Jateng

Refleksi Overthinking: Mengapa Kita Sering Overthinking Jam 12 Malam? Ini Penjelasan Psikologisnya

Theo Adi Pratama | 13 Oktober 2026, 00:15 WIB
Refleksi Overthinking: Mengapa Kita Sering Overthinking Jam 12 Malam? Ini Penjelasan Psikologisnya
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Jam dua pagi, mata masih melek, dan otak malah sibuk memutar ulang kejadian memalukan lima tahun lalu. Ternyata bukan kamu saja yang begini—sains punya penjelasan mengapa kita jadi overthinking justru saat tengah malam.

Pukul 00.47. Kamu sudah berbaring satu jam lebih. HP sudah diletakkan di meja, lampu sudah dimatikan. Tapi otak malah bereaksi seperti baru saja minum tiga gelas kopi. Ada saja yang dipikirin: kenapa tadi ngomong begitu di rapat? Apakah keputusan pindah kerja tahun lalu salah? Kok temanmu belum bales chat—apa dia marah?

Ini bukan kamu saja. Ini fenomena yang dialami jutaan orang di seluruh dunia, dan para ilmuwan sudah lama mencoba memahami mengapa malam hari adalah waktu paling ramai di dalam kepala.

Ada Istilahnya: Mind After Midnight

Jamie Zeitzer, PhD, Wakil Direktur Pusat Ilmu Tidur dan Sirkadian Universitas Stanford, menyebut fenomena ini sebagai mind after midnight. Ketika kita terjaga pada malam hari, otak kita tidak bekerja seefektif biasanya. Ini karena malam secara biologis adalah jam untuk tidur, bukan untuk berpikir keras.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers berjudul "The Mind After Midnight: Nocturnal Wakefulness, Behavioral Dysregulation, and Psychopathology" menemukan bahwa terjaga di malam hari membuat emosi lebih negatif, kontrol diri melemah, serta sistem self-reward berubah—cenderung mencari kesenangan instan. Tidak heran kalau jam dua pagi kita tiba-tiba ingin binge-watching atau doomscrolling tanpa alasan jelas.

Kenapa Korteks Prefrontal "Tidur" Duluan?

Para ahli saraf menunjukkan pada dini hari, korteks prefrontal otak—bagian yang bertanggung jawab untuk berpikir rasional dan mengambil keputusan—mengurangi aktivitasnya. Sementara itu, amigdala, sistem alarm emosional kita, justru meningkat.

Hasilnya? Otak yang kurang logis dan lebih reaktif. Email yang lupa dibalas tiba-tiba terasa seperti kesalahan yang mengakhiri karier.

Komentar canggung yang kamu buat lima tahun lalu jadi alasan berakhirnya persahabatan. Menurut Psychology Today, otak menjadi "tidak bijaksana" saat tengah malam. Otak telah terprogram untuk rasa takut.

Ego Depletion: Energi Mental Habis Dipakai Seharian

Psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, menjelaskan ada tiga alasan psikologis mengapa malam jadi panggung utama pikiran berisik. Pertama, hilangnya stimulasi eksternal. Di siang hari, otak sibuk memproses jutaan informasi. Saat malam, suara bising itu hilang.

"Dalam keheningan, otak yang terbiasa bekerja tidak punya objek untuk diproses, sehingga ia mulai menggali ke dalam (introspeksi) secara berlebihan," papar Danti dikutip dari Kompas.com.

Kedua, penurunan pertahanan kognitif. Saat lelah, energi untuk melakukan self-regulation menurun.

"Pikiran yang biasanya bisa kita abaikan di jam 2 siang, mendadak terasa sangat nyata dan mengancam di jam 2 pagi," jelasnya.

Ketiga, ritme sirkadian dan suasana hati. Penelitian menunjukkan bahwa emosi negatif cenderung meningkat di titik terendah ritme sirkadian kita, yaitu di tengah malam hingga dini hari. Ini sisa mekanisme evolusi di mana kewaspadaan meningkat saat gelap untuk perlindungan diri.

Ruminasi: Saat Kamu Menginjak Gas Tapi Tidak Bergerak

Banyak orang mengira mereka sedang melakukan refleksi diri saat terjaga di malam hari. Padahal yang terjadi adalah ruminasi.

Refleksi berorientasi pada solusi—apa yang bisa saya pelajari? Ruminasi berorientasi pada masalah dan berulang—kenapa saya bodoh sekali?

"Ruminasi seperti menginjak gas di mobil yang sedang dalam posisi netral. Mesin meraung, tapi kamu tidak bergerak ke mana-mana," sambung Danti.

Susan Nolen-Hoeksema, psikolog yang mengembangkan Response Styles Theory, menjelaskan bahwa ruminasi adalah cara seseorang merespons emosi negatif dengan terus-menerus fokus pada perasaan itu, penyebabnya, dan konsekuensinya—tanpa mencari solusi.

Penelitian menunjukkan bahwa pikiran berulang di malam hari secara signifikan berkaitan dengan waktu tidur yang lebih lama, efisiensi tidur yang menurun, dan total waktu tidur yang berkurang. Ini menciptakan siklus yang menguatkan diri sendiri: semakin sering overthinking, semakin buruk tidurmu, dan semakin buruk tidurmu, semakin rentan kamu overthinking lagi.

Zeigarnik Effect: Utang Mental yang Menuntut Diselesaikan

Ada lagi konsep psikologi bernama Zeigarnik Effect. Otak manusia cenderung lebih mengingat tugas yang belum selesai atau masalah yang belum terpecahkan daripada yang sudah selesai. Malam hari adalah waktu di mana daftar "utang mental" ini muncul ke permukaan, menuntut penyelesaian yang sebenarnya tidak bisa dilakukan saat itu juga.

Itulah mengapa pekerjaan yang belum selesai, percakapan yang menggantung, atau konflik yang belum terselesaikan selalu terasa lebih berat saat kamu berbaring di kasur.

Revenge Bedtime Procrastination: Balas Dendam pada Hari yang Melelahkan

Satu lagi yang memperparah kondisi ini: revenge bedtime procrastination. Ini adalah fenomena psikologis di mana seseorang menunda tidur untuk mengambil kembali waktu yang merasa "dicuri" oleh kewajiban sepanjang hari.

Cleveland Clinic mendefinisikannya sebagai upaya mengambil kendali atas hidup dengan menggunakan waktu sebelum tidur untuk melakukan apa yang diinginkan—dengan mengorbankan istirahat yang cukup. Istilah ini pertama kali muncul pada 2020, merujuk pada kebiasaan begadang untuk mendapatkan kembali rasa kendali atas waktu luang.

Ironisnya, revenge bedtime procrastination justru memperburuk overthinking. Kamu begadang untuk me time, tapi yang kamu lakukan adalah scrolling media sosial yang memicu perbandingan diri dan kecemasan. Lingkaran setan pun berputar.

Tiga Cara Sederhana Menghentikan Overthinking Malam

Kabar baiknya, ada cara-cara praktis yang bisa kamu coba. Danti Wulan Manunggal dari Ibunda.id membagikan tiga cara mengatasi overthinking di malam hari:

1. Tulis dan Urutkan Kekhawatiran

Tuliskan apa pun kekhawatiranmu dengan pulpen dan kertas—hindari ponsel agar tidak membuka aplikasi lain. Setelah tertulis, tanyakan pada diri sendiri: "Bisakah saya menindaklanjutinya sekarang juga?" Jika ya dan kecil, lakukan. Jika ya tapi besar, catat langkah selanjutnya untuk besok. Jika tidak, lepaskan.

Puskesmas Kramat Jati juga merekomendasikan teknik ini, menyebutnya braindump—menuangkan semua kekhawatiran ke atas kertas. Tindakan fisik menulis membantu otak merasa bahwa masalah tersebut sudah "tersimpan" dengan aman dan tidak perlu dipikirkan lagi saat itu juga.

2. Arahkan Kembali Perhatianmu

Saat pikiran negatif berdatangan, cobalah mengatur napas. Hitung empat ketukan masuk dan empat ketukan keluar. Teknik pernapasan 4-7-8—tarik napas 4 detik, tahan 7 detik, buang 8 detik—juga terbukti efektif menenangkan sistem saraf.

3. Jauhkan Gadget Satu Jam Sebelum Tidur

Cahaya biru dari layar ponsel menstimulasi otak untuk tetap terjaga dan memberikan asupan informasi baru yang memicu kecemasan. Gantilah dengan membaca buku fisik atau mendengarkan musik relaksasi.

Satu Hal yang Perlu Kamu Ingat

Kalau setelah 20-30 menit berbaring kamu masih belum tidur, jangan memaksa. Bangunlah dari kasur. Pindah ke ruangan lain, lakukan sesuatu yang menenangkan, lalu kembali saat sudah mengantuk. Kasur bukan tempat untuk memaksa diri tidur. Kasur adalah tempat untuk tidur.

Dan yang terpenting: jangan melihat jam. Melihat jam saat tidak bisa tidur justru meningkatkan kecemasan dan membuat kamu semakin susah tidur.


Jadi, malam ini kalau otakmu mulai berisik, ingat: ini bukan salahmu. Ini korteks prefrontal yang sedang off-duty, amigdala yang terlalu bersemangat, dan ritme sirkadian yang sedang di titik terendah. Kamu hanya perlu memberi tubuhmu kesempatan untuk beristirahat—tanpa menghakimi diri sendiri. Selamat tidur, dan semoga malam ini lebih tenang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.