Dari Sewa Kontrakan sampai Internet: Hitung-hitungan Biaya Hidup Pasangan Baru Nikah di Semarang

JATENG.AKURAT.CO, UMK Semarang 2026 sebesar Rp3,7 juta terdengar lumayan, sampai kamu duduk bareng pasangan dan mulai menghitung pengeluaran bulanan yang ternyata bisa menggerus hampir seluruh gaji.
Malam Minggu, kamu dan pasangan duduk di meja makan kontrakan. Di depan, ada nasi goreng yang mulai dingin, dua gelas es teh, dan satu buku catatan yang penuh angka.
Kalian baru menikah tiga bulan lalu, dan malam ini adalah malam pertama kalian benar-benar menghitung pengeluaran bulanan. Hasilnya? Nasi goreng jadi terasa pahit.
Bulan madu memang sudah lewat. Yang tersisa sekarang adalah pertanyaan klasik yang bikin keringat dingin: cukup nggak gaji kita berdua untuk hidup di Semarang?
UMK Semarang 2026: Angka yang Terlihat Besar, Tapi...
Mari mulai dari angka resmi. UMK Kota Semarang 2026 ditetapkan sebesar Rp3.701.709 per bulan—tertinggi di Jawa Tengah. Kabupaten Semarang di posisi keempat dengan Rp2.940.088.
Angka Rp3,7 juta terdengar cukup, kan? Apalagi kalau kalian berdua kerja dan total pendapatan mencapai Rp7,4 juta. Tapi sebelum kalian mulai berfantasi soal liburan ke Bali, mari kita bedah pengeluarannya satu per satu.
Hitungan Pertama: Tempat Tinggal
Ini pos pengeluaran yang paling menyakitkan. Sewa kontrakan atau apartemen di Semarang sangat bervariasi tergantung lokasi.
Kalau kalian memilih kontrakan sederhana di area seperti Pedurungan, Tembalang, atau Ngaliyan, harga sewa bulanan berkisar Rp3 juta hingga Rp10 juta untuk rumah yang layak dihuni pasangan. Tapi angka itu untuk rumah yang lebih besar. Kalau kalian memilih apartemen studio di area Pemuda atau Simpang Lima, harganya mulai Rp3,5 juta per bulan untuk unit studio furnished, hingga Rp6,5 juta per bulan untuk unit yang lebih nyaman.
Kos untuk pasangan yang baru menikah juga bisa jadi opsi sementara, dengan harga Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan.
Realistisnya, pasangan muda biasanya memilih kontrakan Rp3 juta-Rp4 juta per bulan di area pinggiran seperti Tembalang atau Ngaliyan—dekat kampus, ada warung, dan akses transportasi umum.
Hitungan Kedua: Makan dan Belanja Harian
Ini pos yang bikin perut dan dompet sama-sama keroncongan. Berdasarkan data BPS, rata-rata pengeluaran kebutuhan pangan dan belanja harian di Semarang mencapai Rp826.314 per bulan per orang. Untuk pasangan, angkanya bisa membengkak jadi Rp1,6 juta.
Kalau kalian makan di warung mahasiswa—yang harganya sangat bersahabat—sekali makan bisa Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per orang. Kalau kalian berdua makan tiga kali sehari di luar, itu bisa Rp2,7 juta hingga Rp3,6 juta per bulan. Belum lagi jajan kopi, snack, atau mie instan tengah malam.
Nah, di sinilah seninya berumah tangga. Pasangan yang pintar akan memilih untuk memasak sendiri 4-5 kali seminggu dan makan di luar hanya sebagai "treat" akhir pekan. Dengan cara ini, pengeluaran makan bisa ditekan jadi Rp1,8 juta hingga Rp2,2 juta per bulan.
Hitungan Ketiga: Transportasi
Semarang punya BRT Trans Semarang yang tarifnya sangat terjangkau. Untuk pembayaran non-tunai, tarifnya hanya Rp3.500, sementara tunai Rp4.000.
Tapi realistisnya, pasangan muda di Semarang hampir selalu punya motor. Dan motor berarti bensin. Akbar Surya, seorang karyawan swasta di Semarang, mengaku bensin seminggu minimal Rp50 ribu—dan itu karena motornya termasuk irit.
Untuk pasangan dengan dua motor, biaya bensin bisa mencapai Rp400 ribu hingga Rp600 ribu per bulan. Belum lagi biaya servis rutin, pajak kendaraan yang harus dibayar tahunan, dan—ini yang paling ditakuti—biaya perbaikan mendadak seperti ban bocor atau rantai putus.
Hitungan Keempat: Listrik, Air, dan Internet
Tiga tagihan ini memang terlihat sepele satu per satu, tapi akumulasinya lumayan. Biaya listrik untuk rumah tangga kecil dengan alat elektronik standar (kulkas, AC, TV, rice cooker) berkisar Rp250 ribu hingga Rp400 ribu per bulan untuk penggunaan AC yang tidak berlebihan.
Untuk air PDAM, tarif rumah tangga golongan I di Semarang adalah Rp1.550 per meter kubik untuk 10 meter kubik pertama. Dengan konsumsi rata-rata rumah tangga kecil, tagihan air bulanan biasanya Rp50 ribu hingga Rp100 ribu.
Untuk internet, kalau kalian memilih Internet Rakyat dari Telkom, kalian bisa dapat kecepatan 100 Mbps unlimited dengan biaya Rp100 ribu per bulan. Kalau memilih IndiHome atau provider lain, harganya mulai Rp275 ribu per bulan untuk paket dasar.
Total untuk pos ini: Rp400 ribu hingga Rp700 ribu per bulan.
Hitungan Kelima: Kebutuhan Tak Terduga yang Selalu Datang
Ini pos yang sering dilupakan pasangan muda sampai akhirnya mereka kaget sendiri. Kebutuhan seperti obat saat sakit, sabun, sampo, deterjen, tisu, dan kebutuhan rumah tangga lainnya bisa mencapai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per bulan. Belum lagi kalau ada motor yang harus diservis, sepatu yang rusak, atau baju yang harus diganti.
Pengeluaran kesehatan di Semarang tercatat mengalami kenaikan, dengan indeks harga konsumen (IHK) kesehatan di level 103,31 pada April 2026. Artinya, biaya berobat atau beli obat juga naik.
Simulasi Anggaran: Pasangan dengan Total Gaji Rp7 Juta
Mari kita hitung dengan pendapatan gabungan Rp7 juta—angka yang cukup realistis untuk pasangan muda di mana keduanya bekerja dengan gaji UMK.
Pos Pengeluaran | Estimasi Bulanan |
|---|---|
Sewa kontrakan | Rp3.000.000 |
Makan & belanja | Rp2.000.000 |
Bensin & transportasi | Rp500.000 |
Listrik, air, internet | Rp550.000 |
Kebutuhan rumah tangga | Rp250.000 |
Total | Rp6.300.000 |
Sisa | Rp700.000 |
Sisa Rp700 ribu. Itu pun kalau tidak ada cicilan motor, asuransi kesehatan, atau kebutuhan mendadak. Kalau ada cicilan motor Rp500 ribu per bulan, sisa kalian tinggal Rp200 ribu. Itu setara dengan dua kali makan sushi atau satu kali servis motor.
Akbar: "Pengeluaran Harian Minimal Rp100 Ribu"
Kalau kamu merasa angka-angka di atas bikin sesak napas, kamu tidak sendirian. Akbar Surya, karyawan swasta di Semarang yang berpenghasilan Rp3,4 juta, mengungkapkan bahwa pengeluaran hariannya bersama istri mencapai Rp100 ribu, bahkan bisa lebih.
"Semurah-murahnya, pengeluaran harian itu Rp100 ribu," ujarnya.
Pengeluaran itu untuk makan dan transportasi—kebutuhan yang, menurut Akbar, sudah tidak bisa dinegosiasi lagi.
"Makan sudah tidak bisa dinego. Sekali makan kisaran Rp20.000, bisa kurang atau lebih bergantung makan apa," katanya.
Yang lebih berat: cicilan rumah Akbar menghabiskan sekitar tiga perempat gajinya. Untuk menutup kekurangan, Akbar bekerja sampingan sebagai freelancer, sementara istrinya juga bekerja.
"Uangku sebagian besar buat cicilan rumah dan kebutuhan sehari-hari. Kalau kurang, istriku yang back up. Kalau cukup, gaji istri baru bisa ditabung," tambahnya.
Cerita Akbar bukan kasus langka. Banyak pasangan muda di Semarang mengalami hal serupa. Bahkan Pemerintah Kota Semarang sendiri mengalokasikan anggaran untuk menutup iuran UHC bagi 98 ribu peserta nonaktif dengan hitungan sekitar Rp42 ribu per orang per bulan—artinya biaya kesehatan juga menjadi perhatian serius pemerintah.
Jadi, Berapa yang Dibutuhkan untuk Hidup "Nyaman" di Semarang?
Berdasarkan data dari Rumah123, estimasi biaya hidup per orang di Semarang adalah Rp3.612.266 per bulan (tidak termasuk cicilan properti). Untuk pasangan, angka itu menjadi sekitar Rp7,2 juta.
Kalau ditambah tabungan, dana darurat, dan sedikit hiburan akhir pekan, kalian butuh minimal Rp8 juta hingga Rp8,5 juta per bulan untuk hidup dengan tenang di Semarang.
Angka ini bisa lebih rendah kalau kalian memilih tinggal di area pinggiran, memasak sendiri, dan menggunakan transportasi umum. Bisa lebih tinggi kalau kalian memilih tinggal di pusat kota dan makan di luar setiap hari.
Tips Praktis untuk Pasangan Muda Semarang
Jangan gengsi dengan lokasi. Kontrakan di Tembalang atau Ngaliyan jauh lebih murah daripada di Simpang Lima. Selisih Rp2 juta per bulan bisa kalian alihkan ke tabungan atau dana darurat.
Belajar masak, bukan buat konten. Ini bukan soal estetika. Ini soal selamatkan dompet. Memasak 4-5 kali seminggu bisa menghemat Rp1 juta per bulan dibanding makan di luar setiap hari.
Manfaatkan BRT Trans Semarang. Rp3.500 per sekali jalan itu murah. Kalau kalian berdua bisa commuting dengan BRT, pengeluaran bensin bisa dipotong setengah.
Buka rekening tabungan bersama sejak awal. Pisahkan tabungan, dana darurat, dan kebutuhan harian. Sisihkan minimal 15 persen dari penghasilan untuk tabungan pernikahan atau dana darurat.
Jangan tunda bicara soal uang. Banyak pasangan muda menghindari topik ini karena takut ribut. Padahal, keterbukaan soal keuangan justru yang bikin rumah tangga lebih kuat.
Pasangan muda di Semarang hari ini memang sedang bermain di level yang tidak mudah. UMK Rp3,7 juta terdengar besar, tapi setelah dipotong sewa, makan, transportasi, dan tagihan, sisanya tipis. Tapi bukan berarti tidak bisa.
Dengan anggaran yang disiplin, sedikit kreativitas, dan yang paling penting: komunikasi terbuka soal uang, pasangan muda bisa hidup layak di Semarang—tanpa harus menunda mimpi punya rumah, atau setidaknya, tanpa harus mengorbankan nasi goreng malam Minggu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Drama VAR! Persib vs Dewa United, Maung Dibikin Geram! Penalti di Akhir Laga Tak Diberikan
- 2Prediksi Skor Deltras FC vs Persela Lamongan: Duel Sengit Perebutan Puncak Klasemen Pegadaian Championship 2026/27
- 3MotoGP Mandalika 2026: Acosta dan Marquez Saling Memberi Posisi demi Hindari Penalti
- 4Semarang Heritage Night Run 2026 Hadirkan Sensasi Lari Malam di Tengah Kekayaan Budaya Kota Lama
- 5Polda Jateng bersama BNN dan POM Lakukan Operasi Sarang Narkoba Serentak, Ribuan Pil Diamankan
- 6Ofero Ride Fest 2026 Hadir di Semarang, Kenalkan Motor Listrik Carria 1 dengan Jarak Tempuh 130 Kilometer
- 7Kapan Balapan F1 Berikutnya? GP Amerika Serikat 2026 di Austin, Ini Jadwal Lengkapnya
- 8Garmin Enduro 4 Resmi Meluncur, Baterai Tahan hingga 90 Hari dan Bazel Titanium
- 9Dell XPS 16 RTX Spark Resmi Dijual, Harga Tembus Rp60 Jutaan dan Lebih Mahal dari Asus ProArt P16
- 10Dua Anak Terduga Perundung Aqib di Pemalang Dititipkan ke LPKS Selama Enam Bulan




