamandala: Awal Sebuah Jalur Legendaris yang Sempat Menjadi Jalan Tol

Para imigran Tionghoa pada abad ke-14, yang pada saat itu tidak diizinkan membawa perempuan, menikahi perempuan Jawa setempat, menciptakan budaya Peranakan Tionghoa-Jawa.

Ketika menetap di Jawa, mereka mulai terbiasa dengan masakan tradisional istri mereka.

Sejak saat itu, setiap Tahun Baru Imlek, hidangan tradisional Yuanxiao (bola nasi) diganti dengan Lontong, kue beras lokal yang kemudian disajikan dengan berbagai hidangan khas Jawa.

Nama "Lontong Cap Go Meh" sendiri memiliki sejarah yang menarik.

Baca Juga: Jejak Peninggalan Kemegahan Kerajaan Majapahit di Mojokerto: Memahami Warisan Sejarah Perkembangan Bangsa Indonesia

Menurut legenda, pada tahun Sam Po Kong atau Laksamana Zheng He pertama kali menginjakkan kaki di Semarang, Jawa Tengah, ia mengumumkan sebuah kompetisi untuk merayakan Cap Go Meh.

Ketika seorang kepala desa setempat atau Datuk mendengar tentang tantangan ini, meskipun hanya memiliki waktu satu hari, ia memutuskan untuk bergabung.

Datuk memasak semua yang tersedia di sekitarnya dan menciptakan versi supnya sendiri.

Ketika waktu penentuan pemenang tiba, Datuk bertanya tentang posisinya, dan Sam Po Kong memberinya peringkat ke-15.

Baca Juga: Jejak Sejarah Paskibra di Indonesia: Dari Nama Paskibraka di Tingkat Nasional hingga Paskibra di Tingkat Daerah

Dalam dialek Hokkien, peringkat ini diucapkan sebagai "Luan Dang Cap Go Mia", yang kemudian berubah menjadi "Lontong Cap Go Meh".

Setidaknya ada sembilan hidangan yang dimasak sendiri sebelum menyajikan Lontong Cap Go Meh.

Ini termasuk Lontong, Opor Ayam, Sayur Lodeh, Sambal Goreng Ati, Telur Pindang, Koya, Sambal Terasi, Acar, dan Kerupuk Udang.

Hidangan mewah ini merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi Tahun Baru Imlek di Jawa Tengah dan Timur, serta masih dihormati dan dirayakan hingga saat ini.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah yang Ada di Pabrik Gula Pangka: Memori Salah Satu Pabrik Tertua di Indonesia

Meskipun awalnya hanya disajikan selama perayaan Tahun Baru Imlek, Lontong Cap Go Meh kini telah menjadi hidangan populer di restoran-restoran yang menyajikan masakan Peranakan dan Indonesia di seluruh Indonesia, termasuk di Jakarta dan kota-kota lain.

Di wilayah Jawa barat, adat berbeda diterapkan pada Cap Go Meh, di mana Peranakan Betawi merayakannya dengan sajian istimewa yang berbeda, seperti ikan Bandeng dengan gaya Pindang.

Dengan kekayaan sejarah dan cita rasa yang lezat, Lontong Cap Go Meh tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Indonesia, mewakili perpaduan harmonis antara berbagai budaya yang berbeda.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.