Jateng

Misteri Jembatan Ampera Palembang: Sejarah, Kepemilikan, dan Kisah Mistisnya yang Menyentuh Hati

Theo Adi Pratama | 18 Desember 2023, 12:37 WIB
Misteri Jembatan Ampera Palembang: Sejarah, Kepemilikan, dan Kisah Mistisnya yang Menyentuh Hati

AKURAT.CO Misteri, Datang ke Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), rasanya kurang lengkap tanpa berfoto di depan Jembatan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera).

Jembatan megah ini, yang melintasi Sungai Musi Kota Palembang, bukan hanya sekadar simbol fisik, tapi juga menjadi saksi bisu dari perjuangan membangun dan mengatasi rintangan sepanjang sejarahnya.

Baca Juga: Misteri Jembatan Merah dan Jembatan Jiwan: Saksi Perjuangan dan Memiliki Kisah Mistis yang Terus Menghantui

Sejarah dan Karakteristik Jembatan Ampera

Jembatan Ampera, dengan panjang 1.177 meter, lebar 22 meter, dan tinggi 63 meter serta jarak antara menara sekitar 75 meter, tidak hanya merupakan karya arsitektur yang megah tetapi juga menandakan hubungan vital antara dua kawasan di Palembang, yaitu seberang ilir dan seberang ulu.

Pada awalnya, bagian tengah jembatan dapat diangkat untuk memberi jalur lewat bagi kapal-kapal besar.

Namun, sejak tahun 1970, aktivitas pengangkatan tersebut dihentikan karena dianggap mengganggu lalu lintas.

Pada tahun 1990, bandul pemberatnya dibongkar karena dianggap berpotensi membahayakan.

Jembatan ini menjadi kawasan yang menghubungkan dua sisi sungai, dipisahkan oleh Sungai Musi, dan pada masanya, menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara.

Ide pembangunan jembatan ini muncul sejak Gemeente Palembang pada tahun 1906, tetapi baru terwujud pada April 1962, dibangun dengan dana pampasan perang Jepang dan melibatkan tenaga ahli dari negara tersebut.

Baca Juga: Misteri di Atas Aliran: 10 Jembatan Paling Angker di Indonesia yang Menggetarkan dan Bikin Merinding

Perubahan Nama dari Bung Karno ke Ampera

Jembatan ini diresmikan pada 10 November 1965 oleh Gubernur Sumsel Brigjen Abujazid Bustomi.

Sebagai ucapan terima kasih kepada Presiden Soekarno, jembatan itu diberi nama Jembatan Bung Karno.

Namun, setelah pergolakan gerakan anti-Soekarno pada tahun 1966, nama jembatan diubah menjadi Jembatan Ampera, yang memiliki arti Amanat Penderitaan Rakyat hingga sekarang.

Sejak saat itu, Jembatan Ampera menjadi salah satu ikon Kota Palembang dan menyimpan sejarah perjuangan rakyat.

Kisah Mistis di Balik Megahnya Jembatan Ampera

Selain sejarahnya yang kaya, Jembatan Ampera juga dikelilingi oleh kisah mistis yang melekat kuat dalam budaya masyarakat Palembang.

Salah satu cerita yang paling terkenal adalah tentang Hantu Banyu.

Dikatakan bahwa hantu ini muncul dari permukaan air Sungai Musi, mencari korban di antara mereka yang sedang memancing atau berenang.

Wujud Hantu Banyu diyakini menyerupai manusia setengah siamang, dan cerita ini membuat banyak warga setempat berjaga-jaga ketika berada di sekitar sungai, terutama saat Azan Magrib berkumandang.

Legenda lain juga menyebutkan bahwa bila ikan-ikan mulai muncul di Sungai Musi setelah Azan Magrib, para pemancing harus segera menghentikan aktivitas mereka.

Kisah mistis ini menjadi bagian dari kekayaan budaya dan folklore di Palembang, menambahkan dimensi spiritual pada keindahan fisik Jembatan Ampera.

Baca Juga: Misteri Jejak Kelam G30S/PKI: Pemakaman Massal di Hutan Plumbon, Kota Semarang

Kepemilikan Jembatan Ampera dan Identitas Kota Palembang

Jembatan Ampera bukan hanya milik Palembang, tetapi menjadi bagian dari identitas kota ini.

Pembangunan jembatan ini sendiri memerlukan tekad dan keberanian pada masa lalu, terutama karena keterbatasan anggaran.

Berkat inisiatif dari DPRD Peralihan Kota Besar Palembang pada tahun 1956, pembangunan jembatan akhirnya dimulai pada April 1962.

Anggaran yang terbatas tidak menghentikan semangat untuk memiliki jembatan megah di atas Sungai Musi.

Peninggalan Pasca Jembatan Ampera

Setelah diresmikan pada tahun 1965, Jembatan Ampera bukan hanya mengubah panorama kota Palembang tetapi juga mempengaruhi pola perdagangan sungai.

Pasar Benteng menjadi bukti perubahan tersebut, di mana komunitas pedagang buah dan sayur yang sebelumnya berdagang di pasar apung Sungai Musi beralih menggunakan kendaraan darat.

Seiring waktu, Jembatan Ampera tetap berdiri sebagai simbol perubahan dan keberanian.

Kisah-kisah mistisnya menambah daya tarik dan keunikannya, menjadikannya tidak hanya sebagai tempat lalu lintas, tetapi juga sebagai cerminan sejarah, kepercayaan, dan kebudayaan masyarakat Palembang.

Baca Juga: Misteri 6 Kampung Mati di Indonesia: Wisata Horor yang Mendunia dan Penuh Mitos

Jembatan Ampera di Palembang bukan hanya sebatas struktur fisik yang menghubungkan dua sisi sungai, melainkan juga warisan sejarah, simbol perjuangan, dan tempat bersemi kisah-kisah mistis yang melibatkan masyarakat setempat.

Melintasi Sungai Musi, jembatan ini tetap menjadi landmark yang mencerminkan keberanian dan semangat perubahan.

Sehingga, ketika mengunjungi Palembang, jangan lewatkan kesempatan untuk berfoto di depan Jembatan Ampera, sambil merenungi jejak sejarah dan memahami makna di balik keindahan arsitekturnya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.