Jateng

Modal Rp500 Ribu, Omzet Rp1 Juta: Bisnis Kue Basah Subuh yang Tak Pernah Mati

Theo Adi Pratama | 13 Oktober 2026, 06:00 WIB
Modal Rp500 Ribu, Omzet Rp1 Juta: Bisnis Kue Basah Subuh yang Tak Pernah Mati
Foto Ilustrasi - Generated by ChatGPT

JATENG.AKURAT.CO, Sebelum matahari terbit dan kota masih gelap, dapur-dapur kecil di Semarang sudah berasap. Di sinilah bisnis kue basah subuh berjalan tanpa sorotan, tapi tak pernah benar-benar mati.

Jam tiga pagi di Semarang. Suara lesung dan kukusan mulai terdengar dari dapur-dapur rumah di gang-gang sempit. Di atas kompor, air mendidih.

Di atas meja, adonan tepung beras, santan, dan gula aren sudah siap dibentuk. Di luar, langit masih gelap, dan kota belum benar-benar bangun.

Tapi di sini, di dapur-dapur kecil ini, hari sudah dimulai sejak jauh sebelum azan subuh.

Ini bukan dapur pabrik. Ini bukan industri besar dengan mesin dan conveyor. Ini adalah dapur rumah—dapur ibu-ibu yang memulai usahanya dari hobi, dari resep warisan ibu, atau dari kepepet ekonomi.

Mereka membuat kue basah: talam, nona manis, semar mendem, pastel, risoles, lapis, dan puluhan varian lainnya. Lalu sebelum matahari terbit, kue-kue itu diletakkan di atas nampan, dibungkus plastik, dan dititipkan ke bakul-bakul di pasar atau di pinggir jalan.

Bisnis kue basah subuh. Usaha rumahan yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu, dan entah kenapa, tetap bertahan sampai sekarang.

Hera dan “Jajanan Subuh” dari Semarang

Salah satu nama yang sudah cukup lama menggeluti bisnis ini adalah Dwi Herawati, atau yang akrab disapa Hera. Ia memulai usaha jajanannya pada tahun 2014 dengan sistem repacking—menjual ulang produk orang lain dengan kemasan sendiri.

“Berjalannya waktu kok saya berpikir untuk membuat produk sendiri, karena rasanya lebih marem dan bisa mengatur menunya,” ujar Hera dalam dialog Prigel “Kiprah UMKM” Pro4 RRI Semarang, seperti dikutip dari RRI.co.id.

Hera menyebut produknya sebagai “jajanan subuh” karena target pasarnya adalah pelanggan pagi hari—pekerja yang berangkat pagi, anak sekolah, dan siapa pun yang butuh sarapan cepat. Produknya beragam: pastel aneka isi, kue talam, nona manis, dan semar mendem. Untuk distribusi, ia menitipkan produknya ke 10 bakul di sekitar rumahnya. Ia juga menerima pesanan snack box untuk pengajian, arisan, dan rapat kantor.

“Pastel buatan saya semuanya ini adalah buatan tangan, karena kalau pakai cetakan bentuk kepangannya kurang bagus,” tambah Hera. Proses paling rumit? Saat memilin kepangan pastel supaya bentuknya estetik.

Modal Kecil, Laba Tipis, Tapi Pasti

Salah satu alasan bisnis ini tidak pernah mati adalah karena modalnya kecil. Liputan6 mencatat bahwa untuk memulai usaha kue basah rumahan, modal awal berkisar Rp500 ribu hingga Rp1 juta—cukup untuk bahan baku gelombang pertama dan kemasan plastik. Untuk satu buah lemper ayam, biaya produksinya sekitar Rp2.000, dijual ke pedagang Rp3.000, dan laba bersihnya Rp1.000 per buah.

Kue lapis lebih murah lagi: biaya produksi Rp1.500 per mika, dijual ke warung Rp2.500, dan harga eceran tertinggi Rp3.000. Risoles sayur: modal Rp1.200 per buah, dijual Rp2.200, laba Rp1.000.

Tapi laba tipis ini bukan berarti tidak menguntungkan. Apna Leni, pemilik Jajanan Ama yang sudah beroperasi sejak 2012, mengungkapkan bahwa omzetnya berkisar Rp700 ribu hingga Rp1 juta per bulan dalam kondisi normal. Ia menjual risoles, donat, pastel, dan menerima pesanan snack box untuk acara kecil maupun besar.

“Ibu jual kue basah seperti risolles, donat, pastel, dan yang lain-lainnya. Ibu juga bisa menyediakan snack box untuk acara kecil maupun besar,” ujarnya, dikutip dari RRI.co.id.

Bandingkan dengan Dian Lukitosari, pemilik Lucky Snack Pastry di Semarang. Ia mengaku omzet harian normalnya sekitar Rp2 juta per bulan, tapi saat Ramadan bisa melonjak hingga Rp16 juta. Bahkan, ia sempat menolak pesanan kue basah dan snack karena kewalahan memenuhi pesanan kue kering.

Sistem Titip Jual: Distribusi Tanpa Sewa Tempat

Salah satu kunci bertahannya bisnis ini adalah sistem konsinyasi atau titip jual. Pelaku usaha menitipkan produknya ke pedagang pasar, warung, atau bakul. Bagi hasilnya berkisar 10 hingga 15 persen dari harga jual untuk setiap buah yang laku.

Metode ini memotong biaya sewa tempat dan menghemat waktu pemasaran. Pelaku usaha cukup mengantar produk sebelum subuh, lalu kembali sore atau keesokan harinya untuk mengambil uang hasil penjualan dan sisa produk yang tidak laku.

Hera dari A Leaf juga menggunakan sistem ini. Ia menitipkan produknya ke 10 bakul, dan juga menerima pesanan langsung untuk acara-acara seperti pengajian dan arisan. Untuk produk yang sudah dikemas lebih proper, ia menjualnya ke toko atau outlet.

Bertahan Melintasi Zaman: Dari Tradisi ke Inovasi

Kalau kita lihat lebih luas, bisnis kue basah bukan cuma soal ekonomi. Ia juga soal tradisi. Di Jatinom, Klaten, Aji memulai usaha apem harian pada 2017 setelah berpikir: “Di Jatinom itu pasti ada apem. Kenapa kita tidak berpikir untuk bisa dikonsumsi setiap hari?”

Apem yang dulu hanya muncul saat tradisi Saparan, kini bisa dinikmati setiap hari. Aji bahkan menghadirkan varian rasa kekinian: cokelat, keju, nangka, pandan, hingga tiramisu. Semangatnya menular ke warga sekitar—kini tercatat lebih dari 30 UMKM serupa berjejer di sepanjang jalan Jatinom.

Di Semarang, Yuta Endang Pujiastuti, pemilik Semprong Yuta, juga membuktikan hal yang sama. Ia memulai usaha semprong dari ketidaksengajaan, lalu berhenti, dan baru benar-benar serius pada 2018 setelah masuk komunitas UMKM. Kini produknya menembus pasar internasional.

Kenapa Kue Basah Subuh Tak Pernah Mati?

Ada beberapa alasan sederhana:

  • Selalu ada permintaan. Kue basah dikonsumsi oleh hampir semua lapisan usia, untuk sarapan maupun acara. Pergerakan pasarnya tetap tinggi dari tahun ke tahun.

  • Modal kecil, risiko rendah. Tidak butuh tempat usaha, tidak butuh karyawan, tidak butuh mesin mahal. Cukup dapur rumah dan kemauan.

  • Sistem titip jual. Distribusi tanpa sewa tempat membuat biaya operasional sangat rendah.

  • Komunitas dan pembinaan. Banyak pelaku UMKM kue basah yang tumbuh berkat pendampingan, pelatihan, dan akses permodalan—seperti yang dialami Ibu Murni, yang memulai dari pinjaman Rp2 juta dan kini usahanya berkembang dengan NIB dan sertifikasi halal.

  • Inovasi rasa dan kemasan. Dari apem tiramisu sampai pastel abon mini bersertifikat halal, pelaku usaha terus beradaptasi dengan selera zaman.


Malam ini, kalau kamu melewati gang-gang Semarang dan melihat lampu dapur yang masih menyala jam tiga pagi, itu bukan insomnia.

Itu adalah dapur-dapur kue basah subuh—usaha rumahan yang tak pernah mati, tak pernah minta sorotan, tapi selalu ada di meja sarapan kita.

Dari tangan-tangan terampil itu, kota ini belajar satu hal: bahwa bisnis yang bertahan bukan selalu yang paling besar, tapi yang paling dekat dengan kebutuhan orang banyak.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.