Jateng

Belanja di Pasar Tradisional Semarang Kini Tinggal Scan! Ini Daftar QRIS UMKM dan Tipsnya

Theo Adi Pratama | 13 Oktober 2026, 05:00 WIB
Belanja di Pasar Tradisional Semarang Kini Tinggal Scan! Ini Daftar QRIS UMKM dan Tipsnya

JATENG.AKURAT.CO, Mulai 2026, pedagang di 52 pasar tradisional Semarang nggak perlu lagi ribet cari uang kembalian, karena semua transaksi retribusi hingga jual beli di lapak sudah bisa diselesaikan cuma dengan scan QRIS dari ponsel.

Pagi hari di Pasar Johar. Bau rempah dan sayuran segar bercampur jadi satu, teriakan pedagang menawarkan dagangan, dan suara timbangan yang beradu. Tapi ada satu pemandangan baru yang mulai akrab di mata: papan kecil berisi kode QR yang berdiri di samping tumpukan tempe, cabai, atau kain batik.

Kalau dulu bayar belanjaan di pasar berarti harus menyiapkan uang pas dan berharap pedagang punya kembalian, sekarang cukup keluarkan ponsel, buka aplikasi e-wallet atau m-banking, scan, dan beres. Uang receh yang biasanya bikin dompet menonjol dan saku penuh koin kini perlahan tergantikan oleh satu kode yang bisa menerima pembayaran dari semua aplikasi.

Jurus Pemkot Semarang: Semua Retribusi Wajib Digital Mulai 2026

Pemerintah Kota Semarang nggak main-main soal digitalisasi pasar. Mulai 2026, seluruh pembayaran retribusi pasar dan pedagang kaki lima (PKL) di bawah Dinas Perdagangan Kota Semarang wajib dilakukan secara digital, baik melalui autodebit maupun QRIS.

Plt Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Aniceto Magno Da Silva, yang akrab disapa Amoy, menjelaskan bahwa sistem tunai selama ini membuat aliran retribusi tidak seluruhnya tercatat masuk kas daerah. Dengan QRIS dan autodebit, dana retribusi langsung masuk ke bank pemerintah tanpa perantara juru pungut.

"Ke depan tidak ada lagi juru pungut yang bertemu langsung dengan pedagang. Semua harus melalui autodebit atau minimal QRIS. Uangnya langsung masuk ke bank, bukan ke kantong siapa pun," tegasnya.

Tarif retribusi sendiri ditetapkan senilai Rp800 per meter persegi per hari, naik dari sebelumnya Rp400 per meter. Meski naik, Amoy menegaskan bahwa penyesuaian ini bukan kebijakan baru, melainkan pelaksanaan aturan yang telah lama disahkan melalui Peraturan Daerah Kota Semarang No. 4 Tahun 2025.

Pasar Johar dan Pasar Bulu: Pelopor Digitalisasi

Di Pasar Johar, pedagang sudah mulai adaptif dengan QRIS. Dona, seorang pedagang pakaian di Pasar Johar, mengaku sudah beberapa tahun difasilitasi sistem pembayaran digital ini.

"Sangat membantu dalam berjualan, dalam transaksi ya. Sekarang orang mulai banyak pakai gadget ketimbang uang tunai," ujar Dona.

Yang paling ia rasakan manfaatnya adalah soal uang kembalian. "Saya jadi gak ribet gak ada pecahan Rp1 ribu, atau Rp2 ribu. Lebih enak pakai QRIS itu misalnya ada kembalian, ya tidak bingung mencarinya," katanya.

Pasar Bulu bahkan lebih dulu mengimplementasikan konsep pasar digital. Sejak Oktober 2021, Pasar Bulu sudah menjadi pilot project digitalisasi pasar rakyat, dengan 339 pedagang yang telah memiliki QRIS saat itu.

Bank Indonesia Jateng: MDR 0% Bikin Pedagang Tenang

Kekhawatiran terbesar pedagang saat harus beralih ke QRIS biasanya soal potongan biaya transaksi atau Merchant Discount Rate (MDR). Kalau jualan cuma untung seribu dua ribu perak tapi masih kena potongan, tentu bikin keluhan.

Bank Indonesia sudah mengantisipasi ini. Sejak 1 Desember 2024, MDR ditetapkan 0% untuk transaksi hingga Rp500 ribu bagi pedagang Usaha Mikro. Kebijakan ini diperluas lagi per 1 Oktober 2026, di mana transaksi hingga Rp100 ribu dibebaskan dari biaya MDR, sekaligus melanjutkan fasilitas 0% bagi usaha mikro hingga Rp500 ribu.

Deputi Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah, Nita Rachmenia, menegaskan bahwa biaya layanan QRIS (MDR) tidak boleh dibebankan kepada pembeli.

"Ini salah satu bentuk keberpihakan kami BI untuk bisa menjadikan QRIS ini menjadi salah satu kanal pembayaran inklusif yang bisa digunakan oleh berbagai lapisan dan kelompok masyarakat," ujarnya.

Data Terkini: Semarang Motor Utama QRIS di Jateng

Angka-angka bicara sendiri. Hingga triwulan I 2026, jumlah merchant QRIS di Jawa Tengah mencapai 2,1 juta merchant, tumbuh 10,94% year-on-year. Secara spasial, Kota Semarang menempati peringkat pertama untuk jumlah merchant QRIS terbanyak se-Jawa Tengah, diikuti Surakarta dan Banyumas.

Volume transaksi QRIS di Jateng pada triwulan I 2026 mencapai 436 juta transaksi, tumbuh 107% year-on-year. Dari jumlah tersebut, 65,49% volume transaksi dan 62,49% nominal transaksi berasal dari Kota Semarang.

Data ini menunjukkan bahwa Semarang bukan cuma ibu kota Jawa Tengah, tapi juga ibu kota digitalisasi pembayaran di provinsi ini.

Tantangan: Bukan soal Teknologi, Tapi Kebiasaan

Meski secara angka terlihat menjanjikan, digitalisasi pasar tradisional bukan tanpa tantangan. Kompasiana dalam artikelnya menulis bahwa tantangan terbesar bukan pada penyediaan kode QR, melainkan pada perubahan budaya bertransaksi.

Komisi B DPRD Kota Semarang pun menyoroti hal serupa. Mereka menilai bahwa tidak semua PKL terbiasa menggunakan autodebit atau QRIS, sehingga perlu ada pendampingan agar mereka nyaman dengan sistem baru.

Di sisi lain, pengunjung pasar yang lebih muda justru menyambut baik. Seorang pengunjung Pasar Ramadan Aloon-Aloon Masjid Agung Semarang, Anto, mengaku terbiasa bertransaksi digital.

"Dari dulu saya nggak bawa uang cash, pakai digital. Lebih praktis, nggak perlu keluar duit," ujarnya.

Daftar Pasar dan Sentra UMKM yang Sudah Mendukung QRIS di Semarang

Kalau kamu ingin mulai membiasakan diri bayar dengan QRIS di pasar tradisional, berikut beberapa lokasi yang sudah terfasilitasi:

  • Pasar Johar – Salah satu pasar paling ikonik di Semarang, dengan pedagang pakaian dan batik yang sudah menerima QRIS.

  • Pasar Bulu – Pelopor pasar digital di Semarang, dengan 339 pedagang ber-QRIS.

  • Pasar Peterongan – Bekerja sama dengan LinkAja, dengan 65 merchant yang telah menerima QRIS.

  • Sentra Kuliner Kauman – Area kuliner di Aloon-Aloon Johar yang menerima pembayaran QRIS.

  • Pasar Ramadan Aloon-Aloon MAS – 64 UMKM yang berpartisipasi dan sudah difasilitasi QRIS oleh BRI.

  • 52 pasar tradisional di bawah Dinas Perdagangan Kota Semarang yang secara bertahap beralih ke sistem pembayaran digital.

Tips Belanja di Pasar dengan QRIS

Kalau kamu masih baru dengan kebiasaan ini, beberapa tips sederhana:

  • Pastikan saldo e-wallet atau m-banking cukup. Cek sebelum berangkat, jangan sampai sudah di depan lapak baru sadar saldo kurang.

  • Screenshot kode QRIS setelah berhasil bayar. Sebagai bukti transaksi kalau ada kendala.

  • Jangan ragu tanya ke pedagang. Kalau kode QR-nya belum terlihat, tanya baik-baik—banyak pedagang baru mulai dan senang kalau ada yang mau pakai QRIS.

  • Verifikasi nama merchant di layar ponselmu sebelum konfirmasi. Pastikan nama pedagang atau lapak yang muncul sesuai dengan tempat kamu belanja.

  • Simpan struk digital. Beberapa aplikasi menyediakan riwayat transaksi yang bisa jadi bukti kalau ada masalah.


Pagi ini, di Pasar Johar atau Pasar Bulu, kamu bisa belanja sayur, tempe, dan kain batik tanpa harus menyiapkan uang receh.

Cukup satu ponsel, satu scan, dan transaksi selesai. Uang tunai memang belum sepenuhnya hilang—masih ada yang lebih nyaman dengan lembaran kertas—tapi arahnya sudah jelas: pasar tradisional Semarang sedang naik kelas, dan QRIS adalah tiket masuknya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.